Bisnis
kuliner Jepang di Indonesia sedang marak.
Ditandai dengan bertumbuhnya berbagai tempat jajan jepang. Bahkan beberapa kue khas Jepang diproduksi
secara rumahan. Junaidi Adhitya Yodha Latuconsina, pemasok bahan makanan jepang
di Jakarta Timur.
![]() |
| Kucingan ala Negeri Jepang |
Awalnya
Yodha, panggilannya bekerja di
restoran Jepang, dari bagian cuci piring.
Ia mengaku tidak memiliki latar belakang
restoran atau perhotelan. Di Restoran
Kino Kawa di Menara Thamrin pertama kali bekerja tahun 2002.
Yodha
bekerja dari restoran satu ke restoran yang lain, boleh dikatakan ia telah malang melintang di
restoran jepang, ada sekitar 8 restoran. Tahun 2006 mendapatkan tawaran untuk
melakukan set up restoran di Grand
Indonesia. Saat itu Yodha masih
bekerja. Tawaran tersebut datang dari
pelanggan. Yodha lalu menerima tawaran
itu. Pada tahun 2008 ia mengundurkan diri dari tempat
bekerjanya dan memilih membuka jasa konsultasi restoran. Kini ia membuka
restoran di Malang, Palembang, Makassar, Semarang.
Dari
pengalaman itu, Yodha memiliki banyak jaringan.
Ia memiliki hubungan dengan pemasok bahan baku masakan jepang dan memiliki
jaringan restoran dan butuh bahan baku. Konsumen utama bahan baku tersebut adalah mantan klien yang membuka restoran Jepang. Yodha melakukan pemasaran
via online. Diutamakan restoran dengan kapasitas
besar. Sebelum memenuhi pesanan, Yodha
akan memastikan pemasan terlebih dulu.
“Untuk apa ia membeli. Apakah
untuk dijual kembali atau untuk kebutuhan restorannya sendiri yang bisa memesan
secara rutin,” tuturnya. Untuk ongkos
kirim ditanggung pemesan.
Pembayaran
untuk transaksi pertama dilakukan secara kontan. Sementara pembayaran untuk transaksi
berikutnya bisa menggunakan tempo 30 hari. Ia bekerjasama dengan PT Tosijaya
selaku supplier bahan baku masakan Jepang , terutama bahan makanan jepang
impor. Pemesan harus kontinyu. Setiap bulan minimal order untuk partai besar
Rp 3 juta / bulan. Di bawah nilai tersebut, konsumen harus mengambil sendiri.
Restoran
besar biasanya memesan 1 bulan sekali, bahkan ada yang 1 minggu sekali. Peta usaha bahan makanan jepang, paling ramai
di Jakarta, berikutnya diikuti Surabaya, Medan dan Palembang. Sebelum tahun 2000, tren masakan Jepang
menunjukkan bahwa masakan dengan cita rasa asli Jepang yang banyak
diminati. Konsekwensinya, butuh bahan
impor dengan standar mutu baku dari jepang.
Namun setelah tahun 2000, ada kecenderungan pasar mulai melirik masakan
jepang yang disesuaikan dengan kondisi di Indonesia, baik citarasa maupun
harganya. Akibatnya, sekarang muncul
bahan makanan jebang berbentuk frozen.
Menu makanan seperti ini untuk kelas pasar menengah ke bawah.

No comments:
Post a Comment