White House Vegetarian: “Daging” Dari Jamur, Kedelai Plus Kembang Tahu - KABAR BISNIS MU

KABAR BISNIS MU

Bisnis adalah kegiatan manusia yang bertujuan untuk menghasilkan uang dengan memproduksi dan menjual suatu produk, baik itu barang atau jasa. KABAR BISNISMU memberikan segudang informasi tentang peluang usaha, bisnis,kuliner,tehnologi dan berita berita terbaru

Breaking

Friday, February 15, 2019

White House Vegetarian: “Daging” Dari Jamur, Kedelai Plus Kembang Tahu


Satu lagi pilihan resto buat pada pelaku vegetarian,  White House Vegetarian (WHV), Tangerang.  Silakan menyantap  soto tangkar, rendang, pecel lele, pecel ayam atau makanan khas Eropa chicken gordon blue tanpa menggunakan daging.

Salah satu menu di White House.

Sepintas  tempat ini seperti  resto biasa  dengan jenis makanan  Indonesia pada umumnya. Seperti soto tangkar, pecel lele, gulai kambing, ayam goreng kremes, rendang, krecek dan lainnya. Begitu pula saat Anda  mencicipinya, rasa daging ayam, ikan atau daging lainnya sama dengan makanan serupa di resto lain.


Begitulah kesan mereka  yang baru pertama kali datang ke sini.  Setelah makan, baru mereka bertanya, katanya ini rumah makan vegetarian, kok makanannya berdaging semua? Lalu saya jawab, makanan yang Bapak makan itu bukan daging meski tekstur dan khas rasanya seperti daging,” jelas Willian Ernest (27), pengelola WHV di Serpong, Tangerang. Setelah itu William menjelaskan aneka bahan baku makanan tersebut.

Misalnya,  bentuknya, bahan baku  soto tangkar, dibuat dari kaki jamur. Bahan pengganti  daging sapi atau daging ayam, adalah kedelai atau bisa juga  kembang tahu. Bahan-bahan tersebut kemudian dimodifikasi oleh William dan keluarganya, hingga menyerupai bentuk seperti daging aseli.

Kreasi Sendiri

Berdiri sejak Juli 2010,  WHV menyediakan  60 menu. “Kebetulan saya mempunyai koki yang sudah 20 tahun bekerja di keluarga saya. Dia bisa memasak apa saja keinginan  keluarga. Awalnya memang mama saya yang mengajarinya,” ucap William. Yang menarik,  anggota keluarga William semuanya vegetarian. Ide penamaan resto itu pun tak lepas dari  gaya hidup vegetarian  keluarga. WHITE merupakan kumpulan inisial nama anak-anak William yang menjadi vegetarian sejak 15 tahun lalu.


Yang membedakan WHV dengan  resto sejenis  adalah  menunya. “Kebanyakan resto vegetarian menyajikan  makanan  khas Eropa atau Cina. Kalau saya agak berbeda, yaitu khas Nusantara,” terang William yang sempat 6 tahun tinggal di Amerika Serikat. Untuk tatanan ruang resto, William menconteknya dari resto vegetarian yang ada di Amerika. Nuansa yang ditampilkan bergaya Eropa. Lengkap dengan musik dari Perancis sebagai peneman makan.

Satu hal lagi yang menjadi ciri khasnya,  WHV  tidak menggunakan bawang sebagai bumbu makanan. Menurut William, bawang buat makanan vegetarian kurang baik. Bawang lebih cocok untuk makanan yang berdaging. Karena bawang, secara biologi bisa menetralkan efek yang kurang bagus dari mengkonsumsi daging. Lantaran tidak menggunakan daging, tentu saja bawang tidak diperlukan lagi.

Omzet Rp 60 juta
           
William tak ingat  persis  uang yang diinvestasikan untuk usaha ini. Yang jelas, biaya terbesar selain untuk sewa ruko selama 2 tahun,  dan membeli bahan baku. Pasalnya, bahan baku utama pengganti daging masih diimpor dari Taiwan. 

Meski belum setahun berdiri, omzet resto ini  cukup lumayan. “Omzet sebulan bisa  Rp 50 juta – Rp 60 juta. Meskipun demikian  biaya operasionalnya juga besar,” papar William yang mempekerjakan 8 orang karyawan.  Pengunjung banyak berdatangan pada Sabtu-Minggu dan hari libur. Restonya sendiri buka dari jam 10 pagi – jam 9 malam.  
Karena  citra rasanya  tidak berbeda dengan makanan lainnya, target konsumen yang disasar semua golongan.  Baik yang vegetarian ataupun yang bukan.

Agar bisa menjangkau semua kalangan, harga makanan dijual berkisar antara Rp 12.000 – Rp 15.000. William optimis, usahanya bakalan terus berkembang. Masyarakat, umumnya yang berada di daerah perkotaan semakin sadar akan pentingnya kesehatan makanan bagi tubuh.  “Kemunculan gerai-gerai vegetarian menurut saya malah bagus. Kita bisa saling melengkapi. Artinya semakin banyak pilihan orang untuk menikmati makanan sehat non daging,” ungkap William.


No comments:

Post a Comment