Paguyuban Daur Ulang Plastik: Mencari Mitra Penjualan Produk Daur Ulang - KABAR BISNIS MU

KABAR BISNIS MU

Bisnis adalah kegiatan manusia yang bertujuan untuk menghasilkan uang dengan memproduksi dan menjual suatu produk, baik itu barang atau jasa. KABAR BISNISMU memberikan segudang informasi tentang peluang usaha, bisnis,kuliner,tehnologi dan berita berita terbaru

Breaking

Friday, February 15, 2019

Paguyuban Daur Ulang Plastik: Mencari Mitra Penjualan Produk Daur Ulang


Dengan metoda heat transfer atau disetrika panas,  Asep Kusuma (51) berhasil mendaur ulang limbah plastik  menjadi beraneka ragam produk fungsional. Kualitasnya tak kalah dengan produk serupa yang bermerek. Yang berminat bisa bergabung sebagai mitra penjualan.

Sandal yang dibuat dari daur ulang plastik (Andra)

Tidak cepat rusak dan anti air adalah kelebihan  produk  Paguyuban Daur Ulang Plastik  di Jl. Palem Raja Raya Blok K 17 Komp. Setneg RI Ciledug,  Tangerang. Barang-barang seperti jas hujan, tas, sampai dengan dompet dan sepatu dibuat menggunakan kantong plastik bekas yang didaur ulang. Paguyuban  ini mampu menyulap limbah plastik menjadi aneka macam barang  cantik  untuk keperluan sehari-hari. Bayangkan dengan membuat 10.000 tas belanja daur ulang berukuran 40 cm x 50 cm serta tebal 20 cm berarti telah mengurangi 3 ton sampah kantong plastik.


Adalah Asep Kusuma (51), yang mempunyai ide menjalankan bisnis ini. “Saya melihat  sampah  yang paling banyak  adalah plastik. Jika sampah organik lainnya bisa ditangani tetapi  plastik  perlu  waktu selama 400 tahun untuk mengurainya, ”papar Asep.  Setelah mencari solusi bagaimana cara menanggulangi sampah plastik, ia  menemukan cara yang paling ampuh. Yakni dengan  sistem heat transfer, atau  disetrika.  
  
Eksperimen  berbiaya Rp  60 juta
  
Selama  6 bulan  Asap melakukan berbagai  ekperimen  mendaur ulang plastik dengan biaya sekitar Rp 60 juta. Tiga bulan pertama  ia  bereksperimen  menggunakan kantong plastik kresek. Tapi gagal lantaran produknya  mudah jebol dan kasar. Berikutnya ia  mencari  jenis plastik  yang lebih bagus, tebal  dan tidak mudah robek.  Sampai akhirnya berhasil  mendaur ulang 900 lembar kantong plastik untuk membuat 15 jas hujan.

  
“Produk yang  disukai pelanggan  tas. Tapi sekarang  lagi booming jas hujan. Inilah  satu-satunya jas hujan yang berbahan plastik  daur ulang,” kata Asep sembari memamerkan jas hujan buatannya. Asep  yakin  jika produknya dijual di  mall-mall pun, tidak akan kalah bersaing dengan barang bermerek lainnya. Selain di Jakarta, kini  ia bekerjasama dengan sejumlah toko di  Makassar dan Bandung. Selain untuk memperluas pasar, kerjasama ini dibangun untuk lebih mengenalkan masyarakat akan pentingnya melakukan daur ulang plastik.

Strategi kerja sama ini  dibagi menjadi tiga macam yaitu;  agen penjualan, buka toko, dan mitra wirausaha. Kelengkapan program kerja sama ini bisa dipelajari lebih lanjut  pada  situsnya www.daurulangkantongplastik.com.

Memproduksi 1000 tas/bulan

 Modal lancar  dalam operasional sehari-hari  Rp  17 juta/bulan. Uang itu digunakan  untuk membeli bahan-bahan guna membuat produk dan menggaji karyawannya. Sedangkan  omzet yang diraup Asep  Rp  40 juta/ bulan. Harga jual produknya berkisar antara  Rp  4.000-Rp 140.000/unit.  Produk termahalnya berupa jas hujan ukuran dewasa, sedangkan  produk termurahnya amplop.
  
Selain mendapatkan keuntungan sekaligus melestarikan lingkungan, bisnis ini juga membuka lapangan kerja  bagi masyarakat sekitarnya.  “Dari  segi  pemanfaatan limbah  mungkin dampaknya tidak besar, paling hanya seperempat dari jumlah limbah yang ada. Tapi saya  lebih mengarah pada penciptaan lapangan kerja. Misalnya  dengan kapasitas produksi 10.000 tas/bulan, kita bisa menyerap  70 orang pekerja. Sekarang ini saya baru mempekerjakan 7 orang untuk membuat  15 jas hujan / hari”. Asep pun ingin membangun kerja sama dengan panti-panti asuhan di beberapa tempat di Jakarta untuk diiuktsertakan dalam pembuatan produknya. Dengandemikian mereka bisa hidup mandiri, tanpa harus mengandalkan sumbangan.

No comments:

Post a Comment