Menyayangi diri
sendiri bukan berarti memanjakan diri untuk memenuhi segara keinginan hingga
menggerus keuangan. Memenuhi keinginan keluarga boleh saja namun harus
memperhitungkan keuangan keluarga.
![]() |
| Ilustrasi (Istimewa) |
Perencana keuangan
dari ZAP Finance Prita Hapsari Ghozie mengatakan, agar pengeluaran ini juga
tidak hanya membawa kebahagiaan namun juga kebaikan, sebaiknya juga dengan
tujuan pembelian dengan motivasi dibaliknya.
Menurutnya, terdapat 3
hal yang umumnya mendasari keputusan pembelian dalam keluarga. Pertama, membeli
karena mimpi, membeli karena investasi, dan membeli karena gengsi.
1. Membeli karena
mimpi.
Ada kalanya sebuah
keluarga bermimpi ingin punya kendaraan merek tertentu atau ingin pergi ke
tujuan liburan eksotis tertentu. Dengan demikian, saya sarankan agar mimpi ini
dimasukkan kedalam rencana keuangan dan strategi dilakukan dengan cara
menabung.
2. Membeli karena
investasi.
Berbeda dengan
investasi di produk keuangan, dalam hal self-love saya bicara investasi sebagai
pengeluaran yang dilakukan untuk meng-upgrade diri sendiri mau pun keluarga.
Misalkan, kursus fotografi untuk meningkatkan skills, kursus balet untuk anak
perempuan sebagai bekal diri di masa depan, mengikuti kelas Yoga untuk
mengelola kesehatan raga dan jiwa, dan lainnya. Investasi pada diri sendiri
haruslah diikuti dengan bujet yang seimbang dalam rencana keuangan. Idealnya,
bujet ini maksimal 10 persem dari penghasilan bulanan.
3. Membeli karena
gengsi.
Hal yang kerap
digaungkan oleh konsumerisme adalah adanya kebahagiaan dengan memiliki merek
tertentu yang dapat melambangkan status sosial. Tidak ada yang salah memang
dengan pembelian karena gengsi. Namun apakah yakin rela mengorbankan kebebasan
finansial di masa depan hanya karena ini? Setiap keluarga memiliki situasi
keuangan yang berbeda-beda.
“Saya sarankan, jika
Anda ingin memenuhi gengsi, maka penuhi hal tersebut hanya dengan dana tunai
yang tersedia, tanpa bantuan berutang,” tuturnya.
Berikutnya, setelah
menentapkan motivasi dibalik pengeluaran self-love yang akan dilakukan, maka
Anda dapat melakukan langkah-langkah pengaturan anggaran untuk pengeluaran
self-love seperti ini.
Ada 3 hal yang bisa
dialokasikan untuk menyenangkan seluruh anggota keluarga, diantaranya.
1. Me time seperti
nonton drama korea favorit, beli buku, atau sekedar traveling. Bisa juga
shopping time ke butik favorit atau online shopping. Terakhir, pampering time
seperti beli skincare, perawatan ke salon, spa, atau pun berolah-raga di pusat
kebugaran favorit.
“Nah mana diantara
ketiga itu yang paling penting untuk Anda dan keluarga?,” ucapnya.
2. Alokasikan bujet
ideal dari gaji bulanan. Ada baiknya penentuan bujet self-love sedari awal.
Persentase ideal yang disarankan untuk belanja kebutuhan pribadi adalah 5
persen hingga 10 persen dari penghasilan rutin bulanan. Jadi, bilamana ada
alokasi bujet sebesar Rp1 juta setiap bulan untuk belanja kebutuhan pribadi,
maka seharusnya keluarga menerima penghasilan rutin Rp10 juta setiap bulan.
Alokasi tersebut bukan
berarti harus dihabiskan setiap bulannya. Anda juga bisa mengumpulkannya
terlebih dahulu untuk dibelanjakan di kemudian hari. Saya sarankan
memiliki dana belanja kebutuhan pribadi di rekening terpisah yang saya sering
sebut dengan istilah “playing account”.
3. Manfaatkan
fasilitas diskon dan potongan lainnya. Dengan jumlah dana yang sama, bisa jadi
Anda mendapatkan produk yang lebih banyak atau lebih berkualitas. Hal ini
dimungkinkan jika pandai memanfaatkan fasilitas diskon atau
cashback.
Jangan lupa juga untuk
menjadi anggota program loyalitas, agar pengumpulan poin hasil belanja dapat
difungsikan sebagai tambahan diskon di kemudian hari.
4. Pay everything with
cash. Membayar tunai bisa dengan bantuan kartu debit, e-wallet maupun uang kas
akan lebih baik dibandingkan berutang. Usahakan tidak menggunakan pinjaman
online untuk pengeluaran self-love.
“Love your self and
use things. Not the other way around,” tandasnya.
Sumber: Jawa Pos

No comments:
Post a Comment