Bubur Bayi Hj. Dias: Membantu Perbaikan Gizi, Disusul Datangnya Rezeki - KABAR BISNIS MU

KABAR BISNIS MU

Bisnis adalah kegiatan manusia yang bertujuan untuk menghasilkan uang dengan memproduksi dan menjual suatu produk, baik itu barang atau jasa. KABAR BISNISMU memberikan segudang informasi tentang peluang usaha, bisnis,kuliner,tehnologi dan berita berita terbaru

Breaking

Saturday, January 12, 2019

Bubur Bayi Hj. Dias: Membantu Perbaikan Gizi, Disusul Datangnya Rezeki


Inilah yang dilakukan  Mardiastuti mantan perawat RSCM, Jakarta,  yang sukses sebagai pengusaha bubur bayi.  Kiprahnya di dunia bisnis, tidak semata-mata mencari keuntungan melainkan lebih pada  panggilan nurani membantu perbaikan gizi  balita dengan menyediakan makanan sehat  yang terjangkau.

Bubur Hj. Dias tak pernah sepi dari pembeli.
Meski sudah pensiun tahun 1998, Hj. Dias, panggilan Mardiastuti,  warga  Kayu Manis, Jakarta Timur, ini  tidak pernah berhenti berkarya. Ide usaha ini tercetus dari keprihatinannya atas  minimnya kualitas gizi makanan anak-anak di sekitar  tempat tinggalnya. Ia sering melihat tetangganya membeli bubur ayam yang biasa mangkal di dekat rumah, untuk sarapan balitanya. 

“Saya prihatin, bubur ayam itu kan memakai vetsin karena ditujukan untuk orang dewasa. Selain itu tidak memenuhi asupan gizi. Kalau pun memakai ayam dan kerupuk, yang makan kan ibunya. Anaknya hanya dikasi bubur dan kecap,” ujar Dias. Keprihatinan itulah yang menggerakkan hati Hj. Dias. “Saya ingin mereka bisa mengkonsumsi makanan bergizi.”

Suatu hari ia  memasak bubur dengan campuran  sayur dan daging. Ketika sudah matang, ia  menggelar dagangannya di teras rumah dengan menggunakan panci  yang ditata di atas meja. Tulisan di karton Jual Bubur Bayi dipasang di pagar rumahnya agar menarik perhatian.  “Banyak orang yang lewat pada ngeliatin. Waktu itu saya bikin 2 jenis bubur yaitu daging dan ayam. Harganya saat itu Rp 1000,/porsi,” kenangnya. Saat itu ia hanya memasak ½ liter beras. Lantaran  belum banyak orang tahu, hari itu hanya laku tiga porsi.

Sepinya pembeli di hari pertama, membuat sang suami, Kudjati Susanto, melarang istrinya berjualan lagi. “Waktu itu Bapak melarang saya berjualan . Apa kata orang, masak istri pensiunan Pertamina berjualan bubur?” Hj. Dias menirukan kata-kata suaminya.  Toh, akhirnya  ia berhasil menyakinkan sang suami, apa yang dilakukannya itu untuk menolong orang banyak. “Waktu itu saya bilang sama Bapak, saya bukan mencari materinya. Tapi hanya ingin membantu para balita untuk mendapatkan asupan gizi dari makanan sehat,” ujarnya.

90 mitra di Jabodetabek

Tak disangka,  dari konsumen  perdana itulah  words of mouth tentang  bubur bayi HJ. Dias menyebar ke seluruh tetangga, bahkan hingga ke luar daerah Kayu Manis. Semakin hari, pembeli yang datang semakin ramai. Jumlah produksi bubur pun semakin ditingkatkan. Yang awalnya hanya ½ liter, naik menjadi 5 liter, lalu naik lagi 10 liter, 15 liter, hingga 30 liter.

Saat ini Dias sudah memiliki 90 cabang yang tersebar di Jabodetabek, dengan jumlah dapur produksi 12 buah. “Untuk dapur produksi di luar daerah Kayu Manis, saya percayakan kepada anak-anak dan asisten. Sebelum mereka terjun langsung, saya adakan pelatihan. Saya juga masih rutin mengontrol setiap dapur produksi  agar kualitas tetap terjaga, karena saya sangat menghindari vetsin dan bahan pengawet,. “ tegas wanita kelahiran Kebumen 1945 ini.

Untuk  menjaga standar takaran,  ia  menyiapkan sendok bubur yang sama agar  volume  bubur  sama di semua cabang. “Jadi kalau porsinya  tidak sesuai standar, pelanggan bisa komplain ke nomor telepon saya,” kata wanita berusia 66 tahun ini. Baginya, untung sedikit tidak masalah, yang penting rutin. “Kepada mitra saya jual bubur Rp 1800 per porsi, dan mereka menjual dengan harga Rp 2.500. Niat saya kan menolong, tidak 100% bisnis murni,” tambahnya.

Dengan begitu, ia membuka lapangan pekerjaan bagi ibu rumah tangga, korban PHK, ataupun karyawan yang ingin mencari penghasilan tambahan dengan menjual makanan sehat.

No comments:

Post a Comment