Waroeng Eddi: Soal Rasa Dijamin Sama Dengan Aslinya - KABAR BISNIS MU

KABAR BISNIS MU

Bisnis adalah kegiatan manusia yang bertujuan untuk menghasilkan uang dengan memproduksi dan menjual suatu produk, baik itu barang atau jasa. KABAR BISNISMU memberikan segudang informasi tentang peluang usaha, bisnis,kuliner,tehnologi dan berita berita terbaru

Breaking

Tuesday, January 22, 2019

Waroeng Eddi: Soal Rasa Dijamin Sama Dengan Aslinya

Warga Jakarta yang rindu menyantap masakan khas Semarang, silakan bertandang ke Waroeng Eddi  di Jalan Pesanggrahan Raya, Jakarta Barat. Eddi sang pemilik, mencoba memikat pelanggannya dengan bekal loyalitas kuliner primordial khas daerah. Tersedia sekitar 60 jenis menu lezat dengan harga terjangkau.

Menu rumahan di kampung dilupakan, di kota banyak diincar orang kaya.
Suasana khas segera terasa begitu memasuki resto sederhana ini. Deretan foto menu masakan yang ditempel pada setiap dinding seolah membawa pengunjung ke daerah asal mereka, Semarang. Di antaranya, Tahu Gimbal Udang, Nasi Liwet, Nasi Goreng Babat, Ayam Goreng ala Semarang, Nasi Koyor, Bistik Galantin, Babat / Usus Gongso, Asem-asem Daging, Lumpia, dan Tahu Petis. Tak ketinggalan, di sudut dinding terpampang beberapa testimonial para selebritas yang pernah mengunjungi Waroeng Eddi.

“Dulu, makanan khas Semarang masih sulit ditemui di Jakarta. Pengalaman itu yang akhirnya memantapkan saya untuk menekuni usaha kuliner ini,”  kata Eddi.

Untuk mempertahankan rasa aslinya, semua bahan baku sengaja didatangkan langsung dari Semarang. “Mulai dari rebung untuk lumpia, babat sapi untuk nasi goreng, hingga kecap manis tulen Semarang cap Miramar, saya datangkan setiap seminggunya. Maklum, bahan-bahan seperti itu sangat sulit ditemui di Jakarta. Kalaupun ada kualitasnya kurang bagus,” kata pria yang selalu menyapa para pembeli dengan logat Jawa  Semarangan ini.

Lumpia Semarang -  sate Ungaran

Jaminan rasa, adalah janji Eddi yang dijual kepada para pelangannya. Ia tak pernah setengah-setengah dalam menyajikan setiap masakan olahannya. Meskipun belum bisa dikatakan 100 persen tulen, namun soal rasa dijamin sama dengan masakan sejenis di kota aslinya.

Sebut saja Tahu Gimbal, yang kondang di kawasan Simpang Lima Semarang ini, menjadi salah satu favorit pengunjung.  Menu ini berupa tahu pong goreng, berisi gimbal udang, telur ceplok, dan campuran sayur seperti kol dan taoge. Rasanya nikmat saat disantap bersama siraman bumbu kacang, dan campuran saus kecap petis encer. Cukup dengan merogoh kocek Rp 15.000/porsi  Anda sudah bisa menikmatinya.

Begitu pula Lumpia Semarang. Meskipun bentuknya agak langsing dari lumpia dari kota asal, cara penyajiannya tetap sama. Usai digoreng, lumpia disajikan panas lengkap dengan acar mentimun dan saus kental kecokelatan. Tekstur kulitnya begitu renyah. Sangat klop dengan isian rebung, udang dan orak-arik telur yang begitu gurih. Satu buah lumpia, harganya Rp 5.000. “Sengaja harga buat terjangkau, agar para pelanggan dari karyawan kantoran tidak takut makan di sini,” ujarnya.

Dari keenam-puluh menu yang ia tawarkan, Sate Ungaran dan Petis Kangkung adalah produk terbarunya. “Sate Ungaran di sini dagingnya sangat empuk dan lembut. Ini adalah pengembangan dari menu sebelumnya,” lanjut Eddi.

Menemani menu lezat tersebut, pengunjung juga bisa memesan minuman Es Sari Asam atau Es Campur Gang Lombok, yang berisi cincau, kolang-kaling, kelapa muda, dan nanas, berpadu dengan serutan es dan siraman sirup merah aseli Semarang. “Sari Asam ini  buatan saya sendiri. Dibuat dari asam dan gula Jawa yang direbus lalu disaring,” ujar alumnus  fakultas ekonomi UNDIP ini berpromosi.  Omzet dari makanan khas Semarang dan sate Ungaran sekitar Rp 4 juta/hari,” tambahnya.

Sempat berpindah tempat

Sedikit mengenang, usaha kuliner ini didirikan Eddi setelah ia melepas pekerjaannya sebagai karyawan swasta tahun 2005. Modal awal yang dikeluarkan sekitar Rp 100 juta. “Waktu itu saya harus menyewa tempat, membeli peralatan, dan mobil untuk transportasi,” ungkapnya. Awalnya ia memilih lokasi usaha di ITC Kuningan. Namun karena kurang bergairah, Eddi memutuskan pindah ke Jalan Panjang, Jakarta Barat. sayangnya, pembangunan halte busway tahun 2007, berdampak pada omset penjualannya.

Tak ingin merugi kedua kalinya, Eddi langsung bertindak cepat mencari tempat baru hingga akhirnya menemukan tempat yang cocok di Jalan Raya Peesanggrahan ini. “Waroeng Eddi adalah rumah makan khas Semarang yang komplit dan halal,” tegasnya. Meskipun sering mengalami jatuh bangun, ia yakin prospek bisnis makanan khas daerah akan berkembang jika dijalankan dengan konsisten dan tetap menjaga  keaslian dari makanan daerah itu sendiri. Selamat mencoba.

No comments:

Post a Comment