Seiring makin
banyaknya penggemar es krim, pelaku
bisnis ini pun bermunculan. Sub7ero Frozen, kedai es krim yang berlokasi
di Margahayu, Bandung, mencoba membuat
gebrakan baru dengan membuat kerasi baru es krim 16 varian rasa yang tak biasa. Rasa pedas, asin,
dan asam.
Jika biasanya es krim identik dengan rasa
manis dan creamy, di Sub 7ero Frozen (dibaca; sub zero frozen) es krim disajikan dalam varian rasa pedas, asam,
dan asin. Tersaji 16 rasa yang tidak biasa untuk menambah kesan unik. Tidak hanya itu, resto
ini juga memiliki 2 kategori menu es krimnya; full fat ice cream dan low fat ice
cream dengan berbagai macam topping.
Budhi Dwi
Harsono adalah orang yang berada dibalik pembuatan produk kreatif ini. Petualangannya
menjelajahi beberapa negara untuk mendalami ilmu tata boga, tidak sia-sia.
“Saya sempat 2 tahun di Singapura, 1 tahun di Belanda, dan ketika pulang ke
Indonesia saya pernah diminta untuk menjadi chef di acara pembukaan
Hotel Indonesia,” kenangnya.
Menurut Budhi, ide menciptakan es krim unik berawal dari
kejenuhannya dengan rasa es krim yang selalu manis. Ditambah
lagi, dinginnya hawa Bandung
mengispirasinya untuk menciptakan es krim yang bisa memberikan efek hangat ke
tubuh. Lahirlah es krim lada hitam. Dominasi rasa lada yang pedas pada es krim ini membuat lidah
merasakan sensasi yang unik.
“Bahan utama
untuk meracik semua produk diantaranya ada susu, krim nabati, gula, dan
pengental, dengan sentuhan produksi ala industri rumah tangga,” jelas Budhi. Untuk
rasa ia menambahkan bahan bahan lain sesuai
cita rasanya. Tak hanya rasa pedas, tersedia pula rasa asin
yakni cheese ice cream, serta es krim
rasa asam yang dibuat dengan campuran
buah chery dan balsamic vinegar (cuka apel). Semua es
krim dijual dalam cup dengan harga Rp 8.500 /cup. Setiap es krim bisa ditambah
aneka toping dengan biaya Rp 1.500.
2 tahun
branding dulu
Budhi merogoh kocek Rp 210 juta sebagai modal
awal usahanya.
Dari jumlah ini Rp 150 juta digunakan membuat satu dapur, sisanya untuk membuka
outlet. Nama Sub
Zero yang dipilih sebagai nama usaha yang
didirikan tahun 2009 ini memiliki makna di bawah nol derajat alias beku. Angka 7 dan gunung es di atasnya melambangkan
, es krimnya dijual dalam cone.
“Saat buka
pertama responnya bagus. Tapi berhubung strategi marketingnya branding
dahulu, jadi kita belum mengambil untung di 2 bulan pertama. Biaya produksi
kecil kok hanya 50%, dan keuntungannya hanya 20%. Kita berkomitmen 2 tahun branding, setelah itu baru
fokus ke profit,” jelasnya. Sasaran Sub7ero
Frozen adalah konsumen produktif, yaitu penggemar es krim, yang kebanyakan
anak sekolah dan wanita.
Untuk memperluas pemasaran, ia membuka tiga
cabang baru. ”Bulan Juli tahun
2010 membuka outlet kedua di Jatinangor, bulan Desember buka lagi di Maranata,
bulan April tahun ini kita buka lagi di Dago,” sebut Budhi. Omzet masing-masing outlet, sekitar Rp 12 juta/bulan. Namun,
jika sedang musim kemarau omsetnya bisa berlipat. April tahun 2010, omsetnya
bisa Rp 22 juta/bulan. Proses produksi
dilakukan 3 kali seminggu. Sekali produksi es krim yang dihasilkan sekitar 30
liter untuk 2 rasa, dan dalam sebulan minimal produksi adalah 300 liter.
Keunggulan es krim Sub7ero Frozen adalah penggunaan bahan
baku yang berkualitas. Untuk rasa, digunakan buah-buahan asli sebagai pengganti
essence, sehingga rasa yang dihasilkan sangat natural. Walaupun diproduksi
ala rumahan, stabilitas cita rasa Sub 7ero Frozen terjamin karena adanya standart recipe dan quality
control.
Budhi memanfaatkan jejaring
sosial facebook dan liputan dari media, baik media cetak, elekronik, maupun
media online untuk
mempromosikan produknya. Meski
tidak memiliki anggaran khusus untuk kegiatan promosi, Sub 7ero Frozen cukup dikenal masyarakat bahkan yang berdomisili di luar
kota Bandung.

No comments:
Post a Comment