Inilah yang
dilakukan Mardiastuti mantan perawat
RSCM, Jakarta, yang sukses sebagai
pengusaha bubur bayi. Kiprahnya di dunia
bisnis, tidak semata-mata mencari keuntungan melainkan lebih pada panggilan nurani membantu perbaikan gizi balita dengan menyediakan makanan sehat yang terjangkau.
![]() |
| Bubur Hj. Dias tak pernah sepi dari pembeli. |
Meski sudah
pensiun tahun 1998, Hj. Dias, panggilan Mardiastuti, warga
Kayu Manis, Jakarta Timur, ini
tidak pernah berhenti berkarya. Ide usaha ini tercetus dari keprihatinannya atas minimnya kualitas gizi makanan anak-anak di
sekitar tempat tinggalnya. Ia sering
melihat tetangganya membeli bubur ayam yang biasa mangkal di dekat rumah, untuk
sarapan balitanya.
“Saya prihatin,
bubur ayam itu kan memakai vetsin karena ditujukan untuk orang dewasa. Selain
itu tidak memenuhi asupan gizi. Kalau pun memakai ayam dan kerupuk, yang makan
kan ibunya. Anaknya hanya dikasi bubur dan kecap,” ujar Dias. Keprihatinan
itulah yang menggerakkan hati Hj. Dias. “Saya ingin mereka bisa mengkonsumsi
makanan bergizi.”
Suatu hari
ia memasak bubur dengan campuran sayur dan daging. Ketika sudah matang,
ia menggelar dagangannya di teras rumah
dengan menggunakan panci yang ditata di
atas meja. Tulisan di karton Jual Bubur Bayi dipasang di pagar rumahnya agar
menarik perhatian. “Banyak orang yang
lewat pada ngeliatin. Waktu itu saya bikin 2 jenis bubur yaitu daging dan ayam.
Harganya saat itu Rp 1000,/porsi,” kenangnya. Saat itu ia hanya memasak ½ liter
beras. Lantaran belum banyak orang tahu,
hari itu hanya laku tiga porsi.
Sepinya pembeli
di hari pertama, membuat sang suami, Kudjati Susanto, melarang istrinya
berjualan lagi. “Waktu itu Bapak melarang saya berjualan . Apa kata orang,
masak istri pensiunan Pertamina berjualan bubur?” Hj. Dias menirukan kata-kata
suaminya. Toh, akhirnya ia berhasil menyakinkan sang suami, apa yang
dilakukannya itu untuk menolong orang banyak. “Waktu itu saya bilang sama
Bapak, saya bukan mencari materinya. Tapi hanya ingin membantu para balita
untuk mendapatkan asupan gizi dari makanan sehat,” ujarnya.
90 mitra di Jabodetabek
Tak disangka, dari konsumen
perdana itulah words of mouth
tentang bubur bayi HJ. Dias menyebar ke
seluruh tetangga, bahkan hingga ke luar daerah Kayu Manis. Semakin hari,
pembeli yang datang semakin ramai. Jumlah produksi bubur pun semakin
ditingkatkan. Yang awalnya hanya ½ liter, naik menjadi 5 liter, lalu naik lagi
10 liter, 15 liter, hingga 30 liter.
Saat ini Dias
sudah memiliki 90 cabang yang tersebar di Jabodetabek, dengan jumlah dapur
produksi 12 buah. “Untuk dapur produksi di luar daerah Kayu Manis, saya
percayakan kepada anak-anak dan asisten. Sebelum mereka terjun langsung, saya
adakan pelatihan. Saya juga masih rutin mengontrol setiap dapur produksi agar kualitas tetap terjaga, karena saya
sangat menghindari vetsin dan bahan pengawet,. “ tegas wanita kelahiran Kebumen
1945 ini.
Untuk menjaga standar takaran, ia
menyiapkan sendok bubur yang sama agar
volume bubur sama di semua cabang. “Jadi kalau
porsinya tidak sesuai standar, pelanggan
bisa komplain ke nomor telepon saya,” kata wanita berusia 66 tahun ini.
Baginya, untung sedikit tidak masalah, yang penting rutin. “Kepada mitra saya
jual bubur Rp 1800 per porsi, dan mereka menjual dengan harga Rp 2.500. Niat
saya kan menolong, tidak 100% bisnis murni,” tambahnya.
Dengan begitu,
ia membuka lapangan pekerjaan bagi ibu rumah tangga, korban PHK, ataupun
karyawan yang ingin mencari penghasilan tambahan dengan menjual makanan sehat.

No comments:
Post a Comment