Warga Jakarta yang rindu menyantap masakan khas Semarang, silakan bertandang ke Waroeng Eddi di Jalan Pesanggrahan Raya,
Jakarta Barat. Eddi sang pemilik, mencoba memikat pelanggannya dengan bekal loyalitas kuliner primordial
khas daerah. Tersedia sekitar 60 jenis menu lezat dengan harga terjangkau.
![]() |
| Menu rumahan di kampung dilupakan, di kota banyak diincar orang kaya. |
Suasana khas segera terasa begitu memasuki resto
sederhana ini. Deretan
foto menu masakan yang ditempel pada setiap dinding seolah membawa pengunjung ke daerah asal mereka, Semarang. Di antaranya, Tahu Gimbal Udang, Nasi Liwet, Nasi Goreng Babat,
Ayam Goreng ala Semarang, Nasi Koyor, Bistik Galantin, Babat / Usus Gongso,
Asem-asem Daging, Lumpia, dan Tahu Petis. Tak ketinggalan, di sudut dinding
terpampang beberapa testimonial para selebritas yang pernah
mengunjungi Waroeng Eddi.
“Dulu, makanan khas Semarang masih sulit ditemui di
Jakarta. Pengalaman itu yang akhirnya memantapkan saya untuk menekuni usaha kuliner ini,” kata Eddi.
Untuk mempertahankan rasa aslinya, semua
bahan baku sengaja didatangkan langsung dari Semarang. “Mulai
dari rebung untuk lumpia, babat sapi untuk nasi goreng, hingga kecap manis
tulen Semarang cap Miramar, saya datangkan
setiap seminggunya. Maklum, bahan-bahan
seperti itu sangat sulit ditemui di Jakarta. Kalaupun ada kualitasnya kurang
bagus,” kata pria yang selalu menyapa para pembeli dengan logat Jawa Semarangan ini.
Lumpia Semarang - sate
Ungaran
Jaminan rasa, adalah janji Eddi yang dijual kepada para
pelangannya. Ia tak pernah setengah-setengah dalam menyajikan setiap masakan
olahannya. Meskipun belum bisa dikatakan 100 persen tulen, namun soal rasa dijamin sama
dengan masakan sejenis di kota aslinya.
Sebut saja Tahu Gimbal, yang kondang
di
kawasan Simpang Lima Semarang ini, menjadi salah satu favorit pengunjung. Menu ini berupa tahu pong goreng, berisi gimbal
udang, telur ceplok, dan campuran sayur seperti kol dan taoge. Rasanya nikmat
saat disantap bersama siraman bumbu kacang, dan campuran saus kecap petis encer.
Cukup dengan merogoh kocek Rp 15.000/porsi Anda sudah bisa menikmatinya.
Begitu pula Lumpia
Semarang. Meskipun bentuknya agak langsing dari lumpia dari kota asal, cara penyajiannya tetap sama. Usai digoreng,
lumpia disajikan panas lengkap dengan acar mentimun dan saus kental
kecokelatan. Tekstur kulitnya begitu renyah. Sangat klop dengan isian rebung,
udang dan orak-arik telur yang begitu gurih. Satu buah lumpia, harganya Rp
5.000. “Sengaja harga buat terjangkau, agar para pelanggan
dari karyawan kantoran tidak takut makan di sini,” ujarnya.
Dari keenam-puluh menu yang ia tawarkan, Sate
Ungaran dan Petis Kangkung adalah produk terbarunya. “Sate Ungaran
di sini dagingnya sangat empuk dan lembut. Ini adalah pengembangan dari menu
sebelumnya,” lanjut Eddi.
Menemani menu lezat tersebut, pengunjung juga bisa
memesan minuman Es Sari Asam atau Es Campur Gang Lombok, yang berisi cincau, kolang-kaling, kelapa muda, dan nanas, berpadu
dengan serutan es dan siraman sirup merah aseli Semarang.
“Sari Asam ini buatan saya sendiri.
Dibuat dari asam dan gula Jawa yang direbus lalu disaring,” ujar alumnus
fakultas
ekonomi UNDIP
ini berpromosi. “Omzet
dari makanan khas Semarang dan sate Ungaran
sekitar Rp 4 juta/hari,”
tambahnya.
Sempat berpindah tempat
Sedikit mengenang, usaha kuliner ini didirikan Eddi setelah ia melepas pekerjaannya sebagai karyawan
swasta tahun 2005. Modal awal yang dikeluarkan sekitar Rp 100 juta. “Waktu
itu saya harus menyewa tempat, membeli peralatan, dan mobil untuk transportasi,”
ungkapnya. Awalnya ia memilih lokasi usaha di ITC Kuningan.
Namun karena kurang bergairah, Eddi memutuskan pindah ke Jalan Panjang, Jakarta
Barat. sayangnya, pembangunan halte busway tahun 2007, berdampak pada omset penjualannya.
Tak ingin merugi kedua kalinya, Eddi
langsung bertindak cepat mencari tempat baru hingga akhirnya menemukan tempat
yang cocok di Jalan Raya Peesanggrahan ini. “Waroeng Eddi adalah rumah makan
khas Semarang yang komplit dan halal,” tegasnya. Meskipun sering mengalami
jatuh bangun, ia yakin prospek bisnis makanan khas daerah akan berkembang jika dijalankan
dengan konsisten dan tetap menjaga keaslian dari makanan daerah itu sendiri. Selamat mencoba.

No comments:
Post a Comment