Awalnya hobi memelihara berbagai jenis unggas, seperti merpati dan ayam
mutiara. Begitu mencoba budidaya ayam kalkun ternyata sukses juga.
![]() |
| Kalkun mudah berbiak. |
“Selain hobi, ayam kalkun bisa
dikembangbiakkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi pasar domestik. Kelebihan
dari ayam kalkun, (berat) dagingnya bisa mencapai 9 kg per ekornya,” kata
Sahrit, saat ditemui di peternakan ayam kalkunnya di Dusun Cangkringan, Desa
Kolomayan, Kecamatan Wonodadi, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Ayam kalkun
memiliki bulu cukup indah. Terutama yang jantan, ketika tertarik atau birahi
ekornya membuka seperti kipas, bulunya mengembang sangat eksotis.
Kandungan gizi pada ayam kalkun
juga sangat baik untuk tubuh. Selain dagingnya enak, rendah kolesterol,
mengandung asam oleat yang bermanfaat untuk menambah cita rasa, bersifat
antiinflamasi, membantu mengurangi rasa sakit dan pembengkakan. Juga mengandung
omega 6 cukup tinggi yang bermanfaat bagi kesehatan jantung. Kadar seng tinggi bermanfaat
untuk meningkatkan vitalitas, selenium bermanfaat sebagai antikanker, serta vitamin
B yang bermanfaat untuk proses pembentukan/perkembangan otot dan otak atau
kecerdasan.
Dari segi persaingan usaha,
ternak kalkun masih terbuka lebar dengan permintaan pasar sangat banyak. “Harga
jual siap ternak untuk pejantan Rp. 300.000, sedangkan yang betina Rp. 250.000
per ekor,” tandas peternak kalkun sejak tahun 1990 ini.
Sekali Bertelur 20 Butir
Kalkun merupakan sebutan untuk
dua spesies burung berukuran besar dari ordo Galliformes genus Meleagris.
Ukuran kalkun betina lebih kecil dan warna bulu kurang berwarna-warni jika dibandingkan
dengan kalkun jantan. Sewaktu berada di alam bebas, kalkun mudah dikenali dari
rentang sayapnya yang mencapai 1,5 - 1,8 meter. Meleagris ocellata
merupakan kalkun hasil domestikasi yang diternakkan untuk diambil dagingnya
berasal dari spesies Meleagris gallopavo yang juga dikenal sebagai
kalkun liar, Wild Turkey. Sedangkan yang kedua adalah kalkun dari
spesies Meleagris ocellata hasil domestikasi suku Maya.
Nah, kalkun yang diternakkan di
Indonesia khususnya di peternakan milik Sahrit ini merupakan hasil domestikasi
dari kalkun liar asal Amerika Utara, dengan ciri pial (gelambir) di bawah paruh.
Sedangkan kalau kalkun Meleagris ocellata yang dipelihara orang Maya
tidak memiliki pial di bawah paruhnya.
Sistem perkawinan dengan kawin
jongkok. Bisa pula dikawinkan secara bergilir, 1 jantan dikawinkan dengan 5
betina. “Bisa juga 5 jantan dikawinkan dengan 5 betina. Usia subur untuk betina
antara 9 bulan sampai 2 tahun. Untuk induk
tembean (pertama kali bertelur) hanya menghasilkan 17 butir. Makanan untuk
kalkun berupa jagung, bekatul dan sayuran,” terang Sahrit.
Rata-rata satu induk bisa
bertelur 20 butir, kalau ditetaskan akan menghasilkan 5 ekor jantan dan 15 ekor
betina. Dengan modal 5 anakan jantan ini sangat berarti besar. Karena pejantan
dari satu indukan kalau disatukan tidak akan tarung, sehingga tingkat
keberhasilannya akan lebih besar. “Kalau kita masukkan jantan dari hasil
perkawinan induk yang berbeda dapat dipastikan akan berkelahi. Karena sang
jantan berkarakter mempertahankan teritorialnya, kalau ada pendatang yang bukan
saudara sekandungnya akan diusir,” lanjutnya. Namun sebaliknya, untuk betina,
meski dari induk yang berlainan, jika dikumpulkan jadi satu tidak akan tarung atau
berkelahi.
Saat ini Sahrit memiliki 15
pejantan dan 40 betina dengan jumlah anakan yang dihasilkan rata-rata 600 ekor
perbulan. Anakan setelah usia tiga bulan dihargai Rp 300.000 perpasang untuk
dalam kota, sedangkan untuk luar Blitar dijual Rp. 400.000 perpasang. Bisa
dibayangkan, berapa rupiah yang bisa diraup jika satu induk dalam setahun bisa
bertelur 5 kali dengan sekali bertelur 20 butir. Pelanggan tetapnya berasal
dari Surabaya, Malang, Solo, Ngawi, Magelang, dan Jakarta.

No comments:
Post a Comment