Mengingat
pasarnya yang luas sedangkan pemasoknya masih sedikit, Suhartono (41) warga Surabaya memutuskan
terjun ke usaha pembuatan tea bag dan mesin kemasan makanan. Dengan modal awal diambil
dari DP para pemesan, keuntungan yang didapat sekitar Rp 100 juta/bulan.
![]() |
| Ilustrasi (Istimewa) |
Berbendera Indo
Multi Creative usaha ini diawali tahun 2000 dengan produksi
kemasan aneka jenis makanan, kemudian difokuskan pada produksi tea packaging atau kantung teh
celup dan penjualan mesin kemasan. Para pemesan datang dari kalangan pengusaha hotel, rumah
makan dan UKM. “Awalnya produk kami berbentuk seperti pembungkus kopi, saos, snak makanan ringan,
sedotan, kecap dan packing aneka bubuk seperti jamu dan bumbu masak’ ujar Hartono. Modal kerjanya diambil dari DP (down
payment) yang biasanya 50% dari harga
pemesanan. Uang itu digunakan untuk membeli bahan baku.
Tahun 2010 dicoba membuat dan memperkenalkan produk
kantung teh celup. Ternyata tanggapan dan respon pasar sangat
positif. Banyak pengusaha UKM memesan kantong celup untuk keperluan industri rumahan. Harga kemasan kantung
teh celup
berkisar antara Rp.
100 – Rp 125/
pcs. Harga
tersebut bervariasi tergantung bentuk atau tekstur yang dipesan. Ada kemasan teh celup bertekstur polos dengan bentuk bulat dan kotak bulat. Untuk jumlah pesanan di atas 50.000 pcs, diberikan diskon
khusus. Keuntungan yang diperoleh Rp 25/kantung. Produk
berikutnya adalah, packaging teh, yang dalam
pemasarannya bekerjasama dengan industri teh yang besar antara lain, PTP,
Herbalindo, Teh Poci, Teh Gopek, Villa.
Hingga saat ini wilayah pemasarannya menyebar ke seluruh Indonesia, seperti Jawa, Medan,
Palembang, Sulawesi dan wilayah Indonesia Timur. ”Setelah
dua tahun berjalan, sebagai pemain dalam pembuatan packaging teh saya sudah diakui secara nasional,”
tambahnya. Bahkan dalam waktu dekat selain mencukupi kebutuhan dalam negeri, Hartono sudah bersiap mengekspor kantung
teh celup dalam bentuk rol
untuk memenuhi pesanan dari Timur Tengah.
Biasanya pemesan dari
kalangan industri UKM membeli kantung teh celup standar yang siap pakai.
Kemudian pengisian teh, memberi tali dan label perusahaannya dilakukan secara
manual oleh pembeli yang bersangkutan
Mesin packaging teh
Indo
Multi Creative juga merakit mesin packaging teh. Mesin ini mengambil alih
fungsi manusia dalam mengemas teh celup. Kita
tinggal memasukan kertas pembungkus berbentuk
rol, bahan teh, tali dan tagnya ke mesin
tersebut, lalu secara mekanis
keluar kantung yang sudah terisi teh lengkap dengan tali dan
tag seperti umumnya teh celup. Rata-rata dalam 1 menit mesin dapat menghasilkan
sekitar 40 pcs kantong teh. Selain
untuk teh,
mesin ini juga dapat digunakan untuk mengemas berbagai macam jenis serbuk
makanan/minuman dari bahan lain seperti kopi
dan jamu.
“Di Indonesia yang mampu membuat mesin tea bag ini masih jarang. Dari 10 orang yang dapat membuat dan menawarkan
barang rakitan yang sama, yang bisa memenuhi kriteria dan sesuai standard mungkin
hanya sekitar sekitar 5 orang saja” jelas Hartono. Maklum, selama ini mesin packaging teh yang digunakan
oleh beberapa pabrik teh di Indonesia
masih import yang harganya
bisa mencapai ratusan juta rupiah. Nah, mesin packaging
tea bag buatan lokal ini harganya jauh lebih
murah sekitar Rp.
100 juta.
Secara umum body mesin ini terbuat dari baja, sedangkan
bagian dalamnya dari bahan stainless steel karena berhubungan langsung dengan makanan
yang akan ditakar sehingga memenuhi standar kesehatan. Untuk
merakit sebuah mesin dibutuhkan waktu sekitar 3 bulan. Dengan demikian para pemesan
diharapkan bisa menyesuaikan waktu pembuatannya.
Selain mesin packaging
teh Hartono juga menerima pesanan pembuatan mesin packaging saos,
gula, dalam bentuk sachet. Hanya cara
kerja mesin packaging kemasan lain tidak serumit mesin packaging teh. Mesin
packaging lain berkerja dengan satu kali proses sedangkan untuk mesin packaging teh proses yang dilakukan
melalui beberapa tahap mulai dari menakar, mengepak memberi tag dan tali.
Total omzet dari semua
jenis produk sekitar Rp 300 juta/bulan. Dari jumlah tersebut keuntungan yang
diperoleh antara
Rp 50- Rp 100 juta/bulan

No comments:
Post a Comment