Usaha Mebel Bocah: Andalkan On-line Marketing, Bidik Kelas Menengah - KABAR BISNIS MU

KABAR BISNIS MU

Bisnis adalah kegiatan manusia yang bertujuan untuk menghasilkan uang dengan memproduksi dan menjual suatu produk, baik itu barang atau jasa. KABAR BISNISMU memberikan segudang informasi tentang peluang usaha, bisnis,kuliner,tehnologi dan berita berita terbaru

Breaking

Tuesday, January 22, 2019

Usaha Mebel Bocah: Andalkan On-line Marketing, Bidik Kelas Menengah

Yakin dengan potensi pasar yang demikian besar,  Achmad  Zainuddin (36) dari Jepara berani  berbisnis mebel khusus untuk anak-anak nyaris dengan modal dengkul.  Berkat pinjaman  permodalan dari BRI usahanya kini semakin berkembang. Omzetnya mencapai Rp 125 juta/ bulan, dan mampu menghidupi 11 karyawan. 

 
Salah satu produk mebel untuk anak.
Rasa sayang kepada anak membuat para orang tua  tua rela menyisihkan dana khusus untuk memenuhi kebutuhan putra-putrinya. Peluang inilah yang ditangkap Achmad Zainuddin. Bekal pengalaman lebih dari 10 tahun bekerja di bidang permebelan, membuatnya percaya diri membuka usaha secara mandiri.

Diakui  Zainuddin, sejak empat tahun terakhir permintaan mebel khusus untuk anak semakin meningkat. Mulai dari ranjang, aneka rak, meja belajar, sofa, ataupun lemari dengan nuansa anak-anak makin diburu. "Awalnya saya bermain di mebel umum, tapi sejak pertengahan 2010 saya fokus menggarap mebel khusus anak. Saya melihat usaha mebel anak di Jepara masih jarang, apalagi dengan desain bernuansa full anak. Pasar yang luar biasa membuat saya yakin bisnis mebel anak sangat potensial," aku  pria yang akrab disapa Jay ini.

Perkembangan bisnis Jay tak lepas dari campur tangan lembaga Pusat Penelitian Kehutanan Antarbangsa / Center for International Forestry Research (CIFOR). “Untuk menampung aspirasi dari para pengrajin kecil, CIFOR membuatkan  wadah yang diberi nama Asosiasi Pengrajin Kecil Jepara (APKJ). Dalam hal permodalan pun, kami dikenalkan dengan program Kredit Usaha rakyat, BRI. CIFOR yang menjembatani antara pengrajin dengan pihak bank,” terangnya.

“Alhamdulillah, meskipun sempat menunggu selama dua tahun, akhirnya pinjaman sebesar Rp 50 juta cair  awal tahun 2012. Tim BRI yang terdahulu begitu mempersulit saya. Begitu ada pergantian pengurus, barulah saya ajukan lagi kepada tim yang baru. Dalam waktu dua minggu pinjaman langsung cair dan saya gunakan untuk mengembangkan usaha,” ujar Jay.

Untuk membantu menyediakan kayu jati, CIFOR juga bekerjasama dengan Perhutani lewat program One Man One Tree. Sebagai bentuk tanggungjawab setiap pengrajin diwajibkan menanam Bibit Jati Nusantara (JUN) di pekarangan rumahnya.

Dalam memasarkan produknya Jay mengandalkan media online. Terbukti cara ini   lebih efektif ketimbang menitipkan barang jadi di toko-toko mebel di Jakarta. "Segmen pasar produk ini  kan rata-rata menengah atas dan ibu-ibu muda. Mereka biasa mengandalkan internet untuk mencari informasi," katanya. Apalagi, kebanyakan konsumen yang membutuhkan mebel anak berada di kota besar. Namun sebagai penjual, Jay memang harus menampilkan contoh karyanya untuk memberikan gambaran pada calon pembeli. Mencantumkan nomor kontak dan alamat jelas juga perlu dilakukan untuk membangun kepercayaan calon pembeli. 

Harga produk Jay dipatok mulai Rp 900 ribu – Rp 15 juta. Kini omzet penjualannya  mencapai Rp 125 juta per bulan, dengan keuntungan sekitar 20 – 30 persen.

Sejauh ini konsumen Jay datang dari seluruh Indonesia. “Saya sengaja melayani pemasaran lokal dahulu dibandingkan ekspor, sebab permintaan dalam negeri masih banyak dan belum terpenuhi,” kata pria yang jua menjabat wakil ketua  APKJ ini.

Nyaris modal dengkul

Cerita sukses Jay tidak muncul tiba-tiba. Awalnya ia bekerja ikut  sebuah workshop mebel.  Namun, karena keinginannya untuk membuka usaha secara mandiri sangat menggebu, Jay akhirnya mengundurkan diri. “Saat  itu saya belum punya produk, tapi  sudah punya keahlian dalam mendesain dan memproduksi mebel. Makanya, waktu itu saya menawarkan  aneka macam  desain  terlebih dahulu.

Lantas bagaimana dengan permodalan? Nyaris bermodal dengkul, Jay kemudian membuat website pribadi. Ongkos pembuatannya hanya Rp 250.000. Tak berselang lama, setelah ia mempromosikan produknya di mebelanak.com, datanglah calon pembeli  memesan sebuah tempat tidur anak. Sebagai tanda jadi, Jay meminta uang muka sebesar 50% dari harga jual. Tanda jadi tersebut ia gunakan untuk membeli bahan baku dan membiayai kegiatan produksi. Sisanya dibayar setelah produk pesanan siap antar.

Soal bahan baku, Jay sengaja menggunakan kayu solid.  Jenisnya bermacam-macam.  Mulai dari jati, mahoni, kamper, kayu kelapa dll. “Masing-masing kayu mempunyai permukaan tekstur dan sifat yang berbeda,” lanjutnya.

“Kayu solid merupakan bahan terkuat dalam pembuatan furniture yang berbahan dasar kayu. Tapi dikarenakan volume tanam dan penebangan pohon yang tidak seimbang, menyebabkan persediaan kayu solid terbatas dan harganya lebih mahal dibanding kayu olahan,” jelasnya.

Jay mengklaim, produk buatannya melewati sentuhan tangan-tangan yang  ahli di bidang perkayuan. Di workshopnya  ia memiliki  11 orang karyawan yang bekerja sesuai bidang masing-masing,  mulai dari tukang semprot, amplas, kayu, gurindam, hingga finishing.

“Saya juga dituntut  mengaplikasikan desain sesuai selera konsumen, dan pastinya harus selalu berinovasi,” ucap alumni Sekolah Tinggi
Teknologi dan Desain Nahdlatul Ulama Jepara ini bangga. Keunggulan lainnya adalah penggunaan duco painted yang menjadi ciri khas mebel buatan Jay dengan mebel lainnya.

No comments:

Post a Comment