Harga salak segar cenderung
fluktuatif. Ketika diolah menjadi dodol nilai
jualnya stabil serta 4 –5 kali lebih
menjanjikan. Sosoknya menjadi lebih
menarik dengan usia konsumsi lebih panjang.
Suatu hari di tahun 2007, Puri seorang ibu rumah tangga dari
Dusun Candi, Kecamatan Bangun Kerto, Sleman, Yogyakarta, melihat proses sortasi salak pondoh di desanya
yang menyisakan banyak salak terbuang. “Banyak
salak yang pecah, terbelah
parang. Daripada dibuang kan sayang. Lalu saya coba buat jenang salak, “ ujarnya
mengenang. Iseng-iseng jenang salak
buatannya ditawarkan di perkantoran, ternyata laris.
Dari sinilah Puri lalu menekuni produk olahan dodol salak.
Produk ini mampu menaikkan nilai tambah ekonomi pada salak yang biasanya hanya dijual sebagai buah segar. Pun dapat
mengantisipasi merosotnya harga salak saat panen raya. “Kalau dijual dalam bentuk dodol harga grosir
Rp 9.000 / pack. Sedangkan
harga ecerannya antara Rp 10.000
– 12.000. Tiap pack bobotnya 200
gr. Padahal saat panen raya, harga salak pondoh bisa jatuh
sekitar Rp 4.000- 5.000 / kg,” seloroh wanita ulet
ini.
“Satu tahun untuk promosi, 2 tahun
mulai komersial. Awalnya saya promosikan
lewat arisan, UKM dan berbagai dinas,” ungkap perempuan kreatif yang memulai usahanya berbekal modal Rp 300.000.
Dukungan organisasi
Keberadaan UMKM Kerto Mandiri
sangat membantu usaha yang ditekuni Puri. Organisasi ini adalah wadah pengusaha kecil di tingkat kecamatan
yang membawahi beberapa kelompok wira
usaha tingkat desa. Organisasi ini
beranggota lebih 40 orang wira usaha kecil.
Di tingkat desa, Puri merupakan anggota kelompok wirausaha Bangun
Tani. Ia menjabat sebagai
bendahara. Dari organisasi tersebut ia
mendapatkan bantuan pendanaan. “Saat itu
saya pinjam uang sebesar Rp 500.000. untuk pengurusan nomor registrasi Pangan Industri Rumah Tangga
(PIRT) yang diterbitkan Dinas Kesehatan untuk
dodol salak yang saya buat,” katanya.
Pinjaman tersebut diangsur 10 kali.
Besarnya pinjaman disesuaikan
kemampuan. Berkisar antara Rp 500.000 – Rp
750.000. Pengurus akan mengkaji terlebih
dulu kemampuan kreditur. Setelah layak,
dana dikucurkan. Jumlah pinjaman di atas
Rp 1,5 juta dikenakan anggunan.
Organisasi kewirausahaan ini menyelenggarakan pertemuan rutin setiap
bulan. Dalam pertemuan tersebut anggota membayar simpanan wajib sebesar Rp
50.000. Bagi penanggung pinjaman,
pengangsuran pinjaman dilakukan dalam pertemuan ini. Selain dari dana yang bersumber dari simpan
pinjam, UMKM Bangun Kerto dan kelompok tani Bangun Tani bekerjasama dengan BPD
untuk menyediakan pendanaan.
Pasar masih lebar
Puri mampu memproduksi dodol
salak 25 kg/ setiap 2 minggu. Untuk menghasilkan dodol sebanyak itu, dibutuhkan
75 kg bahan baku. “Setiap kilo
bahan baku hanya bisa dibuat dodol 1/3 dari berat awalnya,” imbuhnya. Bahan baku tersebut diperoleh dari pengepul
di Pasar Turi., dengan harga Rp 5.000 –
6.000 / kg. Berdasarkan kapasitas
produksi yang dihasilkan, dapat diasumsikan omzet bulanan sebesar Rp 2.250.000. Dalam menjalankan usahanya Puri dibantu 3 orang karyawan.
Menurutnya, produk olahan salak
pondoh memiliki prospek bagus. Saat ini
belum banyak pelakuknya. Persaingan di
pasar pun belum ketat. “Yang membuat dodol
salak seperti saya juga ada. Tapi karena permintaan dan daya serapnya masih
besar, jadi tidak masalah,” cetus ibu yang enerjik ini. Selain memasarkan lewat
organisasi dan lembaga, Puri juga menjajakan dodol buatannya ke berbagai toko
oleh-oleh di kawasan Yogyakarta, termasuk
Mirota Batik.
Pemasaran secara konsinyasi dipilih Puri, meski banyak pengusaha menghindari
cara ini. Pasalnya, toko selektif terhadap pemasok barang. Biasanya
mereka tidak mau menerima barang dagangan yang tidak laris dan terlalu
lama berada di dalam outlet. “Dodol
salak sangat laris. Returnya tak lebih
dari 5 % , itupun disebabkan karena
kerusakan kemasan.,” kata Puri. Dodol
salak mampu bertahan selama 1
bulan. Untuk menjamin konsumen, Puri
memberikan label tanggal kedaluwarsa pada setiap dus kemasan.

No comments:
Post a Comment