Trading Pakaian: Harus Luwes Membidik Pangsa Pasar - KABAR BISNIS MU

KABAR BISNIS MU

Bisnis adalah kegiatan manusia yang bertujuan untuk menghasilkan uang dengan memproduksi dan menjual suatu produk, baik itu barang atau jasa. KABAR BISNISMU memberikan segudang informasi tentang peluang usaha, bisnis,kuliner,tehnologi dan berita berita terbaru

Breaking

Monday, January 21, 2019

Trading Pakaian: Harus Luwes Membidik Pangsa Pasar

Bantuan dana Bank Danamon terbukti membuat Rommy Soebir, pengusaha baju di Jakarta tetap bertahan. Kala pesanan ekspor kian sepi, asupan dana bank ia gunakan untuk mengubah aras pasar menuju dalam negeri.

Di sela maraknya kebangkrutan pengusaha pakaian, Rommy justru terus membuka banyak outlet pakaian di berbagai daerah di Indonesia.
Di sela maraknya kebangkrutan pengusaha pakaian, Rommy justru terus membuka banyak outlet pakaian di berbagai daerah di Indonesia.  “Awalnya bisnis utama saya adalah ekspor pakaian.  Namun sekarang mau tidak mau agar tetap bertahan, saya harus membidik pasar lokal,” tutur ayah berputra satu ini.  Tahun 2006 produk Cina membanjir di Indonesia.  Rata-rata harga produk dari Cina lebih murah dibandingkan dengan baju buatan dalam negeri.  Akibatnya, omzet ekspor yang diperoleh Rommy berkurang.

Kondisi tersebut memaksa Rommy memutar arah bisnisnya ke dalam negeri.  “Saya harus membuka banyak toko di dalam negeri,” katanya.  Upaya tersebut butuh asupan dana yang tidak sedikit.  Pada tahun 2006, Rommy mengajukan kredit ke Bank Danamon.  Permohonan itu disetujui, dana mengucur sebesar Rp 2 miliar.  Untuk pelunansannya, Bank Danamon memberi tenggat pembayarannya selama setahun. 

Setelah lunas, Rommy melakukan pinjaman lagi untuk membuka toko pakaian berikutnya.  Saat ini ia memiliki batas pinjaman Rp 6,6 miliar, setelah 5 tahun bekerjasama. Atas bantuan Bank Danamon tersebut, sekarang Rommy memiliki 10 toko.  Sebagai jaminan, ia mengagunkan 2 rumah di Jakarta dan satu rumah di Cirebon. Bunga pinjaman yang ia tanggung sebesar 12% per tahun. 

Jaminan fleksibel

Bagi pengusaha seperti Rommy, bank adalah mitra kerja.  “Kalau tidak Danamon, saya tidak bisa memperluas membuka toko baru,” paparnya. Selain pinjaman, Rommy juga merasa puas karena aturan main Bank Danamon bersifat fleksibel.  Disamping itu, Rommy dapat melakukan konsultasi secara bebas untuk urusan usahanya.  Begitupula dalam soal jaminan, Bank Danamon bersifat fleksibel.  “Tahun lalu saya mau pinjam lagi, karena Danamon sudah tahu reputasi saya, Danamon tetap memberi saya pinjaman, walaupun tidak ada jaminan,” tuturnya.

Hingga saat ini, pria asal Bukittinggi ini belum memiliki rencana untuk melakukan take over kredit ke bank Lain.  Pasalnya, untuk melakukan take over bank lain bukan tanpa risiko.  Selain itu, take over itu juga memakan biaya.  Dan hal itu akan menambah biaya operasional. Disamping itu, di dunia bisnis, berganti-ganti rekening bank itu memberikan kesan yang tidak menguntungkan bagi sebuah perusahaan.  “Wah kesannya ini rekeningnya tutup, jadi tidak bagus,” imbuh alumnus Universitas Andalas tersebut.  Selain itu, fasilitas lain yang diberikan oleh Danamon adalah cash @work.  Berkat fasilitas ini, Rommy dapat lebih mudah melakukan transaksi.  Rommy memiliki 3 rekening di Danamon.  2 rekening untuk urusah usaha dan 1 rekening untuk urusan pribadi.

Ajakan teman

Sebelum terjun di dunia bisnis jual-beli pakaian, Rommy pernah berbisnis kerajinan.  Rommy beralih profesi karena ajakan sahabatnya.  “Saat itu Pak John (kawan Rommy) ajak saya buat usaha trading pakaian bareng.  Karena saya melihat prospeknya bagus, saya ikuti Pak John,” kata Rommy.   PT Mitra Eximindo  Perkasa berdiri sejak tanggal 8 Februari 1999.  Lokasi usaha berada di Ruklo Danau Sunter Mas Blok C No 23.  Perusahaan ini bergerak di bidang trading ekspor pakaian jadi (baju) dengan pangsa pasar negara-negara Eropa, Asia Tenggara serta penjualan dalam negeri. 

Untuk keperluan pasar dalam negeri, Rommy melakukan penjualan di gerai factory outlet milik sendiri dengan nama “Mitra Factory Outlet” yang tersebar di beberapa ITC dan Mall di area Jakarta dan sekitarnya.  Diantaranya ITC Kuningan, Plaza Bintaro,  dan Mall Cinere, Depok.  Selain itu Rommy menjual produknya kepada beberapa FO di Bandung. Rommy mendapatkan pasokan barang dari beberapa pemasok di Bandung dan Jakarta dalam bentuk barang jadi.  Pengiriman barang kepada pelanggan dilakukan berdasarkan pemesanan. Untuk tujuan luar negeri, dikirim via kapal laut menuju negara-negara Eropa dan Asia Tenggara, dengan lama waktu 2 -3 minggu.

Saat ini Rommy telah membuka gerai baru di Bandung dengan nama “FO Calamus”.  Pembayaran dari pelanggan dilakukan 100% melalui Transfer Tunai (TT) dan untuk itu, Rommy memberikan tenggat waktu pembayaran selama 40 – 90 hari. Omzet yang diperoleh rata-rata mencapai Rp 47 juta / bulan.  Dengan keuntungan bersih rata-rata sebesar 15%.

Polandia, Rusia, Bulgaria, Inggris,  Prancis, Arab Saudi, Singapura, dan Malaysia adalah pasar ekspornya. Kapasitas pemesanan terbanyak dari Polandia dan Rusia. Namun,  Rommy juga mengimpor baju dari luar negeri dan memasarkan di dalam negeri.  Misalnya dari Cina dan Banglades. “Soal kualitas sebenarnya sama saja, hanya saja produk dalam negeri kalah dalam soal harga,” tuturnya.

Baju yang diimpor dari Banglades umumnya kurang variasi.  Berbeda dengan model dari Cina yang lebih variatif. Jenis produk yang diipor dari Banglades adalah celana panjang, celana pendek dan kaos.  Pakaian wanita dan anak-anak diimpor dari Cina, karena variasinya lebih banyak. Produk di Indonesia sebenarnya lebih variatif dibanding produk pakaian dari kedua negara tersebut.  Hanya saja, harganya cenderung lebih mahal. Sekali mengimpor biasanya 1 kontainer baju biasanya seharga Rp 25.000 – 30.000 AS $.  Dalam satu ada sekitar 30 – 40 item.

No comments:

Post a Comment