Menyadari
penghasilannya sebagai pegawai negeri tidak cukup, Sumardi (58),warga Surabaya
berinisiatip membuat usaha sampingan. Pilihannya kedai kuliner khas, sambel
wader, aneka botok, dan nasi jagung. Tempatnya unik, di dekat gemericik air
kincir angin. Diawali dengan 3 tenaga, kini sudah memiliki 16 karyawan.
![]() |
| Suasana di Kedai Kicir. |
Melihat banyak warung pinggir jalan di daerahnya laris manis setiap hari, Sumardi merasa
tertantang bermain di ceruk pasar yang masih luas tersebut. Tahun 2000 ia menjajagi membuka kedai makan .
Kebetulan ketemu tempat yang cukup menarik dan unik. Yakni
di tepi sungai
yang airnya tidak deras, dekat sebuah kicir (kincir air atau turbin) dengan
suara gemericik sepanjang hari.
Lokasi ini
menarik para pengunjung dan melahirkan suasana sejuk di sekeliling kedai sehingga pembeli bisa betah dan berlama-lama berada dalam
kedai. Bermodal awal
Rp 8 juta plus tempat yang asri dan sejuk, ia mulai berusaha kuliner di kawasan
Jl. Ketintang Selatan, Surabaya
Menu
Tradisional Suasana desa
Selain tempatnya yang sejuk, kedai makan ini
menyediakan aneka menu khas yang jarang ditemui di tempat lain. Menu andalannya
antara lain sambel wader, yakni wader goreng yang dilengkapi dengan sambel
campuran cabe, terasi, tomat, cabai dan bawang merah dan bawang putih. Rasanya sangat menggigit, membuat para pengunjung pingin datang lagi dan lagi.
Menu khas berikutnya, beragam jenis
menu botok yang
semua berbahan dasar olahan ikan. Misalnya, Botok Patin, Botok Gurami, Botok
Tongkol,Botok Telur Asin dan Botok Tahu Tempe. Botok adalah masakan yang
dimasak dengan campuran kelapa dan dibungkus dengan daun pisang kemudian
dikukus. Menu ini jarang didapati di resto moderen, apalagi olahan yang dipakai adalah
ikan. Kalau
pengunjung sudah mulai bosan dengan sajian yang ada, mereka akan menawarkan patin bakar dan gurami bakar.
Untuk melengkapi menu tradisional, Sumardi menyediakan bermacam nasi, seperti nasi
putih, nasi
jagung dan nasi gurih.
Pengunjung dapat mengambil nasi
sepuasnya hanya dengan Rp. 3000. Selain menu
makanan pedesaan, pilihan jenis minumannya tak kalah uniknya. Misalnya, es sinom, beras kencur yang sangat diminati oleh pengunjung.
Mengalir
Seperti Air
Dalam mengelola kedainya, Sumardi dibantu oleh sang istri. “Sejak kedai
berdiri semuanya kami kelola sendiri, dibantu 3 orang pegawai yang masak dan menyajikan. Sekarang jumlah pegawai kami 16 orang,” ujar Sumardi yang sudah memiliki cabang baru Kedai kicir II tidak jauh dari kedai
yang pertama.
Setiap hari Kedai Kicir mampu menghabiskan 60 kg nasi. Pada jam-jam makan siang kedai dipenuhi pembeli yang sebagian besar pegawai kantoran. Jumlah wader yang
dimasak 50 kg/hari. Uniknya, ketika selesai
digoreng (matang) berat wader bisa susut sampai setengahnya. Misalnya 30 kg wader bisa jadi yang dinikmati dan disajikan
cuma 15 kg saja.
Dalam menjalankan usahanya, Sumardi berprinsip semuanya biarkan mengalir saja seperti air. Dinikmati saja yang ada sambil terus mencari peluang dan
kesempatan baru. “Saya tidak terlalu memikirkan kendala
tapi membangun yang ada untuk terus dikembangkan. Buktinya, lahan berjualan kami dahulu bisa dibilang
hanya ‘meteran’ tapi sekarang sudah berkembang dengan lesehan terbuka dan
tempat duduk bagi pengunjung,” akunya.

No comments:
Post a Comment