Ide
pembuatan café ini tercetus dari bisnis orang
tuanya yang berkecimpung di bidang penanaman serta pengolahan biji kopi. Mengapa
tidak dikembangkan sekalian hingga
penyajian kopi di cafe? Mekipun usia cafe ini belum genap 1 tahun,
berkat keunikan setting lokasi membuat Sebastian Coffee shop berhasil merekrut
banyak pelanggan.
![]() |
| Kontainer disulap menjadi kedai kopi. |
Tempat
nongkrong sambil minum kopi yang berlokasi di Jl. Veteran kawasan Bintaro,
Jakarta Selatan ini didesain dengan konsep industrial recycling. Salah satu sudut favorit di cafe ini dibuat dengan kontainer
tua. “Saya membutuhkan 2 kontainer
berukuran 20 feet dan 40 feet untuk membuat sudut itu. Harganya masing-masing Rp 20 juta dan Rp 40 juta, “ papar
Stefani Sebastian, sang pemilik .
Dibutuhkan waktu 6 bulan untuk membangun konstruksi awal sudut dari kontainer
itu. Konsep daur ulang juga tercermin
dari perabotan yang digunakan Sebastian
Coffee shop. Lantai yang terbuat dari
kayu bekas dan sofa dari kayu bekas kemasan kabel listrik.
Kopi panas –
kopi dingin
Cafe
ini menyajikan blend coffee yang terbuat dari campuran kopi Arabika dan Robusta. Setiap 2 bulan, cafe ini membutuhkan pasokan 15
kg biji kopi. Sementara itu, jumlah
tamu yang berkunjung ke tempat ini pada hari libur bisa memenuhi 20 meja yang ada. Setiap meja biasanya berisi 6 orang. Sedangkan pada hari biasa , jumlah kunjungan
sebanyak 10 meja.
Dari
20 menu kopi yang disediakan, pengunjung bisa memesan dalam versi panas
atau dingin. Konsumen berusia muda
biasanya lebih menyukai kopi dingin, sedangkan konsumen tua lebih menyukai kopi
panas. Selain kopi, Sebastian juga menyajikan teh dan cokelat.
Aneka
menu kopi tersebut dibandrol dengan kisaran harga Rp 14.000 – Rp 39.000/cangkir. Menu kopi yang terlaris yaitu Americano, Cappucino
dan Flavour. Untuk memasarkan tempat
minum kopi ini, Stefani melakukan beberapa cara. Diantaranya yaitu menyebar brosur, melalui
sosial media, mengikuti acara di universitas dan melalui komunitas.

No comments:
Post a Comment