Umumnya pelaku usaha restoran
berlomba-lomba menyajikan masakan enak. Hanya sedikit yang memikirkan dampak
dari masakan enak itu. Namun, pemilik Restoran Chef’s Table menyuguhkan masakan
yang enak sekaligus sehat.
![]() |
| Salah satu menu makanan yang disajikan di Chef's Table. |
Sehat,
enak, dan nyaman. Itulah konsep khas Restoran Chef’s Table. Sehat lantaran
masakannya tidak menggunakan monosodium glutamate (MSG) atau vetsin dan bahan
kimia untuk makanan lainnya. Meskipun tanpa MSG, rasa gurih pada masakannya
tetap ada, asinnya muncul, manisnya juga hadir.
Baca Juga: Sensasi Aroma Zaitun Kuliner Khas Maroko
Sementara,
rasa nyaman akan dirasakan pengunjung restoran lantaran pelayanan yang
istimewa. Begitu datang, pengunjung akan disambut pemilik restoran, Raymond
O.K. Lai. Di dalam restoran pengunjung akan merasakan suasana akrab. Pengunjung
bisa memilih meja di dalam restoran atau di teras. Di meja yang dipilih,
pengunjung akan mendapatkan pelayanan standar hotel berbintang. Segala
kebutuhakan pengunjung akan dilayani. Ketika hendak meninggalkan restoran usai
menikmati hidangan yang disajikan, Raymond akan mengantar keluar restoran
sembari menyampaikan ucapan terima kasih atas kunjungan yang telah dilakukan.
Siapkan Lebih 100 Masakan
Restoran
Chef’s Table memang berbeda dari restoran di Kota Bandung pada umumnya.
Restoran yang berada di Jl. Setia Budi, Bandung, ini menyajikan masakan yang
dijamin tanpa MSG dan bahan kimia untuk makanan. Rasa gurih dari MSG digantikan
oleh rasa gurih dari sari udang, daging ayam, dan tulang ayam yang direbus
selama 6 – 7 jam.
Raymond
mendirikan restoran ini pada Agustus 2011 lantaran memiliki hobi makan tetapi
tidak ingin hobinya itu justru membuatnya sakit. Istrinya, Dewi Sara, yang
sempat mengidap kanker rahim dan berhasil disembuhkan melalu operasi juga
memperkuat tekadnya untuk mendirikan restoran sehat.
Dengan
menyisihkan uang sebesar Rp 2 miliar untuk investasi Raymond memulai usaha
restoran. Bagian terbesar dari uang tersebut terserap untuk menyewa tempat.
Segala peralatan dan perlengkapan restoran ia disiapkan. Seorang chef andal ia rekrut. Menurut Dewi, yang
menangani masalah keuangan restoran, chef
tersebut sebelumnya menjalani profesinya di luar negeri. Chef inilah yang berperan besar terhadap kualitas dan citarasa
masakan yang ditawarkan. Ia ditemani oleh 10 orang cook.
Restoran
Che’s Table menyajikan lebih dari 100 jenis masakan, dari masakan Indonesia, Chinese food, dan masakan negara-negara
Barat seperti Italia, Prancis, Inggris, dan Jerman. “Setiap hari semua masakan
itu tersedia,” tegas Raymond. Dalam kelompok masakan Indonesia ada sup buntut,
nasi goreng, dll. Yang termasuk Chinese
food misalnya dimsum, mie, dan bubur hongkong. Sementara, yang termasuk
gugusan masakan Barat di antaranya salad, duck
brest, pizza, pasta, spageti, steik, sosis jerman. Di antara jenis-jenis
masakan tersebut yang menjadi favorit pengunjung Restoran Chef’s Table adalah
dimsum, salad organik, steik lokal (tenderloin), dan ikan sibas.
Berapa
harganya? Harga masakan yang dipatok Raymond berkisar Rp 12.000 (dimsum) hingga
Rp 88.000 (steik) per porsi. Meskipun sedikit lebih mahal dari harga restoran
konvensional untuk masakan sejenis, harga tersebut sangat sesuai dengan
kenikmatan yang didapat, yakni sehat, enak, dan nyaman. ”Jadi, orang makan di
sini, keluar uang tapi tidak dapat racun. Saya tawarkan MSG free benar-benar MSG free,
bukan cuma slogan,” ujarnya.
Dari
usaha ini Raymond mengaku tidak mengambil untung banyak agar harganya jual
produknya tidak terlalu mahal. Maklumlah, selain prosesnya lebih rumit,
penggunaan bahan bakunya juga pilihan. Ikan dan daging dipilih yang terbaik.
Sayuran dipilih yang organik. “Kalau saya dapat duit dari kastamer tapi di
dalam makanan saya ada bahan kimia, saya yang berdosa ‘kan?” tutur ayah seorang
anak remaja ini. Sekitar 30% bahan tersebut merupakan bahan makanan impor.
Bumbu-bumbunya juga hampir semuanya bumbu impor. “Karena bumbu lokal 98%-nya
mengandung MSG,” pria bertubuh subur ini.
Raymond
tidak menggunakan pemanis dari sirup pada minuman yang ia tawarkan. Ia membuat
pemanis dari gula murni yang ia cairkan. Untuk jus, ia juga menggunakan buah
berkualitas. “Kalau tidak dapat alpukat yang bagus yang saya tidak jual jus
alpukat,” tegasnya.
Menurut
Raymond, jumlah pengunjung pada hari-hari biasa berkisar 40 – 50 orang.
Sementara, pada akhir pekan dan musim liburan bisa mencapai 150 – 200 orang.
Umumnya, pengunjung datang ke restoran berkapasitas 150 orang itu pada malam
hari. Mereka datang untuk makan malam usai bekerja atau menjamu teman atau
relasi bisnis. Di siang hari, tak banyak pengunjung yang datang.
Pengunjung
tak terbatas orang Bandung, tetapi para wisatawan dari kota-kota lain di
Indonesia, terutama Jakarta, serta para ekspatriat dari negara-negara Eropa dan
Amerika yang tinggal di Bandung. Sebagian di antara pengunjung itu sudah
menjadi pelanggan Raymond. Menurut Raymond, mereka adalah orang-orang yang
benar-benar concern pada kesehatan.
Raymond
tidak melakukan promosi besar-besaran. Ia hanya mengandalkan banner di depan restorannya dan promosi
dari mulut ke mulut yang dilakukan pelanggannya. Karenanya ia selalu memberi
pelayanan yang baik kepada pelanggannya. “Yang penting kastamer pulang dari
sini dengan senang dan puas.” ujarnya. Dengan cara ini ia berharap pelanggan
yang mempromosikan restorannya.
Yang
menarik dan menjadi ciri khas Restoran Chef’s Table adalah di salah satu sudut
retoran dipajang puluhan kaleng dan botol Coca Cola dari berbagai penjuru
dunia. Kaleng dan botol itu memang dibawa Raymond dari berbagai negara yang
pernah dikunjungi Raymond. Dari koleksi tersebut pengunjung restoran menjadi
tahu bahwa desain, jenis, dan ukuran kemasan minuman asal Negeri Paman Sam
tersebut berbeda dari satu negara ke negara lain.

No comments:
Post a Comment