Yakin dengan potensi pasar yang demikian
besar, Achmad Zainuddin (36) dari Jepara berani
berbisnis mebel khusus untuk anak-anak nyaris dengan modal dengkul. Berkat pinjaman permodalan dari BRI usahanya kini semakin berkembang.
Omzetnya mencapai Rp 125
juta/ bulan, dan mampu menghidupi 11 karyawan.
Rasa sayang kepada anak membuat para orang tua tua rela menyisihkan dana khusus untuk
memenuhi kebutuhan putra-putrinya. Peluang inilah yang ditangkap Achmad Zainuddin.
Bekal pengalaman lebih
dari 10 tahun bekerja di bidang permebelan, membuatnya percaya diri membuka
usaha secara mandiri.
Diakui
Zainuddin, sejak empat tahun terakhir permintaan mebel khusus untuk anak
semakin meningkat. Mulai dari ranjang, aneka rak, meja belajar, sofa, ataupun
lemari dengan nuansa anak-anak makin diburu. "Awalnya saya bermain di mebel umum, tapi sejak pertengahan 2010 saya fokus menggarap mebel khusus anak. Saya melihat usaha mebel anak di Jepara masih
jarang, apalagi dengan desain bernuansa full anak. Pasar yang luar biasa
membuat saya yakin bisnis mebel anak sangat potensial," aku pria yang akrab disapa
Jay ini.
Perkembangan bisnis Jay
tak lepas dari campur tangan lembaga Pusat
Penelitian Kehutanan Antarbangsa / Center for International Forestry Research (CIFOR). “Untuk
menampung aspirasi dari para pengrajin kecil, CIFOR membuatkan wadah yang
diberi nama Asosiasi Pengrajin Kecil Jepara (APKJ). Dalam hal permodalan pun, kami
dikenalkan dengan program Kredit Usaha rakyat, BRI. CIFOR
yang menjembatani antara pengrajin dengan pihak bank,”
terangnya.
“Alhamdulillah, meskipun sempat menunggu selama
dua tahun, akhirnya pinjaman sebesar Rp 50 juta cair awal tahun 2012. Tim BRI yang terdahulu begitu
mempersulit saya. Begitu ada pergantian pengurus, barulah saya ajukan lagi
kepada tim yang baru. Dalam waktu dua minggu pinjaman langsung cair dan saya
gunakan untuk mengembangkan usaha,” ujar Jay.
Untuk membantu menyediakan kayu jati, CIFOR juga
bekerjasama dengan Perhutani lewat program One Man One Tree. Sebagai bentuk tanggungjawab setiap pengrajin diwajibkan menanam Bibit
Jati Nusantara (JUN) di pekarangan rumahnya.
Dalam memasarkan produknya Jay mengandalkan
media online. Terbukti cara ini lebih efektif ketimbang menitipkan barang jadi
di toko-toko mebel di Jakarta. "Segmen
pasar produk ini kan rata-rata menengah atas dan ibu-ibu muda. Mereka biasa mengandalkan
internet untuk mencari informasi," katanya. Apalagi, kebanyakan konsumen
yang membutuhkan mebel anak berada di kota besar. Namun sebagai penjual, Jay
memang harus menampilkan contoh karyanya untuk memberikan gambaran pada calon pembeli.
Mencantumkan nomor kontak dan alamat jelas juga perlu dilakukan untuk membangun
kepercayaan calon pembeli.
Harga produk Jay
dipatok mulai
Rp 900 ribu – Rp 15 juta. Kini omzet penjualannya mencapai Rp 125 juta per bulan, dengan
keuntungan sekitar 20 – 30 persen.
Sejauh ini konsumen Jay datang dari seluruh Indonesia. “Saya sengaja melayani pemasaran
lokal dahulu dibandingkan ekspor, sebab permintaan dalam negeri masih banyak
dan belum terpenuhi,” kata pria yang jua menjabat
wakil ketua APKJ ini.
Nyaris modal dengkul
Cerita sukses Jay tidak muncul tiba-tiba. Awalnya ia bekerja
ikut sebuah workshop mebel. Namun, karena keinginannya untuk membuka
usaha secara mandiri sangat menggebu, Jay akhirnya mengundurkan diri. “Saat itu saya belum punya produk, tapi sudah punya keahlian dalam mendesain dan
memproduksi mebel. Makanya, waktu itu saya menawarkan aneka macam desain terlebih dahulu.”
Lantas bagaimana dengan permodalan? Nyaris bermodal
dengkul, Jay kemudian membuat website pribadi.
Ongkos pembuatannya hanya Rp 250.000. Tak
berselang lama, setelah ia mempromosikan produknya di
mebelanak.com, datanglah calon pembeli
memesan sebuah tempat tidur anak. Sebagai tanda jadi, Jay meminta uang
muka sebesar 50% dari harga jual. Tanda jadi tersebut ia gunakan untuk membeli
bahan baku dan membiayai kegiatan produksi. Sisanya dibayar setelah produk
pesanan siap antar.
Soal bahan baku, Jay sengaja menggunakan kayu solid.
Jenisnya
bermacam-macam. Mulai dari jati, mahoni, kamper, kayu kelapa
dll. “Masing-masing kayu mempunyai permukaan tekstur dan sifat yang berbeda,”
lanjutnya.
“Kayu solid merupakan bahan terkuat dalam pembuatan furniture
yang berbahan dasar kayu. Tapi dikarenakan volume tanam dan penebangan pohon
yang tidak seimbang, menyebabkan persediaan kayu solid terbatas dan harganya lebih
mahal dibanding kayu olahan,” jelasnya.
Jay mengklaim, produk buatannya melewati sentuhan tangan-tangan
yang ahli di bidang perkayuan. Di workshopnya ia memiliki 11 orang karyawan yang bekerja sesuai bidang masing-masing, mulai dari tukang semprot, amplas, kayu,
gurindam, hingga finishing.
“Saya juga dituntut
mengaplikasikan desain sesuai selera konsumen,
dan pastinya harus selalu berinovasi,” ucap alumni Sekolah Tinggi
Teknologi dan Desain Nahdlatul Ulama Jepara ini bangga. Keunggulan lainnya adalah penggunaan duco painted yang menjadi ciri khas mebel buatan Jay dengan mebel lainnya.
Teknologi dan Desain Nahdlatul Ulama Jepara ini bangga. Keunggulan lainnya adalah penggunaan duco painted yang menjadi ciri khas mebel buatan Jay dengan mebel lainnya.

No comments:
Post a Comment