Kedai Kicir: Unggulannya Sambel Wader, Aneka Botok, Plus Es Sinom - KABAR BISNIS MU

KABAR BISNIS MU

Bisnis adalah kegiatan manusia yang bertujuan untuk menghasilkan uang dengan memproduksi dan menjual suatu produk, baik itu barang atau jasa. KABAR BISNISMU memberikan segudang informasi tentang peluang usaha, bisnis,kuliner,tehnologi dan berita berita terbaru

Breaking

Friday, January 18, 2019

Kedai Kicir: Unggulannya Sambel Wader, Aneka Botok, Plus Es Sinom

Menyadari penghasilannya sebagai pegawai negeri tidak cukup, Sumardi (58),warga Surabaya berinisiatip membuat usaha sampingan. Pilihannya kedai kuliner khas, sambel wader, aneka botok, dan nasi jagung. Tempatnya unik, di dekat gemericik air kincir angin. Diawali dengan 3 tenaga, kini sudah memiliki 16 karyawan.
Suasana di Kedai Kicir.
Melihat banyak warung pinggir jalan di daerahnya laris manis setiap hari, Sumardi merasa tertantang bermain di ceruk pasar yang masih luas tersebut. Tahun 2000 ia menjajagi membuka kedai makan . Kebetulan ketemu tempat  yang cukup menarik dan unik. Yakni di tepi sungai yang airnya tidak deras, dekat sebuah kicir (kincir air atau turbin) dengan suara gemericik sepanjang hari.
 
Lokasi ini  menarik para pengunjung dan melahirkan suasana sejuk di sekeliling kedai sehingga pembeli bisa betah dan berlama-lama berada dalam kedai. Bermodal awal Rp 8 juta plus tempat yang asri dan sejuk, ia mulai berusaha kuliner di kawasan Jl. Ketintang Selatan, Surabaya

Menu Tradisional Suasana desa

Selain tempatnya yang sejuk, kedai makan ini menyediakan aneka menu khas yang jarang ditemui di tempat lain. Menu andalannya  antara lain sambel wader, yakni  wader goreng yang dilengkapi dengan sambel campuran cabe, terasi, tomat, cabai dan bawang merah dan bawang putih. Rasanya sangat menggigit, membuat  para pengunjung pingin datang lagi dan lagi. 

Menu khas berikutnya, beragam jenis menu botok yang semua berbahan dasar olahan  ikan. Misalnya, Botok Patin, Botok Gurami, Botok Tongkol,Botok Telur Asin dan Botok Tahu Tempe. Botok adalah masakan yang dimasak dengan campuran kelapa dan dibungkus dengan daun pisang kemudian dikukus. Menu ini jarang didapati di resto moderen, apalagi olahan yang dipakai adalah ikan. Kalau pengunjung sudah mulai bosan dengan sajian yang ada, mereka akan menawarkan patin bakar dan gurami bakar. 

Untuk melengkapi menu tradisional,  Sumardi menyediakan bermacam nasi, seperti nasi putih, nasi jagung dan nasi gurih.  Pengunjung dapat mengambil nasi sepuasnya hanya dengan Rp. 3000.   Selain menu makanan pedesaan, pilihan jenis minumannya tak kalah uniknya. Misalnya, es sinom, beras kencur yang  sangat diminati oleh pengunjung.  

Mengalir Seperti Air

Dalam mengelola kedainya,  Sumardi dibantu oleh sang istri. “Sejak kedai berdiri semuanya kami kelola sendiri, dibantu  3 orang pegawai yang masak dan menyajikan. Sekarang jumlah pegawai kami 16 orang, ujar Sumardi yang sudah memiliki cabang baru Kedai kicir II tidak jauh dari kedai yang pertama.

Setiap hari Kedai Kicir mampu menghabiskan 60 kg  nasi.  Pada jam-jam makan siang kedai dipenuhi pembeli yang sebagian besar pegawai kantoran. Jumlah wader yang dimasak  50 kg/hari. Uniknya,   ketika selesai digoreng (matang) berat wader bisa susut sampai setengahnya. Misalnya 30 kg wader bisa jadi yang dinikmati dan disajikan cuma 15 kg saja.

Dalam menjalankan usahanya, Sumardi berprinsip  semuanya biarkan mengalir saja seperti air. Dinikmati saja yang ada sambil terus mencari peluang dan kesempatan baru. Saya tidak terlalu memikirkan kendala tapi membangun yang ada untuk terus dikembangkan. Buktinya,  lahan berjualan kami dahulu bisa dibilang hanya ‘meteran’ tapi sekarang sudah berkembang dengan lesehan terbuka dan tempat duduk bagi pengunjung,” akunya.

No comments:

Post a Comment