Bisnis lempok, terlihat remeh. Tapi, di
tangan Hadiie Wijaja, bisnis ini meraksasa dengan omzet miliaran rupiah.
![]() |
| Hadiie Wijaja, berada di depan outlet makanannya. |
Menurutnya, lempok adalah makan khas
asal Bengkalis. Namun, ketersediaan
durian sebagai bahan baku di kota tersebut terbatas. “Jadi, saya tertarik memproduksinya di
Pekanbaru, soalnya di daerah ini jumlah durian berlimpah,” ungkapnya. Selain
dari Pekanbaru, Hadiie juga mendatangkan bahan baku dari daerah Sibolga, Curug,
Bengkulu, Pelembang, Rupat.
Ketekunan dan semangat konsisten dalam
mempertahankan mutu produk membuat usaha lempoknya semakin laris. Melihat perkembangan usaha tersebut, pada
tahun 2004, Hadiie tertantang menambah investasi untuk membangun tempat usaha
lebih besar, membeli peralatan untuk menambah kapasitas produksi. “Saya ajukan pinjaman senilai Rp 400 juta ke
salah satu bank tapi saat itu ditolak.
Lalu saya ajukan ke Danamon malah disetujui sebesar Rp 600 juta,” ungkap
Hadiie. Menurutnya, ia memberlakukan
cara pembelian cash. “Saya membeli bahan baku dari petani secara cash, demikian pula sebaliknya,
konsumen membeli produk saya juga secara cash. Model kerjasama seperti ini minim risiko,”
tuturnya.
Pinjaman itu lalu digunakan untuk
membeli 4 buah ruko berlantai 3 dan direnovasi sebagai tempat usaha terpadu.
Strategi ini terbukti berhasil. Modal
usaha dari Danamon tersebut semakin memajukan usaha Hadiie. Pada tahun ketiga, Hadiie memberanikan diri
mengajukan pinjaman lagi kepada Bank Danamon sebesar Rp 1,1 miliar. “Saya perhitungkan omzet yang saya peroleh
bisa mencukupi angsuran pinjaman tersebut.
Bahkan saat ini, plafon pinjaman yang diberikan oleh Bank Danamon kepada
Hadiie telah mencapai Rp 10 miliar.
Besarnya plafon pinjaman tersebut menjadi cermin kepercayaan lembaga
pendanaan terhadap bisnis Hadiie yang semakin bertumbuh.
Outlet Di Berbagai Kota
Kini, ia punya empat ruko, tiga tingkat dijadikan
satu. Lantai 3 digunakan sebagai tempat
mengolah aneka kue, lantai 2 digunakan untuk mengolah lempok, lantai 1 sebagai
gudang. Di dalam gudang tersebut, Hadiie menyimpan stok lempok. Menurutnya, bila dirupiahkan, stok lempok
senilai Rp 1,2 miliar.
Sukses yang dicapai juga dibuktikan dari
outlet yang tersebar di berbagai
lokasi. Outlet pertama berada di Bandara Sultan Syarif Kasim 2 Riau. “Disana kami memiliki 5 outlet. Outlet berikutnya
dibuka di pusat kota Pekanbaru dengan nama Kembang Sari. Di Jakarta di terminal
A, B dan E. Sekarang saya punya 11 outlet,”
paparnya. Dalam mengoperasikan usaha tersebut, Hadiie dibantu 110 orang
karyawan. Kembang Sari khusus menjual
produk lempok, sedangkan Harum Sari menjual produk aneka roti dan cake.
Saat ini Hadiie dikenal sebagai salah satu pengusaha besar oleh-oleh khas Indonesia. Berbagai produk
yang dihasilkan meliputi: aneka kerupuk buah-buahan. Contohnya kerupuk nanas dan kerupuk
nangka. Meskipun beragam produk yang
dijual, produk utamanya tetap lempok durian.
Sebab, makanan bercitarasa manis ini adalah makanan khas Pekanbaru.
Hadiie menjajakan sekitar 100 item produk.
Semua produk itu dibuat sendiri. Ia
mempekerjakan sekitar 35 orang juru masak kue.
Setiap karyawan menangani produk spesifik. “Ahli cake,
membuat cake, brownies ditangani
karyawan khusus, bakery pun ditangani
karyawan khusus,” kata Hadiie.
Meskipun bahan baku durian bersifat musiman, namun Hadiie berupaya agar
produksi lempok tidak terputus. Produksi
yang tidak terputus membuat merek menjadi unggul di pasar. Durian yang sudah
diolah menjadi lempok bisa bertahan hingga 5 bulan. Kandungan gula dalam lempok sekaligus
berfungsi sebagai bahan pengewat alami yang tidak berbahaya bagi kesehatan
konsumen.
Musim durian berlangsung 2 kali dalam 1
tahun. Yaitu Periode Juni - Agustus,
periode berikutnya berlangsung pada Bulan Desember - Februari.
Setiap lokasi memiliki aroma durian yang berbeda. Durian paling harum
berasal dari Bengkalis dan Rupat. Durian yang dipilih adalah durian yang
benar-benar masak, masih segar dan belum terbuka kulit buahnya. Pasalnya, durian yang kulitnya sudah terbuka
sering bercita rasa asam.
Untuk mengatasi kendala musim, Hadiie
bekerja sama dengan petani setempat. “Begitu musim durian tiba, durian langsung
dipanen dan dimasak di tempat. Hasil di
Bengkulu dimasak di Bengkulu, demikian pula hasil panen dari Bengkalis juga
dimasak di Bengkalis,” tuturnya. Menurutnya,
durian yang langsung dimasak di lokasi menghasilkan lempok berkualitas bagus.
“Soalnya, kualitas durian menurun setelah menjalani pengiriman,” papar Hadiie. Seratus
dua puluh durian bisa diolah menjadi 10 kg lempok. Menurut pengakuannya,
produknya murni merupakan olahan durian dengan gula. Tanpa penambahan tepung. Durian yang sudah diolah menjadi lempok lalu
dibungkus dikemas karung dikirim ke gudang penyimpanan. Pria ulet ini kemudian menyimpan karung penuh
lempok durian tersebut di dalam sebuah gudang sebagai stok.
Pentingnya Label Penanggalan
Untuk mempermudah arus stok dan mengetahui waktu kedaluarsa, Hadiie
memberikan label penanggalan pada kemasan. “Kami mencantumkan tanggal pembuatan
dan pengemasan. Sehingga bisa dipastikan
tanggal kedaluarsanya. Disamping itu, penanggalan juga membuat kami menjadi
lebih mudah memprioritaskan lempok yang harus segera dijual,” papar Hadiie.
Banyak keuntungan yang bisa dicapai,
melalui strategi itu. Yang pertama, usaha
yang ditekuni tidak lagi dipengaruhi musim. Hadiie, bisa memanipulasi pemasokan lempok
sesuai kebutuhan pasar. Keuntungan
berikutnya, menghemat biaya pengiriman.
Pasalnya Hadiie menerima lempok yang sudah jadi, sehingga ongkos kirim
yang terlalu banyak akibat kulit durian, tidak lagi menjadi beban. Proses pengolahan lempok dilakukan juru masak
sebanyak 60 orang. Ketika musim durian
tiba, juru masak tersebut disebar ke sentra durian. “Saya membagi menjadi 2 kelompok. Jadi setiap kelompok ada 30 orang,” imbuh bapak
berputera satu itu.
Pada tahun 2007, Hadiie menyadari, kapasitas
produksi lempok yang dihasilkan sudah mendekati daya serap maksimal yang
tersedia di pasar. Disamping itu, juga
telah terdapat produk lain yang jenisnya beaneka ragam. Sehingga memberikan pilihan lain kepada
konsumen. “Omzetnya mulai statis,
naik-turun pada kisaran itu. Lalu saya
pikir karus terus mengembangkan usaha dengan membuat produk lain. Yaitu brownies, dan anake kue khas Indonesia
yang lain,” papar pengusaha berusia 50 tahun ini. Terinspirasi lempok, Hadiie lalu membuat dodol
sirsak, dodol nangka dan dodol mangga. Produk lain yang dijual yaitu brownies
kukus, banana brownies dan brownies durian. Kerupuk padang, kerupuk ikan lome,
bolu kemojo, dan bika ambon. Strategi divesifikasi tersebut ternaya terhasil
mengembalikan minat konsumen.

No comments:
Post a Comment