Di tengah gempuran beragam
kedai modern, Warung Tinggi yang berdiri sejak tahun 1878 ini sama sekali tak
kehilangan jati diri sebagai kedai kopi bersejarah yang masih mempertahankan
citarasa kopi murni berkualitas.
![]() |
| Kopi-kopi berkualitas dalam kemasan siap jual. |
Merek bergambar wanita
sedang memikul bakul kopi di atas, seakan menjadi simbol yang mewakili sejarah
panjang Warung Tinggi. Perintis dan pendiri warung ini adalah Almarhum Liaw Tek
Soen. Berlokasi yang kini disebut Jl. Sekolah
Tangki, kawasan Glodok, Jakarta Pusat. “Ketika itu para wanita sekitar daerah
ini banyak yang bekerja sebagai pemetik kopi.
Nah, kaket buyut saya yang
kala itu membuka warung nasi, selalu disinggahi para wanita pemikul biji kopi
yang ingin beristirahat di warungnya. Kemudian terbersitlah ide membeli biji kopi tersebut, untuk diolah
menjadi minuman kopi. Kami adalah kedai pertama di Indonesia yang menjual
minuman kopi, ” cerita Rudi Widjaya, generasi ke empat yang sejak tahun 1978
memegang tongkat estafet sebagai pengelola Warung Tinggi.
“Selain hobi dengan kopi, saya juga dituntut selalu teliti
dan menyelami berbagai karakteristik yang dimiliki oleh setiap jenis kopi. Warung
Tinggi adalah satu-satunya kedai yang memiliki ratusan jenis kopi dari seluruh
wilayah Indonesia,” kata Rudi.
Menurutnya, kejujuran rasa
ataupun harga adalah kunci sukses keberhasilan usaha ini. “Harga kopi di
pasaran kan selalu berubah. Kalau harus naik, ya saya naikkan, asal kualitas
dan keaslian kopi tetap terjaga tanpa campuran apapun. Dengan kejujuran itu, pelanggan percaya bahwa produk kami seratus persen
murni. Bahkan ada pelanggan tetap kami hingga tiga turunan,” katanya
tegas.
Dulu, Rudi belajar menakar kadar air dan kadar
kafein kopi, hanya dengan menggenggamnya di tangan. Kalau kering akan terasa hangat, tapi kalau basah akan terasa dingin di
tangan. Kini,
ia sudah menggunakan mesin berteknologi modern untuk melakukan hal tersebut. Begitu
pula dengan cara pengolahan dan teknik menggoreng, menjadi kunci
utama dalam menghasilkan kopi berkualitas. Meskipun menggunakan oven otomatis
harus tetap dikontrol setiap saat.
Meskipun hanya menjual biji
dan bubuk kopi saja, warung ini juga
menyediakan beraneka ragam kopi siap santap, yang bisa dicoba secara gratis
agar konsumen dapat memilih jenis kopi yang sesuai dengan selera masing-masing.
“Karyawan kami akan membantu
memberi masukan kopi yang cocok untuk mereka. Jenis kopi kami sangat bervariasi.
Bila salah meracik, bisa-bisa rasanya tidak sesuai dengan keinginan konsumen. Misalnya bila menggunakan
coffeemaker, lebih cocok memakai kopi
yang sedikit lebih kasar agar aroma dan rasanya tidak hilang. Namun ingin
diseduh saja, lebih baik menggunakan kopi halus,” jelas pria berusia 70 tahun
ini.
Baginya, kesempatan
berinteraksi dengan konsumen dapat membina hubungan baik, sehingga tak jarang para pelanggannya turut
mempromosikan Warung Tinggi kepada para kerabat. Kini produknya
tak hanya dipasarkan di Indonesia melainkan juga diekspor ke luar negeri
seperti Amerika, Singapura, Thailand, Jepang, dan Korea berkat bantuan para
pelanggan setianya.
Kapasitas produksi 2 ton/bulan
Jika di awal berdiri, Warung
Tinggi hanya memiliki satu jenis kopi favorit, kini jumlahnya bertambah menjadi
8 jenis kopi favorit pelanggan. Harga per kilogram-nya berkisar mulai dari Harga
mulai Rp 100.000 – Rp 600.000/kg. Kedelapan jenis kopi yang paling diminati konsumen
antara lain ; Rajabika (Cocok untuk
pecinta kopi berkafein tinggi dan biasanya diminum dalam bentuk black coffee),
Arabica Spesial (Banyak diminati pelanggan wanita.
Jika dicampur krimer dan gula, aromanya sangat wangi),
Arabika Super (Cocok dicampur es karena
akan menghasilkan rasa manis, pahit, dan sedikit sepat), Arabika Ekstra (Disuplai
ke supermarket atau minimarket), Robusta (untuk pecinta kopi berkadar kafein
tinggi), Excellent (untuk maniak kopi), Kopi Jantan (untuk pria dewasa yang
ingin menambah gairah), Kopi Betina (banyak disukai ibu-ibu modern yang gemar
minum kopi. Rasanya asam dan wangi jika ditambah krimer).
Berbagai varian biji kopi diperoleh dari seluruh
Indonesia. Namun yang paling banyak adalah berasal Sulawesi dan Sumatera. “Saya sengaja mengambil dari importir lokal,
karena selain memberi keuntungan kepada mereka, saya juga tidak perlu repot
untuk mendapatkan kopi terbaik. Semuanya mereka yang ngurus, saya tinggal
terima beres. Beda halnya jika saya membeli dari Koperasi Unit Desa (KUD) dan
petani. Saya tidak bisa memilih dan kualitasnya belum tentu bagus semua,” terangnya.

No comments:
Post a Comment