Bagi penggemar kopi, wajib mengunjungi
kedai kopi Tan Kie Es yang menyimpan racikan resep dan kualitas kopi terbaik
sejak tahun 1928.
![]() |
| Proses peracikan kopi di kedai kopi Tak Kie |
Es kopi di sini disajikan tanpa ampas sehingga
terasa nikmat hingga sedotan terakhir. Bagi yang tak suka dingin jangan
khawatir. Selain es kopi, Latif juga
menawarkan kopi panas. Secangkir kopi panas hanya Rp 8.000, sedangkan es kopi
orisinal yang disajikan didalam gelas bening ukuran jumbo, hanya Rp 10 ribu.
Jika ingin ditambah susu, Anda cukup menambah Rp 1.000 saja.
Latif adalah generasi ketiga pemilik kedai ini.
Sang kakek merupakan orang yang pertama kali mendirikan kedai ini. ”Awalnya
beliau adalah pedagang kaki lima di kawasan Petak Sembilan. Hasil dagangnya,
sedikit demi sedikit dikumpulkan untuk menyewa kios milik seorang Chinese berpendidikan
Belanda. Setelah sekian lama, akhirnya tabungan kakek cukup untuk membeli kios ini,
dan kami miliki sampai sekarang,” kenangnya.
Menurut pengakuannya, dulu kedai ini oleh sang
kakek diberi nama Kopi Us Sak Kie. Diambil dari Bahasa Mandarin. “Tapi
karena di era Orde Lama ada kasus G30 SPKI, dan Bahasa Mandarin tidak boleh digunakan, akhirnya
saya ganti menjadi Kopi Es Tak Kie yang diambil dari kata Tak = orang
yang bijaksana dan Kie = ingat. Jadi, Tak Kie artinya orang yang
bijaksana akan selalu dikenang,” jelasnya.
Sejak diwarisi kedai ini tahun 1974, ia mulai
merubah cara pembelian bahan baku kopi. “Kalau dulu saya dikirim empat jenis
kopi dari Bandung sudah dalam bentuk bubuk yang dikemas dalam kaleng biskuit
ukuran besar. Namun sejak saya pegang, cara pembelian bahan baku saya ubah. Saya
langsung pesan ke pabrik untuk membeli langsung empat jenis biji kopi lokal, kemudian
baru saya giling,” kata bapak empat orang anak ini.
Meski berumur hampir seabad, tak ada perubahan besar
di kedai ini, baik bentuk ruangan ataupun furniturnya. “Masih sama seperti puluhan tahun silam sejak
kedai ini didirikan,” kata Latif. Meja dan kursi yang menjadi saksi sejarah
itu, masih setia diduduki oleh para pelanggan yang telah berganti dari generasi
ke generasi. Bahkan meja kasirnya pun tetap sama seperti dulu.
Kedai Kopi Penuh Keakraban
Sebagai warung kopi tradisional, Latif siap
melayani pembeli yang ingin kongko-kongko sambil sarapan di kedai ini. Suasana
penuh keakraban sangat terasa di sini karena Latief selalu menyempatkan diri
untuk bercengkerama bahkan melayani langsung pembelinya.
Selain kopi, kedai ini juga menjual makanan berat
seperti nasi campur dan bubur ayam. Harganya cukup terjangkau mulai Rp 15
ribuan. ”Kalau dulu yang dijual hanya kopi dan kue-kue basah sebagai teman ngopi.
Tapi seiring berjalannya waktu, banyak pelanggan yang kemudian
meminta menu-menu berat seperti nasi dan mie,” ujarnya. Meskipun sekarang ini
kue-kue basah masih disediakan, namun kebanyakan pelangan lebih suka memesan
menu-menu berat seperti nasi, bubur, dan mie. Enaknya lagi, pelanggan bisa juga
memesan makanan di luar Tak Kie, tapi harus pandai memilih karena penjual makanan
yang diluar kebanyakan non-halal. Sebagai penyegar, tersedia minuman lainnya seperti es limun dan es teh.
Untuk bubur ayam, Yulus menawarkan bubur ayam ala
Chinese lengkap dengan cakwe dan daun bawang. Rasanya enak dan mengenyangkan
karena porsinya jumbo. Semangkuk besar bubur ayam hanya dihargai Rp 15 ribu
saja. Potongan-potongan ayam sebesar dadu selalu tersembunyi di setiap suapan.
Di sinilah sensasinya. Sebab, jika dilihat dari penampilan luarnya, potongan
ayam tidak terlihat sama sekali. Berbeda dengan bubur ayam pada umumnya,
sepertinya ketika proses pemasakan bubur, potongan ayamnya langsung dimasak
menjadi satu, sehingga buburnya sangat kental dengan rasa kaldu.
Meskipun hanya buka sejak pukul 07.00 hingga pukul
14.00 siang, kedai kopi ini nyaris tak pernah sepi pengunjung. Jika dulu yang
datang ke sini adalah orang-orang Chinese zaman dulu, sekarang pelanggan sudah
mengalami pembaruan. Kini pelanggan datang dari beragam kalangan mulai dari
mahasiswa, dosen, orang-orang kantoran, dan
wartawan. Semuanya berkumpul di sini hanya untuk sekadar ngopi. “Setelah
kerusuhan 1998, kawasan ini makin sepi khususnya di malam hari,” keluhnya. Omzetnya
pun tak menentu. Kadang sehari ia bisa mengantongi omzet diatas Rp 1 juta, tapi
kalau sepi bisa di bawah Rp 1 juta.

No comments:
Post a Comment