Bisnis Bibit Alpukat Mentega: 3.000 Bibit / Bulan, Omzetnya Ratusan Juta - KABAR BISNIS MU

KABAR BISNIS MU

Bisnis adalah kegiatan manusia yang bertujuan untuk menghasilkan uang dengan memproduksi dan menjual suatu produk, baik itu barang atau jasa. KABAR BISNISMU memberikan segudang informasi tentang peluang usaha, bisnis,kuliner,tehnologi dan berita berita terbaru

Breaking

Saturday, January 19, 2019

Bisnis Bibit Alpukat Mentega: 3.000 Bibit / Bulan, Omzetnya Ratusan Juta

Sebagai buah unggulan, alpukat mentega makin digemari masyarakat. Dengan  produksi 3.000 bibit alpukat/bulan, Usaha Tani Mandiri Miki, di Depok, Bogor sering kewalahan memenuhi permintaan pasar. Bisa diperkitaan besaran omzetnya bila harga bibit Rp 50.000/polybag. Sebagai peluang usaha, pembibitan ini cukup menjanjikan.

Bibit alpukat siap dipasarkan.
 Alpukat  yang menjadi komoditas unggulan  Usaha Tani Mandiri Miki  ini bisa dibilang  “datang sendiri” alias tak sengaja. Betapa tidak?  Suatu  hari di tahun 2005 Yunus Junaedi, pemilik usaha ini, diberi pohon alpukat oleh orang tuanya untuk ditanam di pekarangan rumahnya.  Menurut penuturan  Oktavianus,  anak Junaedi yang mengelola usaha ini, setelah berbuah, bentuknya berbeda  dari alpukat pada umumnya.  Lebih bulat, hampir menyerupai bola, dagingnya tebal, dan tidak berserat. Terdorong rasa penasaran,  Yunus membawa sampel buah dan pohon miliknya ke Pusat Kajian Buah-buahan Tropika IPB dengan peneliti Dr. Sobir dan tim. Ternyata alpukat jenis ini adalah spesies baru.

Usai diteliti,  tahun 2009 Yunus mulai mengembangbiakkan alpukat tersebut. “Pertama kali menjalankan usaha ini, sebagian bibit yang kita hasilkan kita bagikan cuma-cuma kepada masyarakat, karena motto kita adalah membangkitkan penghijauan,” kata Oktavianus. Setelah itu bibit  dijadikan komoditas  untuk dijual.

Meski sekarang sudah banyak pembudidaya alpukat sejenis, permintaan bibit di tempatnya tak pernah surut. Pemesan tak hanya perseorangan, bahkan sampai pemerintah daerah. Kapasitas produksi  yang dihasilkan rata-rata 3.000 bibit/bulan. Jika permintaan melebihi jumlah produksi, pengiriman bibit dilakukan bertahap. ”Saat ini, kami mendapat pesanan 10.000 bibit pohon, dari Padang. Namun baru sanggup mengirim 900 pohon. Sisanya menunggu sampai ada stok bibit lagi. Jumlah produksi bibit yang terbatas menyebabkan kami  tidak bisa mengirimkan pesanan sekaligus. Oleh sebab itu setiap pemesan bibit, saya sesuaikan dengan jadwal panen. Jadi setiap pemesan sudah ada gilirannya masing-masing,” kata Okta. 
     
Dengan harga jual Rp 50.000/bibit, dan memperkerjakan 4 karyawan penghasilan dari usaha ini jelas menguntungkan. Karyawan yang terlibat dalam Lantas  berapa modal  usaha ini?  “Kalau modal awal, saya bingung mau jawab berapa? Yang jelas satu pohon indukan tersebut,” jawabnya.

Buahnya dibagi gratis  

Banyak orang menyebut  buah ini  alpukat mentega Miki. Namun menurut Okta itu keliru. Sebenarnya Miki adalah nama usaha keluarganya. “Yang ngasih nama Miki itu bukan kita, justru kita menyebutnya  Alpukat Mentega Unggul Tanpa Ulat. Mungkin karena usaha kami adalah Usaha Tani Mandiri Miki, orang-orang jadi menyebutnya Alpukat Miki,” kata Okta seraya tertawa.

Untuk memperbanyak bibit,  Usaha Tani Mandiri Miki  melakukannya  dengan cara okulasi atau sambung pucuk. Yakni menyambung alpukat mentega Miki ke tunas dari biji jenis alpukat lain. Penyambungan dilakukan saat tunas berusia dua bulan atau tinggi sekitar 60 cm. "Selain menanam sendiri, tunas jenis lain bisa mudah didapatkan dengan membeli," kata Okta.
Pohon induk yang semula hanya  satu,  kini  berkembang  menjadi 16 pohon. Satu di pekarangan rumah, 15 lagi di kebun. Indukan ini pun merupakan hasil  dari  sambung pucuk, yang sudah terbukti  menghasilkan  buah bagus. Umur tiga bulan bibit sudah bisa dijual.
      
Uniknya,  buah- buah alpukat yang dihasilkan oleh pohon-pohon indukan tersebut oleh Oktavianus  tidak menjual. Walaupun ada permintaan  pengepul atau eksportir buah. “Hingga saat ini kita belum menjual satu buah pun. Masih dibagikan kepada siapa saja yang datang ke sini. Gratis!” ujarnya.

No comments:

Post a Comment