Kegemaran anak-anak membuat
suvenir atau kartu ucapan dengan tinta timbul, menginspirasi Agung Haridjanto, warga Ngasem, Kediri Jawa Timur, memproduksi tinta
tersebut dalam skala rumahan. Usahanya diberi nama Studio
13, lantaran modal awal yang digunakan
untuk merintis usaha ini hanya Rp 13 ribu.
![]() |
| Contoh aplikasi tinta timbul. |
Tahun 2000, Agung
mulai bereksperimen meracik tinta timbul yang saat itu sedang digemari
anak-anak. Dengan Rp 13 ribu rupiah, ia membeli bahan-bahan seperti karet (ruber) dan pewarna di toko kimia, plus
plastik bentuk corong sebagai wadahnya. Dari modal itu ia mampu memproduksi 50
pc tinta timbul. “Pertama kali saya berjualan di depan istana negara Yogyakarta,
” kenangnya.
Produk made by Agung adalah tinta berbasis air dengan bahan karet. Dapat
digunakan untuk membuat huruf / tulisan timbul / kaligrafi pada berbagai media seperti gabus, kayu, kulit, kain,
kertas, plastik / mika, tembok, atau kaca. Kualitas warnanya lebih cerah, awet, cepat kering dan tahan lama.
Usaha tinta timbul ini diberi nama Studio 13. Simbol angka keramat, karena tanggal 13 merupakan tonggak
awal sejarah ia merintis usaha ini. ”Dari modal Rp 13 ribu
rupiah itulah saya bisa mengembangkan usaha hingga seperti sekarang ini,”
cerita Agung.
Pria lulusan
SMA ini mengaku, bakatnya meracik tinta timbul
didapatkan dari Tuhan. Karena sebelumnya, ia tidak pernah menyentuh bidang ini sama
sekali. Modalnya hanya keyakinan saja. Ramuan
tintanya dibedakan dua macam jenis, yang tidak tahan air dan tahan air. Yang tidak
tahan air namanya tinta timbul, hanya digunakan khusus untuk kertas. Sedangkan
yang tahan air namanya tinta reliefer.
Biasanya diaplikasikan pada kain, baju, kayu, kaca, dsb.
Sasarannya
anak muda
Agung tidak mematok harga tinggi. Untuk satu pak isi 5 – 6 pc,
dijual Rp 25 ribu – Rp 30 ribu. Namun untuk konsumen yang menggunakan dalam
skala besar, Agung membuat kemasan khusus dalam botol 20 ml, harganya Rp 40 ribu. Untuk memasarkan produknya, Agung
rajin menitipkannya di toko-toko buku dan alat tulis kantor. Kadang ia juga
mendatangi sekolah-sekolah dari SD sampai SMA, karena menurutnya disitulah
penggemar tinta timbul banyak ditemukan.
Dibantu sang istri dan 6 orang karyawan, sebulan ia
mampu memproduksi 30 ribu – 50 ribu pc cat dan tinta timbul, dengan puluhan
warna menarik, warna standar, pastel, dan glitter. Dalam sebulan omsetnya Agung
sekitar Rp 30 juta.
Selama
ini dalam masalah pendanan ia mendapat
dukungan dari Jamsostek, sebagai mitra binaan. Awalnya Agung mendapat pinjaman sebesar Rp 15 juta dengan
bunga 6%/tahun. Kini cicilannya sudah hampir lunas, dan rencananya tahun depan
ia mau dipinjamkan Rp 50 juta. ”Rencana
saya mau nyetok packaging. Packaging ini kan buatan pabrik, jadi kalau
kita beli dalam jumlah yang banyak harganya menjadi lebih murah,” ujarnya.
Kendala
yang dihadapi sampai sekarang adalah dana promosi yang nyaris tidak ada. “Untung
saat ini saya diajak Jamsostek untuk mengikuti pameran Inacraf.. Pameran
seperti ini dapat menunjang kegiatan promosi saya.”

No comments:
Post a Comment