Begitulah penggalan hidup Gatot Koco, pengusaha rental alat berat di
Balikpapan. Lewat kejujuran dan komitmenya,
ia sukses mengakses sumber pendanaan
untuk membesarkan usahanya.
![]() |
| Gatot Koco, pengusaha alat berat di Kalimantan. |
Selain mendapatkan dukungan dari sisi pendanaan, Gatot juga merasa
mendapatkan dukungan manajemen dari Bank Danamon. “BankDanamon
memberikan dukungan wawasan berbisnis.
Atau dibimbing. Hal itu yang
tidak bisa saya peroleh dari bank lain,” tutur Gatot. Pria ulet ini juga mengakui bahwa Bank
berperan menjadi pengendali ambisi.
“Seorang pengusaha seperti saya, biasanya terlalu menggebu dalam
berinvestasi. Sementara perbankan sering
memberikan advis yang realistis agar tidak kebabalasan,” tutur Gatot.
Terbiasa berkomitmen
“Boleh dikatakan saya mengawali usaha ini dengan keterbatasan
pengetahuan dan dana,” tutur pria lulusan STM itu. Kondisi tersebut tidak menjadi penghalang
baginya selama menapaki jalur menuju kesuksesan. Menurutnya, bisnis yang ia tekuni saat ini lahir
secara spontan. Gatot sama sekali tidak
memiliki rencana dalam mencapai
kesuksesan. “Saya tidak mau hidup susah seperti orangtua saya. Sampai SMA pun saya makan masih harus
ditakar,” tuturnya.
Nasi dicampur minyak jelantah dan nasi dicampur teh buat makan menjadi menu rutin yang ia santap
saat masih kecil. Putera polisi ini terbiasa dididik disipilin dan hidup
bertanggungjawab serta berkomitmen. Tidak terasa hasil pendidikan tersebut
bermanfaat dan secara tidak saya sadari telah saya terapkan saat ini. Bagi
Gatot, komitmen serta kejujuran menjadi dua hal yang berjalan beriringan.
Sebelum menjadi pengusaha rental alat berat, pada tahun 1998 Gatot
pernah bekerja di sebuah kilang minyak.
Saat itu ia mengaku mendapatkan gaji sebesar Rp 90.000 / hari. “Kalau dapat gaji seperti ini kapan saya
bisa punya rumah, “ tuturnya. Untuk
melompat dari kondisi tersebut mau tidak mau saya harus menjadi seorang pemasar yang andal. Tapi, agar bisa menjadi seorang marketer Gatot harus punya motor.
Padahal saat itu ia tidak memiliki motor.
Melihat kegigihannya, Gatot mendapat bantuan dari pimpinannya memberi kepercayaan
untuk menangani pekerjaan tambahan.
Hasilnya ia gunakan untuk membeli kendaraan. “Setelah terkumpul Rp 1.200.000, saya gunakan
uang itu untuk membeli sebuah vespa bekas,”. Bermodal vespa bekas itu, Gatot
lalu memberanikan diri melamar pekerjaan sebagai tenaga pemasaran pada sebuah
perusahaan oli pelumas. Profesi tersebut
digeluti selama 3 tahun. Menurut
pengakuannya, predikat marketer terbaik di Kalimantan Timur pernah ia sandang
saat menekuni pekerjaan tersebut.
Menguasai Product Knowledge
“Profesi pemasar tidak mengenal
senior atau yunior. Seberapapun masa
kerjamu, yang penting jumlah kuantitas
yang bisa kita jual,” papar Gatot. Setiap tahun Gatot mampu melampaui target
hingga 200 % - 300% dari batas yang ditetapkan.
Tip sukses menjadi marketer menurut Gatot terletak pada pengetahuan
terhadap product knowledge. Berbagai literatur pendukung harus dipahami
benar-benar. “Malam hari selalu saya manfaatkan untuk mempelajari product knowledge. Saya mulai belajar pada pukul 19.00 hingga pukul 24.00. Saya baca
profilnya dan literatur pendukung yang lain,” kata Gatot. Keesokan harinya, ia
mempraktikkan langsung kepada konsumen, pengetahuan yang sudah dipelajari pada
waktu malam hari. Ada ratusan produk
yang dipasarkan oleh Gatot. Ia harus
memilih produk yang tepat untuk ditawarkan kepada calon konsumen yang tepat
pula.
Saat menekuni profesi sebagai marketing, kontrak terbesar yang pernah
ia terima yaitu kontrak dengan PT Badak senilai Rp 600 juta. Kontrak yang lain yang pernah dicapai yatu
dengan salah satu perusahan pupuk senilai Rp 400 juta. Padahal saat itu ia hanya ditarget oleh
perusahaan senilai Rp 200 juta / tahun. Presentasi
produk yang disampaikan secara detail oleh Gatot sering memuat terpukau calon
konsumen. “Mereka sering bertanya saya
kuliah dimana. Bagi saya, pertanyaan tersebut lebih sulit saya jawab dibanding
dengan pertanyaan tentang product
knowledge. Sebab, saya hanya lulusan
STM,” tuturnya sambil tertawa.
Selama menjalani profesi sebagai salesman, secara diam-diam Gatot
berminat menekuni ilmu menjadi seorang broker alat berat.
“Saat menjual oli klien saya banyak di bidang alat berat. Lalu saya pelan-pelan bertanya kepada mereka.
Kebutuhan suku cadang apa saja yang mereka butuhkan,” kata Gatot. Dari pekerjaan sambilannya itu, Gatot mengaku
setiap unit suku-cadang ia memperoleh keuntungan sekitar Rp 3 – 5 juta. Padahal, dalam 1 bulan ia bisa menjual 40
unit. Jadi dari perkerjaan sambilan itu
ia meraup pendapatan hingga Rp 200 juta / bulan.
Dari situ pelan-pelan mengumpulkan hasil usahanya. Nilai kepercayaan tidak bisa diukur dengan
uang. Menurutnya, semakin besar kepercayaan yang kita pikul, kian besar pula
peluang yang dimiliki. “Lebih baik
kehilangan uang daripada kehilangan kepercayaan,” tuturnya. Uang yang dikumpulkan diinvestasikan untuk
membeli Crane 25 ton. Pada tahun 2001,
Gatot bertekad lebih fokus menekuni usahanya.
Akhirnya pada tahun tersebut ia memutuskan mengakhiri proferinya sebagai
karyawan marketing di perusahan oli.

No comments:
Post a Comment