Chef’s Table: MSG Free, Bukan Sekadar Slogan - KABAR BISNIS MU

KABAR BISNIS MU

Bisnis adalah kegiatan manusia yang bertujuan untuk menghasilkan uang dengan memproduksi dan menjual suatu produk, baik itu barang atau jasa. KABAR BISNISMU memberikan segudang informasi tentang peluang usaha, bisnis,kuliner,tehnologi dan berita berita terbaru

Breaking

Saturday, March 2, 2019

Chef’s Table: MSG Free, Bukan Sekadar Slogan


Umumnya pelaku usaha restoran berlomba-lomba menyajikan masakan enak. Hanya sedikit yang memikirkan dampak dari masakan enak itu. Namun, pemilik Restoran Chef’s Table menyuguhkan masakan yang enak sekaligus sehat.

Salah satu menu makanan yang disajikan di Chef's Table.
Sehat, enak, dan nyaman. Itulah konsep khas Restoran Chef’s Table. Sehat lantaran masakannya tidak menggunakan monosodium glutamate (MSG) atau vetsin dan bahan kimia untuk makanan lainnya. Meskipun tanpa MSG, rasa gurih pada masakannya tetap ada, asinnya muncul, manisnya juga hadir.


Sementara, rasa nyaman akan dirasakan pengunjung restoran lantaran pelayanan yang istimewa. Begitu datang, pengunjung akan disambut pemilik restoran, Raymond O.K. Lai. Di dalam restoran pengunjung akan merasakan suasana akrab. Pengunjung bisa memilih meja di dalam restoran atau di teras. Di meja yang dipilih, pengunjung akan mendapatkan pelayanan standar hotel berbintang. Segala kebutuhakan pengunjung akan dilayani. Ketika hendak meninggalkan restoran usai menikmati hidangan yang disajikan, Raymond akan mengantar keluar restoran sembari menyampaikan ucapan terima kasih atas kunjungan yang telah dilakukan.

Siapkan Lebih 100 Masakan

Restoran Chef’s Table memang berbeda dari restoran di Kota Bandung pada umumnya. Restoran yang berada di Jl. Setia Budi, Bandung, ini menyajikan masakan yang dijamin tanpa MSG dan bahan kimia untuk makanan. Rasa gurih dari MSG digantikan oleh rasa gurih dari sari udang, daging ayam, dan tulang ayam yang direbus selama 6 – 7 jam.


Raymond mendirikan restoran ini pada Agustus 2011 lantaran memiliki hobi makan tetapi tidak ingin hobinya itu justru membuatnya sakit. Istrinya, Dewi Sara, yang sempat mengidap kanker rahim dan berhasil disembuhkan melalu operasi juga memperkuat tekadnya untuk mendirikan restoran sehat.

Dengan menyisihkan uang sebesar Rp 2 miliar untuk investasi Raymond memulai usaha restoran. Bagian terbesar dari uang tersebut terserap untuk menyewa tempat. Segala peralatan dan perlengkapan restoran ia disiapkan. Seorang chef andal ia rekrut. Menurut Dewi, yang menangani masalah keuangan restoran, chef tersebut sebelumnya menjalani profesinya di luar negeri. Chef inilah yang berperan besar terhadap kualitas dan citarasa masakan yang ditawarkan. Ia ditemani oleh 10 orang cook.

Restoran Che’s Table menyajikan lebih dari 100 jenis masakan, dari masakan Indonesia, Chinese food, dan masakan negara-negara Barat seperti Italia, Prancis, Inggris, dan Jerman. “Setiap hari semua masakan itu tersedia,” tegas Raymond. Dalam kelompok masakan Indonesia ada sup buntut, nasi goreng, dll. Yang termasuk Chinese food misalnya dimsum, mie, dan bubur hongkong. Sementara, yang termasuk gugusan masakan Barat di antaranya salad, duck brest, pizza, pasta, spageti, steik, sosis jerman. Di antara jenis-jenis masakan tersebut yang menjadi favorit pengunjung Restoran Chef’s Table adalah dimsum, salad organik, steik lokal (tenderloin), dan ikan sibas.

Berapa harganya? Harga masakan yang dipatok Raymond berkisar Rp 12.000 (dimsum) hingga Rp 88.000 (steik) per porsi. Meskipun sedikit lebih mahal dari harga restoran konvensional untuk masakan sejenis, harga tersebut sangat sesuai dengan kenikmatan yang didapat, yakni sehat, enak, dan nyaman. ”Jadi, orang makan di sini, keluar uang tapi tidak dapat racun. Saya tawarkan MSG free benar-benar MSG free, bukan cuma slogan,” ujarnya.

Dari usaha ini Raymond mengaku tidak mengambil untung banyak agar harganya jual produknya tidak terlalu mahal. Maklumlah, selain prosesnya lebih rumit, penggunaan bahan bakunya juga pilihan. Ikan dan daging dipilih yang terbaik. Sayuran dipilih yang organik. “Kalau saya dapat duit dari kastamer tapi di dalam makanan saya ada bahan kimia, saya yang berdosa ‘kan?” tutur ayah seorang anak remaja ini. Sekitar 30% bahan tersebut merupakan bahan makanan impor. Bumbu-bumbunya juga hampir semuanya bumbu impor. “Karena bumbu lokal 98%-nya mengandung MSG,” pria bertubuh subur ini.

Raymond tidak menggunakan pemanis dari sirup pada minuman yang ia tawarkan. Ia membuat pemanis dari gula murni yang ia cairkan. Untuk jus, ia juga menggunakan buah berkualitas. “Kalau tidak dapat alpukat yang bagus yang saya tidak jual jus alpukat,” tegasnya.

Menurut Raymond, jumlah pengunjung pada hari-hari biasa berkisar 40 – 50 orang. Sementara, pada akhir pekan dan musim liburan bisa mencapai 150 – 200 orang. Umumnya, pengunjung datang ke restoran berkapasitas 150 orang itu pada malam hari. Mereka datang untuk makan malam usai bekerja atau menjamu teman atau relasi bisnis. Di siang hari, tak banyak pengunjung yang datang.

Pengunjung tak terbatas orang Bandung, tetapi para wisatawan dari kota-kota lain di Indonesia, terutama Jakarta, serta para ekspatriat dari negara-negara Eropa dan Amerika yang tinggal di Bandung. Sebagian di antara pengunjung itu sudah menjadi pelanggan Raymond. Menurut Raymond, mereka adalah orang-orang yang benar-benar concern pada kesehatan.

Raymond tidak melakukan promosi besar-besaran. Ia hanya mengandalkan banner di depan restorannya dan promosi dari mulut ke mulut yang dilakukan pelanggannya. Karenanya ia selalu memberi pelayanan yang baik kepada pelanggannya. “Yang penting kastamer pulang dari sini dengan senang dan puas.” ujarnya. Dengan cara ini ia berharap pelanggan yang mempromosikan restorannya.

Yang menarik dan menjadi ciri khas Restoran Chef’s Table adalah di salah satu sudut retoran dipajang puluhan kaleng dan botol Coca Cola dari berbagai penjuru dunia. Kaleng dan botol itu memang dibawa Raymond dari berbagai negara yang pernah dikunjungi Raymond. Dari koleksi tersebut pengunjung restoran menjadi tahu bahwa desain, jenis, dan ukuran kemasan minuman asal Negeri Paman Sam tersebut berbeda dari satu negara ke negara lain.

No comments:

Post a Comment