Berbekal semangat dan kondisi kepepet, Setiaki Murdi P (23) merintis usaha minuman blended and shake. “Saya habis bangkrut waktu itu. Tempat tinggal nggak punya, nebeng di tempat teman. Pokoknya duit benar-benar habis,” cerita Aki, panggilannya mengenang masa lalu. Sekitar September 2010, Aki mendapat pinjaman uang dari temannya Rp 1 juta.
![]() |
| Es hasil ramuan Blend O’nesia |
Dengan modal tersebut ia membuka sebuah usaha minuman blend and shake yang banyak digemari anak-anak muda di Bandung. Karena sasarannya anak-anak muda usia 16 – 27 tahun, siswa SMA, dan mahasiswa, ia sengaja menyuguhkan aneka variasi rasa. Tak disangka responnya baik, dagangannya selalu laris.
Baca Juga: Miecool: Kemitraan Es Mie Rumput Laut
Untuk mengembangkan usahanya, ia mencari investor. April 2011, ia mengenal MEKAR Enterpreneur Network, salah satu unit usaha dari Putera Sampoerna Foundation yang fokus pada kegiatan kewirausahan. Dari sini pintu untuk mengembangkan usaha terbuka. Forum ini memungkinkan pemuda kelahiran Yogyakarta, 28 Maret 1988 ini, bertemu dengan para calon investor.
Namun sebelum mendapat kucuran dana investasi, ada beberapa tahapan proses yang dilaluinya. Diantaranya membuat business plan yang jelas dan proyeksi usaha yang menarik, dan menguntungkan bagi investor. “Sesudah business plan kita buat, cari orang yang tertarik untuk ikut mendanai usaha kita. Jika sudah mendapatkan calon investor, kita masih harus melakukan presentasi. Setelah itu baru dibuat kesepakatan kerjasama,” rinci Aki.
Akhirnya setelah melalui berbagai tahapan, Aki mendapat bantuan modal Rp 20 juta. Pengembalian modal melalui cicilan dan sharing profit dengan jangka waktu 3 tahun. ”Per tahun cicilannya 15% dari pinjaman. Jika dihitung, hingga saat ini cicilan masih berjalan di tahun pertama,” ujar alumni Marist Brothers International School Japan ini.
Merek lokal tapi modern
Modal tersebut ia gunakan mempercantik stand, pembuatan seragam karyawan, promosi, dan lain-lain. Merek yang diusung bernama Blend O’nesia yang artinya blend dari Indonesia. Menurutnya, logo, produk, dan konsep bisnis ini mengungsung tema lokal tapi modern. Logo bergambar wayang yang sedang meminum produk Blend O’nesia, diartikan sebagai cara untuk mempresentasikan Indonesia di mata dunia. “Kita mengusung tradisi Indonesia yang dicampur dengan unsur modern,” jelasnya.
Pemasaran yang dilakukan lewat media online, facebook dan twitter serta offline (outlet) cukup memberikan pengaruh yang positif dalam mengangkat bisnisnya. Outlet yang berada di Taman Sari dan Pati Ukur, Bandung, tak pernah sepi. Tersedia puluhan jenis minuman yang terdiri dari empat kategori, blend, shake, hot drinks, dan ice cream. Aki bisa meraih omzet Rp 10 juta/ bulan dengan keuntungan yang mencapai 80 %. Bahkan dalam waktu kurang dari 2 tahun, ia sudah balik modal.
Selain variatif dan lezat, tampilan produk minuman Blend O’nesia nampak cantik. Aneka topping yang disajikan di atas minuman dan ice creamnya, mengundang siapa saja untuk mencobanya. Apalagi harganya terjangkau mulai Rp 4.000 – Rp 13.000. Hanya saja, dalam menjalani usaha ini, Aki merasakan beberapa kendala seputar pemasaran, SDM, dan manajemen. “Intinya kami harus membuat dasar perusahaan yang kuat dan menemukan orang yang tepat untuk posisi yang tepat,” tegasnya.

No comments:
Post a Comment