Memberi nilai
tambah pada limbah tak hanya punya
dampak positif bagi kelestarian alam. Aktivitas mengolah sampah juga bisa meraup
laba. Mahasim, pengusaha di Kebumen, Jateng menghasilkan puluhan juta rupiah
dari kreasi sabut kelapa.
![]() |
| Berbagai produk berbahan baku sabut kelapa. |
Kewalahan penuhi
permintaan
Selain
produk kerajinan, proses penggilingan butiran sabut menjadi serat sabut atau
fiber juga mengeluarkan hasil sampingan berupa cocopeat. Cocopeat ini
selanjutnya diolah menjadi pupuk organik. Setiap hari Hasim menggiling 3000-4000
butir sabut. Sepuluh butir sabut bisa menghasilkan 1 kg cocopeat. Sesudah diolah menjadi pupuk, Hasim menjualnya seharga Rp
450 per kg, di luar ongkos kirim. “Pupuk organik itu dijual ke Kalimatan Timur,
10-20 ton sebulan. Waktu mau lebaran mereka pesan 60 ton per bulan. Jumlah
sebanyak itu masih bisa kami layani. Mereka pernah minta sampai 400 ton per
bulan, kami nggak sanggup,” ungkap Mahasim, warga desa Rantewringin, Kecamatan
Buluspesantren, Kebumen, Jateng.
Kewalahan
melayani permintaan pasar juga dialami Hasim untuk produk lain. Ia bercerita
bahwa pernah ada permintaan kasur berisi sabut dari Amerika. Tidak
tanggung-tanggung, buyer Amerika itu
minta dikirim 3 kontainer per bulan. Tapi Hasim mengatakan tak sanggup karena
skala usahanya belum bisa mencukupi.
Meski saat ini bisnisnya terbilang cukup besar.
Selain
mempekerjakan 15 orang yang menjadi karyawan tetap, ia juga punya mitra yang
tersebar di lima kecamatan di Kebumen. Mitra paling banyak dari Kecamatan
Buluspesantren dan Kliron. Mereka membuat barang jadi atau setengah jadi lalu
dibawa ke AKAS (Aneka Kerajinan Anyaman Sabut Kelapa) untuk dipasarkan.
Padahal, awalnya Mahasim hanya punya dua karyawan. Lalu, ia membentuk Kelompok
Usaha Bersama (KUB) yang diberi nama AKAS.
Omzet Ratusan
Juta Rupiah
Salah
satu produk yang memberi pemasukan besar adalah coconet. Setiap bulan Mahasim harus mengirim produk berupa jaring
dari sabut kelapa itu ke Timika, Balikpapan, dan Medan. Untuk coconet tali kecil harganya Rp 8.000/m,
sementara coconet tali besar
dijual seharga Rp 13.000/m. “Masing-masing
tempat itu dikirimi satu tronton. Satu tronton isinya 200 rol. Satu rol
panjangnya 50 m,” papar Mahasim.
Jadi,
kalau dihitung untuk produk coconet
saja omzet yang diperoleh Rp 240 juta (Rp 8.000 x 50 m x 200 rol x 3). Itu baru
pemasukan dari satu produk. Selain itu masih ada pemasukan dari keset kecil
sebanyak 5000 lembar dan keset besar 2000 lembar. Masing-masing harganya Rp 5.000
dan Rp 35.000. Selain melayani pasar lokal Kebumen, Mahasim juga mengirim
produk ke Surabaya, Jakarta, Yogyakarta, Pontianak, Medan, dsb.
Ada
pula pengiriman pot gantung untuk eksportir yang selanjutnya akan mengirim ke
Australia. Tiap bulan Mahasim mengirim pot gantung sebanyak 200-300 pot,
harganya Rp 30.000/pot. Selain Australia, Mahasim juga melayani permintaan tali
sabut ke Jepang sebanyak 2500 ikat. Satu ikat panjangnya 10 m dan tiap meter
dijual seharga Rp 5.000.
Untuk
mencukupi permintaan sebanyak itu, Mahasim mengaku cukup mengandalkan bahan
baku dari Kebumen. Ia punya 4 pemasok tetap yang tiap minggu mengirim 1-2 truk.
Tiap truk berisi 4000 butir sabut kelapa. Selain itu, ia juga punya banyak
jaringan pedagang kelapa yang bisa mengirim ratusan butir sabut tiap hari.
Jadi, bahan baku tak pernah jadi masalah.
Satu
kendala yang kerap dihadapi adalah tenaga kerja. Jika tiba waktu panen atau
tanam, ia sulit mencari pekerja. Pasalnya, pekerjanya sebagian besar adalah
warga desa yang juga petani. Bila tiba waktu bagi petani harus mengurusi
sawahnya, Mahasim hanya bisa mengandalkan sedikit pekerja. Selain itu, kendala
lain adalah musim hujan. Misalnya untuk pembuatan coconet, biasa dilakukan di lahan yang cukup luas seperti
lapangan. Kalau hujan turun pekerjaan harus terhenti. Jika hambatan itu muncul,
ia kerap minta kelonggaran waktu pengiriman produk. “Yang tadinya 10 hari, saya
minta kelonggaran jadi 20 hari,” kata Mahasim.
Berkat
jalinan relasi yang baik dengan pelanggan dan pemasok, kendala bisnis itu tak
terlalu berpengaruh terhadap pendapatan.

No comments:
Post a Comment