Bantuan dana Bank Danamon
terbukti membuat Rommy Soebir, pengusaha baju di Jakarta tetap bertahan. Kala
pesanan ekspor kian sepi, asupan dana bank ia gunakan untuk mengubah aras pasar
menuju dalam negeri.
![]() |
| Di sela maraknya kebangkrutan pengusaha pakaian, Rommy justru terus membuka banyak outlet pakaian di berbagai daerah di Indonesia. |
Di sela maraknya kebangkrutan pengusaha pakaian, Rommy justru terus
membuka banyak outlet pakaian di
berbagai daerah di Indonesia. “Awalnya
bisnis utama saya adalah ekspor pakaian.
Namun sekarang mau tidak mau agar tetap bertahan, saya harus membidik
pasar lokal,” tutur ayah berputra satu ini.
Tahun 2006 produk Cina membanjir di Indonesia. Rata-rata harga produk dari Cina lebih murah
dibandingkan dengan baju buatan dalam negeri.
Akibatnya, omzet ekspor yang diperoleh Rommy berkurang.
Kondisi tersebut memaksa Rommy memutar arah bisnisnya ke dalam negeri. “Saya harus membuka banyak toko di dalam
negeri,” katanya. Upaya tersebut butuh
asupan dana yang tidak sedikit. Pada
tahun 2006, Rommy mengajukan kredit ke Bank Danamon. Permohonan itu disetujui, dana mengucur
sebesar Rp 2 miliar. Untuk pelunansannya,
Bank Danamon memberi tenggat pembayarannya selama setahun.
Setelah lunas, Rommy melakukan pinjaman lagi untuk membuka toko pakaian
berikutnya. Saat ini ia memiliki batas
pinjaman Rp 6,6 miliar, setelah 5 tahun bekerjasama. Atas bantuan Bank Danamon tersebut,
sekarang Rommy memiliki 10 toko. Sebagai
jaminan, ia mengagunkan 2 rumah di Jakarta dan satu rumah di Cirebon. Bunga
pinjaman yang ia tanggung sebesar 12% per tahun.
Jaminan fleksibel
Bagi pengusaha seperti Rommy, bank adalah mitra kerja. “Kalau tidak Danamon, saya tidak bisa memperluas
membuka toko baru,” paparnya. Selain pinjaman, Rommy juga merasa puas karena aturan
main Bank Danamon bersifat fleksibel.
Disamping itu, Rommy dapat melakukan konsultasi secara bebas untuk
urusan usahanya. Begitupula dalam soal
jaminan, Bank Danamon bersifat fleksibel.
“Tahun lalu saya mau pinjam lagi, karena Danamon sudah tahu reputasi
saya, Danamon tetap memberi saya pinjaman, walaupun tidak ada jaminan,”
tuturnya.
Hingga saat ini, pria asal Bukittinggi ini belum memiliki rencana untuk
melakukan take over kredit ke bank
Lain. Pasalnya, untuk melakukan take over bank lain bukan tanpa
risiko. Selain itu, take over itu juga memakan biaya.
Dan hal itu akan menambah biaya operasional. Disamping itu, di dunia
bisnis, berganti-ganti rekening bank itu memberikan kesan yang tidak
menguntungkan bagi sebuah perusahaan.
“Wah kesannya ini rekeningnya tutup, jadi tidak bagus,” imbuh alumnus Universitas
Andalas tersebut. Selain itu, fasilitas
lain yang diberikan oleh Danamon adalah cash
@work. Berkat fasilitas ini, Rommy
dapat lebih mudah melakukan transaksi.
Rommy memiliki 3 rekening di Danamon.
2 rekening untuk urusah usaha dan 1 rekening untuk urusan pribadi.
Ajakan teman
Sebelum terjun di dunia bisnis jual-beli pakaian, Rommy pernah
berbisnis kerajinan. Rommy beralih
profesi karena ajakan sahabatnya. “Saat
itu Pak John (kawan Rommy) ajak saya buat usaha trading pakaian bareng.
Karena saya melihat prospeknya bagus, saya ikuti Pak John,” kata
Rommy. PT Mitra Eximindo Perkasa berdiri sejak tanggal 8 Februari
1999. Lokasi usaha berada di Ruklo Danau
Sunter Mas Blok C No 23. Perusahaan ini
bergerak di bidang trading ekspor
pakaian jadi (baju) dengan pangsa pasar negara-negara Eropa, Asia Tenggara
serta penjualan dalam negeri.
Untuk keperluan pasar dalam negeri, Rommy melakukan penjualan di gerai factory outlet milik sendiri dengan nama
“Mitra Factory Outlet” yang tersebar di beberapa ITC dan Mall di area Jakarta
dan sekitarnya. Diantaranya ITC
Kuningan, Plaza Bintaro, dan Mall
Cinere, Depok. Selain itu Rommy menjual
produknya kepada beberapa FO di Bandung. Rommy mendapatkan pasokan barang dari
beberapa pemasok di Bandung dan Jakarta dalam bentuk barang jadi. Pengiriman barang kepada pelanggan dilakukan
berdasarkan pemesanan. Untuk tujuan luar negeri, dikirim via kapal laut menuju
negara-negara Eropa dan Asia Tenggara, dengan lama waktu 2 -3 minggu.
Saat ini Rommy telah membuka gerai baru di Bandung dengan nama “FO
Calamus”. Pembayaran dari pelanggan
dilakukan 100% melalui Transfer Tunai (TT) dan untuk itu, Rommy memberikan
tenggat waktu pembayaran selama 40 – 90 hari. Omzet yang diperoleh rata-rata
mencapai Rp 47 juta / bulan. Dengan
keuntungan bersih rata-rata sebesar 15%.
Polandia, Rusia, Bulgaria, Inggris, Prancis, Arab Saudi, Singapura, dan Malaysia
adalah pasar ekspornya. Kapasitas pemesanan terbanyak dari Polandia dan Rusia.
Namun, Rommy juga mengimpor baju dari
luar negeri dan memasarkan di dalam negeri.
Misalnya dari Cina dan Banglades. “Soal kualitas sebenarnya sama saja,
hanya saja produk dalam negeri kalah dalam soal harga,” tuturnya.
Baju yang diimpor dari Banglades umumnya kurang variasi. Berbeda dengan model dari Cina yang lebih variatif.
Jenis produk yang diipor dari Banglades adalah celana panjang, celana pendek
dan kaos. Pakaian wanita dan anak-anak
diimpor dari Cina, karena variasinya lebih banyak. Produk di Indonesia
sebenarnya lebih variatif dibanding produk pakaian dari kedua negara tersebut. Hanya saja, harganya cenderung lebih mahal. Sekali
mengimpor biasanya 1 kontainer baju biasanya seharga Rp 25.000 – 30.000 AS
$. Dalam satu ada sekitar 30 – 40 item.

No comments:
Post a Comment