Tahun 2004 setelah melahirkan,
Yuli Setiawaty (31) memutuskan berhenti dari statusnya sebagai karyawan sebuah
perusahaan. Selama membesarkan sang putra tersebut Yuli mengamati, mainan atau alat bantu bermain itu amat
berarti bagi tumbuh kembangnya seorang bocah. “Kebanyakan jenis mainan impor
itu terbuat dari kayu. Lalu saya pikir kenapa tidak membuat mainan seperti ini
sendiri,” kata Yuli.
![]() |
| Aneka mainan berbahan kayu limbah. |
Ide berbisnis pun akhirnya terlahir. Karena masih terhambat
modal, sembari belajar membuat mainan, Yuli memulai usahanya sebagai penjual
atau reseller mainan impor. Dengan cara seperti ini Yuli sekaligus
menjajaki pangsa pasar.
Baca Juga: Warung Tahu: Menu Sehat Serba Tahu
Awalnya hanya sekolah tertentu yang menjadi pasar mainan
tersebut. Hal ini dilatarbelakangi
karena harga pengadaan mainan tersebut cukup mahal. Oleh karena itu tekad memproduksi sendiri
mainan ini semakin besar. Ia membuat
mainan serupa dengan harga yang lebih terjangkau. “Saya juga ingin mendesain mainan untuk
sekolah-sekolah dengan kebutuhan khusus.
Misalnya untuk terapi,” tutur wanita asal Purwokerto itu.
Uang hasil keuntungan menjual mainan impor itu digunakan sebagai modal awal. Saat itu ia hanya memiliki 1 buah mesin
kompresor dan 1 mesin potong. Modal
penjualan hanya sebesar Rp 500.000.
Ternyata produk buatan Yuli mendapat respon bagus dari pasar. Akhirnya Yuli merekrut 1 karyawan.
“Saat itu saya hanya bisa bikin 1 jenis mainan, yaitu wire-game. Karena kan alat-alatnya tidak lengkap,” imbuh Yuli.
Usahanya pun semakin berkembang. Akhirnya ia mampu
memproduksi 50 jenis aneka mainan
berbahan kayu. Bahan dasar pembuat mainan adalah, MDF, jati belanda, karet dan
pinus. Yuli juga menggunakan kayu sisa-sisa
pabrik yang dipasok dari perindustrian di sekitar Klender, Jakarta Timur. Setiap bulan ia mengaku menghabiskan kayu
sebanyak 1 m kubik untuk membuat mainan.
Cara pemasaran yang ditempuh mulai dari teman ke teman, lalu merambah
dari sekolah ke sekolah. Tak
ketinggalan, Yuli juga menjajaki pasar melalui berbagai ajang pameran. Saat ini sudah banyak sekolah mengenal produk
buatan Yuli.
Kini setiap bulan Yuli mampu meraup omzet sekitar Rp 20
juta. Ketatnya persaingan tak menyurutkan langkah perempuan kreatif ini dalam
berusaha. Salah satu kiatnya, memberikan harga bersaing dan terus melakukan
inovasi mendesain jenis mainan baru.

No comments:
Post a Comment