Kemasan Cerdas: Pendeteksi Kebusukan Fillet Ikan - KABAR BISNIS MU

KABAR BISNIS MU

Bisnis adalah kegiatan manusia yang bertujuan untuk menghasilkan uang dengan memproduksi dan menjual suatu produk, baik itu barang atau jasa. KABAR BISNISMU memberikan segudang informasi tentang peluang usaha, bisnis,kuliner,tehnologi dan berita berita terbaru

Breaking

Saturday, February 16, 2019

Kemasan Cerdas: Pendeteksi Kebusukan Fillet Ikan


Dengan teknologi ini Anda tak perlu bingung  memilih ikan dalam kemasan yang kualitasnya masih baik. Atau sibuk mencari tanggal kadaluarsanya. Cukup dengan melihat warna kemasannya, Anda  dapat menentukan kualitas ikan tersebut. Sebuah karya inovatif  yang membantu dunia usaha makanan kemasan.    

Pendeteksi masa kedaluarsa daging ikan.
Wujudnya adalah kemasan  yang diberi lapisan label mirip plastik film. Label tersebut akan menangkap sensor gas yang keluar dari ikan untuk merekam tingkat kebusukannya. Selama 15 jam akan terjadi perubahan warna kemasan. Saat masih segar  ikan berwarna kuning, lalu berangsur-angsur berubah menjadi kuning tua, hijau, hijau muda, hijau, hingga hijau kebiruan. Jika sudah berwarna hijau kebiruan tandanya ikan sudah busuk dan tidak layak dimakan.


Itulah hasil penelitian yang dikembangkan oleh Bambang Riyanto, Akhiruddin Maddu, dan Yogi Waldingga Hasnedi dari Departemen Teknologi Hasil Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB. Kemasan  cerdas ini awalnya merupakan penelitian yang dilakukan  Yogi sebagai tugas akhir atau skripsi. Yogi terinspirasi dari penelitian yang dilakukan oleh Alexis Pacquit dari Irlandia, yang juga meneliti masalah ini.

Tahun 2009, penelitian kemasan ini meraih juara pertama untuk Peneliti Remaja Indonesia (PPRI) yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Dalam pengembangan penelitiannya, ia dibantu oleh 2 dosennya di kampus. “Penelitian ini sudah lama kami lakukan, sekitar tahun 2009,” ucap Bambang, salah satu dosen yang ikut meneliti.

Terbuat dari chitosan

Smart packaging ini terbuat dari bahan utama Polivinil Alkohol (PVA), Chitosan-Asetat, dan Bromthymol Blue (BTB). Ketiga bahan tersebut kemudian dicampurkan. Setelah dicampurkan, dihomogenisasi dengan ultrasonic processor (selama 1 jam) dan dilakukan pencetakan (coated) dengan menggunakan kaca preparat berukuran luas 1,5 cm2 untuk selanjutnya dikeringkan pada suhu 50°C selama 30 menit. Jadilah sensor Smart packaging. 


Sensor berbentuk label tersebut kemudian ditempelkan pada kemasan fillet ikan nila, yang akan mendeteksi tingkat kebusukan ikan.
Perubahan warna kemasan bisa diamati dalam waktu 15 jam sampai ikan terlihat membusuk. Secara kasat mata, hasil pengamatan smart packaging memperlihatkan  4 (empat) kelompok fase perubahan warna selama berlangsungnya proses kemunduran filet ikan nila, yaitu :

*   Fase ke-1 (jam ke-0 hingga jam ke-3)       :  sensor berwarna kuning.
*   Fase ke-2 (jam ke-4 hingga jam ke-6)       :  sensor berwarna kuning tua.
*   Fase ke-3 (jam ke-7 hingga jam ke-9)       :  sensor bewarna hijau muda.
*   Fase ke-4 (jam ke-10 hingga jam ke-15)   :  sensor berwarna hijau atau hijau kebiruan.

Kenapa terjadi perubahan warna label sensor? Karena label sensor yang bersifat asam, menangkap gas amonia dari ikan busuk yang bersifat basa, sehingga terjadi perubahan warna.  Cara kerja label ini mirip dengan kertas lakmus. Bahan sensor label bersifat biodegradable, yakni  akan segera lumer jika terkena air.

Fungsi Bahan Penyusun

Ketiga bahan sensor label ini  masing-masing memiliki fungsi. Chitosan atau kitosan dan PVA, merupakan bahan dasar untuk mengikat  warna dan menangkap gas amonia dari ikan. Sedangkan BTB, berguna sebagai indikator yang memperlihatkan terjadinya proses perubahan warna. Sebenarnya, banyak seullulosa lain yang bisa dipakai sebagai bahan sensor, tidak hanya kitosan. Kitosan yang berasal dari limbah udang, selama ini memang terkenal ramah lingkungan.

Akurasi penelitian, menurut Bambang, menggunakan nilai total basic nitrogen (TVBN) dan derajat keasaman (pH) sebagai pembandingnya. TVBN mengukur peningkatan nilai kebusukan ikan dan jumlah mikroba yang berkembang melalui kadar nitrogen yang keluar dari ikan. Bila melewati ambang batas tertentu, ikan sudah tak layak konsumsi atau dinyatakan sudah membusuk. Sedangkan pH melihat perubahan derajat keasaman dari netral ke asam.

No comments:

Post a Comment