Budidaya Jenitri: Rezeki Gede, Pasar Ekspor Biji Jenitri - KABAR BISNIS MU

KABAR BISNIS MU

Bisnis adalah kegiatan manusia yang bertujuan untuk menghasilkan uang dengan memproduksi dan menjual suatu produk, baik itu barang atau jasa. KABAR BISNISMU memberikan segudang informasi tentang peluang usaha, bisnis,kuliner,tehnologi dan berita berita terbaru

Breaking

Friday, February 15, 2019

Budidaya Jenitri: Rezeki Gede, Pasar Ekspor Biji Jenitri


Tak banyak yang tahu, biji jenitri (Elaeocarpus ganitrus) berharga tinggi. Karena digunakan sebagai sarana sembahyang dan diyakini memiliki dampak spiritual bagi pemakainya, permintaan pasar India dan negara lain  cukup besar.  Central Jenitri, pemasok  biji jenitri dari Kebumen, Jawa Tengah, dalam sebulan mampu mengekspor 20 – 30 ton.

 Biji Jenitri 


Di India biji ini dikenal sebagai rudraksha. Kata rudra berarti Dewa Siwa dan aksa artinya mata. Disebut rudraksha atau mata Siwa karena konon tanaman jenitri  tumbuh dari  air mata tetesan Dewa Siwa.  Itulah sebabnya, biji yang permukaannya berlekuk-lekuk ini digunakan sebagai sarana sembahyang orang India dan diyakini punya kekuatan spiritual dan pengobatan.


Indonesia adalah pemasok jenitri terbesar,  sekitar 80%. Sementara 15% pasokan lainnya dari Nepal. Sedangkan India, negara pengguna utama rudraksha hanya memproduksi 5%.
Salah  seorang pembudidaya jenitri yang sukses adalah Mujiman Eru Wibawanto  warga Kutosari, Kebumen, Jawa Tengah pemilik  Central Jenitri yang merintis usahanya  tahun 1972. “Usaha ini bisa berjalan hampir 40 tahun karena selalu ada permintaan dari India. Berapapun barang yang ada, mereka ambil,” kata Wisnu Aji Permana  yang  menggantikan ayahnya mengelola usaha ini.

Jalin kemitraan
    
Awalnya  produksi Central Jenitri  hanya mengandalkan hasil dari kebun sendiri. Karena permintaan meningkat, mereka pun menjual bibit dan mengajak para petani bermitra. Selain membeli bibit, para petani juga menjual hasil panennya ke Central Jenitri.  Jumlah petani  mitranya ratusan, tersebar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Bali.  

    
Untuk menjaring  konsumen dari berbagai negara, Wisnu membuat website www.centraljenitri.com. Tiap dua bulan ia  mengekspor  minimal 1 kontainer,  berisi 20-30 ton biji jenitri.  Yang dikirim adalah biji  berdiameter 6 mm – 11mm, yang sudah melalui proses pensortiran, dan pembersihan. Biji besar yang tidak lolos saringan dipisahkan dan  digunakan untuk membuat aneka kerajinan. Misalnya kalung, gelang, penghias tempat tisu, tempat buah, vas bunga, lilin, lampu teplok, dan sebagainya.

Barang kerajinan ini  dijual ke  Bali, Jakarta, dan Semarang. Selain itu, pengiriman biji pun berkembang tak hanya ke India tapi juga ke Malaysia dan Jepang. “Ada orang India yang tinggal di Malaysia, jadi kami juga kirim ke situ. Tapi permintaannya tidak sebanyak India,” ungkap Wisnu

Penanganan paska panen

Penentu keberhasilan budidaya jenitri adalah pemilihan bibit. Sebaiknya menggunakan bibit sambung pucuk, jangan  yang berasal dari biji. Sebab, bibit dari biji berbuahnya lama. Umur 7-10 tahun baru diperoleh panen perdana. Kalau dari bibit sambung pucuk jenitri bisa dipanen pada umur 2-3 tahun. Satu pohon muda mampu menghasilkan  sekitar 2000 butir.  Pada panen  raya sekitar  Februari – Juni, hasilnya  bisa mencapai lima kali lipat dari panen muda. Pada panen susulan  hasilnya  tinggal sepertiga dari panen raya.

Saat panen perdana pendapatan petani sekitar Rp 300.000 – Rp 500.000, tapi makin tua pendapatan kian berlipat. Wisnu juga menjual bibit. Untuk bibit umur 3-6 bulan dengan tinggi pohon 50 cm – 100 cm dijual seharga Rp 100.000.

Buah hasil panen  direbus selama kurang lebih dua jam. Setelah agak dingin,  dimasukkan karung dan diinjak-injak supaya kulit buah mengelupas. Kulit dibuang, bijinya dijemur. Penjemuran selama 1-2 hari sampai biji kering dan siap dijual.

No comments:

Post a Comment