Kreasi Tinta Timbul: Modal Rp 13.000, Omzetnya Rp 30 Juta/bulan - KABAR BISNIS MU

KABAR BISNIS MU

Bisnis adalah kegiatan manusia yang bertujuan untuk menghasilkan uang dengan memproduksi dan menjual suatu produk, baik itu barang atau jasa. KABAR BISNISMU memberikan segudang informasi tentang peluang usaha, bisnis,kuliner,tehnologi dan berita berita terbaru

Breaking

Wednesday, January 30, 2019

Kreasi Tinta Timbul: Modal Rp 13.000, Omzetnya Rp 30 Juta/bulan


Kegemaran anak-anak membuat suvenir atau kartu ucapan dengan tinta timbul, menginspirasi Agung Haridjanto, warga  Ngasem, Kediri Jawa Timur, memproduksi tinta tersebut dalam skala rumahan. Usahanya diberi nama Studio 13,  lantaran modal awal yang digunakan untuk merintis usaha ini hanya Rp 13 ribu.

Contoh aplikasi tinta timbul.
Tahun 2000,  Agung mulai bereksperimen meracik tinta timbul yang saat itu sedang digemari anak-anak. Dengan Rp 13 ribu rupiah, ia membeli bahan-bahan seperti karet (ruber) dan pewarna di toko kimia, plus plastik bentuk corong sebagai wadahnya. Dari modal itu ia mampu memproduksi 50 pc tinta timbul. “Pertama kali saya berjualan di depan istana negara Yogyakarta, ” kenangnya.

Produk made by Agung adalah tinta berbasis air dengan bahan karet. Dapat digunakan untuk membuat huruf / tulisan timbul / kaligrafi pada berbagai media seperti gabus, kayu, kulit, kain, kertas, plastik / mika, tembok, atau kaca. Kualitas warnanya lebih cerah,  awet, cepat kering dan tahan lama.  

Usaha tinta timbul ini diberi nama Studio 13.  Simbol angka  keramat, karena tanggal 13 merupakan tonggak awal sejarah  ia  merintis usaha ini. ”Dari modal Rp 13 ribu rupiah itulah saya bisa mengembangkan usaha hingga seperti sekarang ini,” cerita Agung.

Pria lulusan SMA ini mengaku, bakatnya meracik tinta timbul  didapatkan dari Tuhan. Karena sebelumnya,  ia tidak pernah menyentuh bidang ini sama sekali. Modalnya hanya keyakinan saja. Ramuan tintanya dibedakan dua macam jenis, yang tidak tahan air dan tahan air. Yang tidak tahan air namanya tinta timbul, hanya digunakan khusus untuk kertas. Sedangkan yang tahan air namanya tinta reliefer. Biasanya diaplikasikan pada kain, baju, kayu, kaca, dsb.

Sasarannya anak muda

Agung tidak mematok harga tinggi. Untuk satu pak isi 5 – 6 pc, dijual Rp 25 ribu – Rp 30 ribu. Namun untuk konsumen yang menggunakan dalam skala besar, Agung membuat kemasan khusus dalam botol 20 ml, harganya  Rp 40 ribu. Untuk memasarkan produknya, Agung rajin menitipkannya di toko-toko buku dan alat tulis kantor. Kadang ia juga mendatangi sekolah-sekolah dari SD sampai SMA, karena menurutnya disitulah penggemar tinta timbul banyak ditemukan.

Dibantu  sang istri dan 6 orang karyawan, sebulan ia mampu memproduksi 30 ribu – 50 ribu pc cat dan tinta timbul, dengan puluhan warna menarik, warna standar, pastel, dan glitter. Dalam sebulan omsetnya Agung sekitar Rp 30 juta.

Selama ini  dalam masalah pendanan ia mendapat dukungan dari Jamsostek, sebagai mitra binaan. Awalnya Agung  mendapat pinjaman sebesar Rp 15 juta dengan bunga 6%/tahun. Kini cicilannya sudah hampir lunas, dan rencananya tahun depan ia mau dipinjamkan Rp 50 juta. ”Rencana  saya mau nyetok packaging. Packaging ini kan buatan pabrik, jadi kalau kita beli dalam jumlah yang banyak harganya menjadi lebih murah,” ujarnya.

Kendala yang dihadapi sampai sekarang adalah dana promosi yang nyaris tidak ada. “Untung saat ini saya diajak Jamsostek untuk mengikuti pameran Inacraf.. Pameran seperti ini dapat menunjang kegiatan promosi saya.”

No comments:

Post a Comment