Dodol Alris: Mengolah Salak, Dongkrak Nilai Tambah - KABAR BISNIS MU

KABAR BISNIS MU

Bisnis adalah kegiatan manusia yang bertujuan untuk menghasilkan uang dengan memproduksi dan menjual suatu produk, baik itu barang atau jasa. KABAR BISNISMU memberikan segudang informasi tentang peluang usaha, bisnis,kuliner,tehnologi dan berita berita terbaru

Breaking

Saturday, January 12, 2019

Dodol Alris: Mengolah Salak, Dongkrak Nilai Tambah


Harga salak segar cenderung fluktuatif.  Ketika diolah menjadi dodol nilai jualnya  stabil serta 4 –5 kali lebih menjanjikan.  Sosoknya menjadi lebih menarik dengan usia konsumsi lebih panjang.
 
Pengolahan salak menjadi dodol dapat memberikan nilai tambah.
Suatu hari di tahun 2007,  Puri seorang ibu rumah tangga  dari  Dusun Candi, Kecamatan Bangun Kerto, Sleman, Yogyakarta,  melihat proses sortasi salak pondoh di desanya yang menyisakan  banyak salak terbuang.  “Banyak  salak yang pecah, terbelah  parang.  Daripada dibuang kan sayang.  Lalu saya coba buat jenang salak, “ ujarnya mengenang.  Iseng-iseng jenang salak buatannya ditawarkan  di perkantoran,  ternyata  laris.   Dari sinilah Puri lalu menekuni produk olahan  dodol salak.

Produk  ini mampu menaikkan  nilai tambah ekonomi pada salak yang biasanya  hanya dijual sebagai buah segar. Pun dapat mengantisipasi merosotnya harga salak saat panen raya.  “Kalau dijual dalam bentuk dodol harga grosir  Rp 9.000 / pack.  Sedangkan  harga ecerannya  antara Rp 10.000 – 12.000.  Tiap pack bobotnya 200 gr.  Padahal  saat panen raya, harga salak pondoh bisa jatuh  sekitar  Rp 4.000- 5.000 / kg,” seloroh wanita ulet ini.

“Satu tahun untuk promosi, 2 tahun mulai komersial.  Awalnya saya promosikan lewat arisan, UKM dan berbagai dinas,” ungkap perempuan kreatif yang  memulai usahanya  berbekal modal Rp 300.000. 

Dukungan organisasi

Keberadaan UMKM Kerto Mandiri sangat membantu usaha yang ditekuni Puri. Organisasi ini adalah  wadah pengusaha kecil di tingkat kecamatan yang  membawahi beberapa kelompok wira usaha tingkat desa.  Organisasi ini beranggota lebih 40 orang wira usaha kecil.  Di tingkat desa, Puri merupakan anggota kelompok wirausaha Bangun Tani.  Ia menjabat sebagai bendahara.  Dari organisasi tersebut ia mendapatkan bantuan pendanaan.  “Saat itu saya pinjam uang sebesar Rp 500.000.  untuk  pengurusan  nomor registrasi Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) yang diterbitkan Dinas Kesehatan  untuk dodol salak  yang saya buat,”  katanya.  Pinjaman tersebut diangsur 10 kali. 

Besarnya pinjaman disesuaikan kemampuan.  Berkisar antara Rp 500.000 – Rp 750.000.  Pengurus akan mengkaji terlebih dulu kemampuan kreditur.  Setelah layak, dana dikucurkan.  Jumlah pinjaman di atas Rp 1,5 juta dikenakan anggunan.  Organisasi kewirausahaan ini menyelenggarakan pertemuan rutin setiap bulan.  Dalam pertemuan tersebut  anggota membayar simpanan wajib sebesar Rp 50.000.  Bagi penanggung pinjaman, pengangsuran pinjaman dilakukan dalam pertemuan ini.  Selain dari dana yang bersumber dari simpan pinjam, UMKM Bangun Kerto dan kelompok tani Bangun Tani bekerjasama dengan BPD untuk menyediakan pendanaan. 

Pasar masih lebar

Puri mampu memproduksi dodol salak   25 kg/ setiap 2 minggu.  Untuk menghasilkan dodol sebanyak itu,  dibutuhkan  75 kg bahan baku.  “Setiap kilo bahan baku hanya bisa dibuat dodol 1/3 dari berat awalnya,” imbuhnya.   Bahan baku tersebut diperoleh dari pengepul di Pasar Turi., dengan harga  Rp 5.000 – 6.000 / kg.  Berdasarkan kapasitas produksi yang dihasilkan,  dapat diasumsikan  omzet bulanan sebesar Rp 2.250.000.  Dalam menjalankan usahanya Puri dibantu  3 orang karyawan. 

Menurutnya, produk olahan salak pondoh memiliki prospek bagus.  Saat ini belum banyak pelakuknya.  Persaingan di pasar pun belum ketat.  “Yang membuat dodol salak seperti saya juga ada. Tapi karena permintaan dan daya serapnya masih besar, jadi tidak masalah,” cetus ibu yang enerjik ini. Selain memasarkan lewat organisasi dan lembaga, Puri juga menjajakan dodol buatannya ke berbagai toko oleh-oleh di kawasan Yogyakarta, termasuk  Mirota Batik. 

Pemasaran secara konsinyasi  dipilih Puri, meski banyak pengusaha menghindari cara ini.  Pasalnya, toko  selektif  terhadap pemasok barang.  Biasanya  mereka tidak mau menerima barang dagangan yang tidak laris dan terlalu lama berada di dalam outlet.  “Dodol salak sangat laris.  Returnya tak lebih dari 5 % ,  itupun disebabkan karena kerusakan kemasan.,” kata Puri.  Dodol salak  mampu bertahan selama 1 bulan.  Untuk menjamin konsumen, Puri memberikan label tanggal kedaluwarsa pada setiap dus kemasan.

No comments:

Post a Comment