Satu lagi pilihan resto buat
pada pelaku vegetarian, White House
Vegetarian (WHV),
Tangerang. Silakan menyantap soto tangkar, rendang, pecel lele, pecel ayam
atau makanan khas Eropa chicken gordon blue tanpa menggunakan daging.
![]() |
| Salah satu menu di White House. |
Sepintas tempat ini seperti resto biasa dengan jenis makanan Indonesia pada
umumnya.
Seperti soto tangkar, pecel lele, gulai kambing, ayam goreng kremes, rendang,
krecek dan lainnya. Begitu pula saat Anda mencicipinya, rasa daging ayam, ikan atau
daging lainnya sama dengan makanan serupa di resto lain.
“Begitulah kesan mereka yang baru pertama kali datang ke sini. Setelah makan, baru mereka bertanya, katanya ini rumah makan vegetarian, kok
makanannya berdaging semua? Lalu saya jawab, makanan yang Bapak makan itu bukan daging
meski tekstur dan khas rasanya seperti daging,” jelas Willian Ernest (27),
pengelola WHV di Serpong, Tangerang. Setelah itu William menjelaskan aneka bahan baku makanan
tersebut.
Misalnya, bentuknya, bahan baku soto tangkar, dibuat dari kaki jamur. Bahan
pengganti daging sapi atau daging ayam, adalah kedelai atau bisa
juga kembang tahu. Bahan-bahan tersebut kemudian
dimodifikasi oleh William dan keluarganya, hingga menyerupai bentuk seperti
daging aseli.
Kreasi Sendiri
Berdiri sejak Juli 2010, WHV menyediakan 60 menu. “Kebetulan saya mempunyai koki yang
sudah 20 tahun bekerja di keluarga saya. Dia bisa memasak apa saja
keinginan keluarga. Awalnya memang mama saya yang mengajarinya,” ucap William. Yang
menarik, anggota keluarga William semuanya vegetarian. Ide
penamaan resto itu pun tak lepas dari
gaya hidup vegetarian keluarga.
WHITE merupakan kumpulan inisial nama anak-anak William yang menjadi vegetarian sejak 15
tahun lalu.
Baca Juga: Burger Setan: Sensasi Burger Berwarna Hitam
Yang membedakan WHV dengan resto sejenis adalah
menunya. “Kebanyakan resto vegetarian
menyajikan makanan khas Eropa atau Cina. Kalau saya agak
berbeda, yaitu khas Nusantara,” terang William yang sempat 6 tahun tinggal di Amerika Serikat.
Untuk tatanan ruang resto, William menconteknya dari resto vegetarian yang ada
di Amerika. Nuansa yang ditampilkan bergaya Eropa. Lengkap dengan musik dari
Perancis sebagai peneman makan.
Satu hal lagi yang menjadi ciri khasnya, WHV tidak
menggunakan bawang sebagai bumbu makanan. Menurut William, bawang buat makanan
vegetarian kurang baik. Bawang lebih cocok untuk makanan yang berdaging. Karena
bawang, secara biologi bisa menetralkan efek yang kurang bagus dari
mengkonsumsi daging. Lantaran tidak menggunakan daging, tentu saja bawang tidak
diperlukan lagi.
Omzet Rp 60 juta
William tak ingat
persis uang yang diinvestasikan untuk usaha ini. Yang jelas, biaya
terbesar selain untuk sewa ruko selama 2 tahun, dan membeli bahan baku. Pasalnya, bahan baku utama pengganti
daging masih diimpor dari Taiwan.
Meski belum setahun berdiri, omzet resto ini cukup lumayan. “Omzet sebulan bisa Rp 50 juta – Rp 60 juta. Meskipun
demikian biaya operasionalnya juga besar,” papar
William yang mempekerjakan 8 orang karyawan. Pengunjung banyak berdatangan pada Sabtu-Minggu dan hari
libur. Restonya sendiri buka dari jam 10 pagi – jam 9 malam.
Karena citra
rasanya tidak berbeda dengan makanan lainnya, target
konsumen yang disasar semua golongan. Baik
yang vegetarian ataupun yang bukan.
Agar bisa menjangkau semua kalangan, harga makanan
dijual berkisar antara Rp 12.000 – Rp 15.000. William optimis, usahanya bakalan
terus berkembang. Masyarakat, umumnya yang berada di daerah perkotaan semakin
sadar akan pentingnya kesehatan makanan bagi tubuh. “Kemunculan gerai-gerai vegetarian menurut
saya malah bagus. Kita bisa saling melengkapi. Artinya semakin banyak pilihan orang untuk menikmati
makanan sehat non daging,” ungkap William.

No comments:
Post a Comment