Yoghurt Plus 4 Probiotik: Omzetnya Sebulan, Sebesar Modal Awal - KABAR BISNIS MU

KABAR BISNIS MU

Bisnis adalah kegiatan manusia yang bertujuan untuk menghasilkan uang dengan memproduksi dan menjual suatu produk, baik itu barang atau jasa. KABAR BISNISMU memberikan segudang informasi tentang peluang usaha, bisnis,kuliner,tehnologi dan berita berita terbaru

Breaking

Friday, March 1, 2019

Yoghurt Plus 4 Probiotik: Omzetnya Sebulan, Sebesar Modal Awal


Ini hasil keuletan Hardy Salim,  mengeksplorasi sendiri  ramuan yoghurt , es  krim, serta es mambo dengan tambahan 4 jenis probiotik.  Yoghurt  tanpa bahan pengawet  ini berbahan susu sapid an buah asli. Terbukti, inovasinya  mendapat tanggapan positif dari masyarakat. .

Yoghurt Sweetheart
Diedarkan dengan  merek  Yoghurt Sweetheart (YS), produk  ini memiliki  6 pilihan rasa buah aseli,  yaitu blueberry, strawberry, blackberry, raspberry, cranberry, dan kiwi. “Sementara ini,  rasa blueberry  yang paling laris,” terang Hardy Salim, pemilik YS di Serpong, Tangerang. Semua buah tersebut, diimpor dari Kanada. Sengaja ia menggunakan buah-buahan dari luar negeri, sebagai salah satu ciri produk yoghurt buatannya. Yoghurt cair tersebut  dikemas dalam botol plastik berukuran 220 ml dan 290 ml.

Selain yoghurt, Hardi juga membuat es mambo dan es krim. Sama seperti yoghurt, bahan utama pembuatan es mambo dan es krim adalah susu sapi murni ditambah 4 probiotik yaitu Streptoccocus Thermophillus, Lactobacillus Bulgaricus, Bifidobacterium Longum dan Lactobacillus Acidophillus. Tak heran, Hardi selalu mempromosikan produknya sebagai  health food. Seperti kita ketahui probiotik bermanfaat untuk kesehatan tubuh.

Inovasi sendiri

Apa yang diraih Hardi merupakan buah keuletan sendiri.  Awalnya,  saat  masih bekerja sebagai pegawai, ia membantu usaha ibu mertuanya yang berjualan yoghurt di Lembang, Bandung. Saat itu  mereka tidak membuat sendiri yoghurtnya, tapi hanya mengambil  dari pabrik, lalu dikemas dan dijual. Setelah berhenti bekerja, Hardi total membantu mertuanya.

“Hanya saja saya kurang sreg dengan yoghurt buatan pabrik. Karena selain menggunakan bahan pengawet, mereka  hanya memakai  essence sebagai pembuat rasa. Tidak asli,” terang Hardi.  Mulailah saat itu ia belajar membuat yoghurt sendiri, disela-sela berjualan yoghurt. Ia melakukannya secara otodidak, dengan mencari resep dan cara membuatnya lewat internet. Kalaupun  bertanya kepada orang yang sudah berbisnis  yoghurt sendiri, ia pasti akan kecewa. Karena mereka biasanya enggan memberikan rahasia pembuatan yoghurtnya.

Setelah setahun mengadakan ujicoba, akhirnya ia mendapatkan cara yang pas membuat yoghurt enak. Sedikit  bocoran, resepnya tetap sama menggunakan susu sapi asli, probiotik dan buah-buahan. Hanya saja alat-alat apa saja yang digunakan dan kapan waktu yang tepat mencampurkannya, itu yang menjadi rahasia yoghurt buatannya. “Karena salah menggunakan panci saja, yoghurt tidak akan jadi,” terang Hardi.  Tahun 2007. dengan modal  Rp 30 juta, ia memulai usaha yoghurtnya tersebut di Serpong, Tangerang.  

Berjualan keliling

“Saya mulai menjual produk ini 3 tahun lalu dengan cara berkeliling di pasar modern BSD,” terang Hardi. Lambat laun produknya banyak dikenal orang. Yoghurt buatannya  sudah menjadi langganan restoran dan rumah makan  di kawasan Tangerang.  Ia juga sudah mempunyai kios sendiri di pasar modern BSD. Pendapatannya pun makin meningkat. Kini dalam sehari, ia bisa mendapatkan omzet antara Rp 500.000 – Rp 1 juta dari hasil penjualan yoghurt, es krim dan es mambo. Total penghasilan sampai Rp 30 juta/bulan

Hidup sehat. Itulah yang menjadi moto Hardi dalam menjalankan usaha yoghurtnya. Selain tanpa bahan pengawet, ia juga tidak menggunakan powder, zat pengembang makanan. Meski dengan konsekuensi, proses pembuatannya lebih lama dan daya tahan yoghurt juga berkurang. “Bila ditaruh dalam lemari pendingin, bisa tahan 7 hari. Tapi kalau diletakan di luar, 2-3 jam saja sudah rusak,” terangnya. Probiotik didapatkan dari sebuah lembaga pendidikan tinggi negeri, dengan kualitas bagus.

Meski dibuat dengan standar kesehatan tinggi dan bahan-bahan pilihan,  Hardi tidak mematok harga  lebih mahal. Produk  yoghurt  kemasan botol 220 ml ia jual dengan harga Rp 11.000 dan ukuran 290 ml sebesar Rp 15.000. Harga itu menurutnya lebih murah dibandingkan dengan produk sejenis yang menggunakan bahan campuran kimia. “Saya mengambil keuntungan tidak besar. Dari setiap produk yang saya jual, hanya mengambil keuntungan sebesar 30 % saja,” terang Hardi lagi. Ia optimis produknya akan diterima pasar.

No comments:

Post a Comment