Sebagai buah unggulan,
alpukat mentega makin digemari masyarakat. Dengan produksi 3.000 bibit alpukat/bulan, Usaha
Tani Mandiri Miki, di Depok, Bogor sering kewalahan memenuhi permintaan pasar. Bisa
diperkitaan besaran omzetnya bila harga bibit Rp 50.000/polybag. Sebagai
peluang usaha, pembibitan ini cukup menjanjikan.
![]() |
| Bibit alpukat siap dipasarkan. |
Alpukat yang menjadi komoditas unggulan Usaha Tani Mandiri Miki ini bisa dibilang
“datang sendiri” alias tak sengaja. Betapa tidak? Suatu
hari di tahun 2005 Yunus Junaedi, pemilik usaha ini, diberi pohon
alpukat oleh orang tuanya untuk ditanam di pekarangan rumahnya. Menurut penuturan Oktavianus, anak Junaedi yang mengelola usaha ini, setelah
berbuah, bentuknya berbeda dari alpukat
pada umumnya. Lebih bulat, hampir
menyerupai bola, dagingnya tebal, dan tidak berserat. Terdorong rasa penasaran,
Yunus membawa sampel buah dan pohon
miliknya ke Pusat Kajian Buah-buahan Tropika IPB dengan peneliti Dr. Sobir dan tim.
Ternyata alpukat jenis ini adalah spesies baru.
Usai diteliti, tahun 2009 Yunus mulai mengembangbiakkan
alpukat tersebut. “Pertama kali menjalankan usaha ini, sebagian bibit yang kita
hasilkan kita bagikan cuma-cuma kepada masyarakat, karena motto kita adalah
membangkitkan penghijauan,” kata Oktavianus. Setelah itu bibit dijadikan komoditas untuk dijual.
Meski sekarang sudah banyak pembudidaya alpukat sejenis, permintaan bibit
di tempatnya tak pernah surut. Pemesan tak hanya perseorangan, bahkan sampai
pemerintah daerah. Kapasitas produksi
yang dihasilkan rata-rata 3.000 bibit/bulan. Jika permintaan melebihi
jumlah produksi, pengiriman bibit dilakukan bertahap. ”Saat ini, kami mendapat
pesanan 10.000 bibit pohon, dari Padang. Namun baru sanggup mengirim 900 pohon.
Sisanya menunggu sampai ada stok bibit lagi. Jumlah produksi bibit yang
terbatas menyebabkan kami tidak bisa
mengirimkan pesanan sekaligus. Oleh sebab itu setiap pemesan bibit, saya
sesuaikan dengan jadwal panen. Jadi setiap pemesan sudah ada gilirannya masing-masing,” kata Okta.
Dengan harga jual Rp 50.000/bibit, dan memperkerjakan 4 karyawan
penghasilan dari usaha ini jelas menguntungkan. Karyawan yang terlibat dalam Lantas berapa modal
usaha ini? “Kalau modal awal,
saya bingung mau jawab berapa? Yang jelas satu pohon indukan tersebut,”
jawabnya.
Buahnya dibagi gratis
Banyak orang menyebut buah ini alpukat mentega Miki. Namun menurut Okta itu keliru. Sebenarnya Miki
adalah nama usaha keluarganya. “Yang ngasih
nama Miki itu bukan kita, justru kita menyebutnya Alpukat Mentega Unggul Tanpa Ulat. Mungkin
karena usaha kami adalah Usaha Tani Mandiri Miki, orang-orang jadi menyebutnya
Alpukat Miki,” kata Okta seraya tertawa.
Untuk memperbanyak bibit, Usaha Tani Mandiri Miki melakukannya dengan cara okulasi atau sambung pucuk. Yakni menyambung
alpukat mentega Miki ke tunas dari biji jenis alpukat lain. Penyambungan
dilakukan saat tunas berusia dua bulan atau tinggi sekitar 60 cm. "Selain
menanam sendiri, tunas jenis lain bisa mudah didapatkan dengan membeli,"
kata Okta.
Pohon induk yang semula hanya satu,
kini berkembang menjadi 16 pohon. Satu di pekarangan rumah, 15 lagi di kebun. Indukan
ini pun merupakan hasil dari sambung pucuk, yang sudah terbukti menghasilkan buah bagus. Umur tiga bulan bibit sudah bisa dijual.
Uniknya,
buah- buah alpukat yang dihasilkan oleh pohon-pohon indukan tersebut
oleh Oktavianus tidak menjual. Walaupun
ada permintaan pengepul atau eksportir
buah. “Hingga saat ini kita belum menjual satu buah
pun. Masih dibagikan kepada siapa saja yang datang ke sini. Gratis!” ujarnya.

No comments:
Post a Comment