Agribisnis Akuaponik: Kawin Silang Kangkung Hidroponik & Kolam Lele - KABAR BISNIS MU

KABAR BISNIS MU

Bisnis adalah kegiatan manusia yang bertujuan untuk menghasilkan uang dengan memproduksi dan menjual suatu produk, baik itu barang atau jasa. KABAR BISNISMU memberikan segudang informasi tentang peluang usaha, bisnis,kuliner,tehnologi dan berita berita terbaru

Breaking

Thursday, January 17, 2019

Agribisnis Akuaponik: Kawin Silang Kangkung Hidroponik & Kolam Lele


Teknik hidroponik memanfaatkan larutan nutrisi dari kolam ikan menghemat biaya pupuk. Kotoran ikan dan sisa pakan menjadi sumber nutrisi bagi tanaman. Hasil ganda pun diperoleh. Sembari menunggu panen ikan, sayuran bisa menjadi pendapatan harian.

Sistem aquaponik merupakan perpaduan antara hidroponik dan budidaya ikan.
Mohammad Jusuf Randi, mahasiswa pasca sarjana Magister Pertanian Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto ini menanam kangkung secara hidroponik dengan air kolam lele sebagai sumber nutrisi. Tahun 2010  ia mendirikan Randi Farm di lahan seluas 700 m2. Ia membuat rumah plastik untuk kangkung hidroponik dan beberapa kolam. Ia tak hanya membuat kolam untuk budidaya. Ada pula kolam kultur, kolam pengkayaan nutrisi, dan kolam berisi Azolla microphylla. Instalasi kolam itu untuk menjamin ketersediaan pakan alami lele dan nutrisi organik untuk kangkung.

Mengapa kangkung dan lele ? Menurut Randi, kedua komoditas itu permintaan pasarnya paling tinggi. Untuk jenis sayuran daun, kangkung paling banyak dibutuhkan karena konsumennya dari kalangan ekonomi bawah, menengah, dan atas. Selanjutnya, untuk ikan air tawar,  kebutuhan lele paling tinggi. “Lele termasuk jenis ikan yang kuat, mudah dipelihara, cepat berkembang, banyak orang suka, dan peluang pasarnya luas,” papar Randi, pria kelahiran Palembang, 31 Oktober 1987.

Tambah Oksigen kurangi amonia

Tentu saja Randi tak langsung sukses mengujicoba teknik akuaponik ini. Awalnya ia membuat sistem resirkulasi air dengan membuat rak hidroponik di atas kolam lele. Namun teknik ini menimbulkan kerugian cukup besar. Saat panen, tingkat kematian lele 60-70 %.

Selanjutnya ia membuat rumah plastik untuk kangkung hidroponik dan kolam lele di luarnya. Di dalam rumah plastik terdapat kolam-kolam kecil yang berisi air dari kolam budidaya. Air itulah yang digunakan untuk mengisi rak-rak hidroponik berisi kangkung. Teknik hidroponik yang tadinya menggunakan sistem NFT (Nutrient Film Tehcnique) pun diganti dengan teknik rakit apung. Di bagian atas rak-rak hidroponik diletakkan styrofoam yang dilubangi. Akar bibit kangkung dibungkus kapuk lalu dimasukkan ke lubang-lubang itu. Teknik ini memuaskan. Biaya produksi hemat dan panen kangkung maupun lele bagus.

Randi terus mengujicoba tingkat kepadatan optimum untuk kangkung dan lele. Ia pun menemukan potensi optimum untuk kangkung hidroponik yaitu 114 lubang per m2, dengan jarak tanam 5 cm, dan tiap lubang berisi 4 bibit. Dari kepadatan tersebut ia berhasil memanen kangkung rata-rata 2 kg/ m2. Ia juga membuat pola penanaman terjadwal, sehingga memungkinkan panen kangkung setiap hari. “Kangkung dipanen waktu belum terlalu tua. Masyarakat senang kangkung yang renyah, tidak alot, dan dimasak enggak hitam,” kata Randi.

Ia juga mencari kepadatan optimum untuk lele, dan menemukan 200 benih / m2. Dengan kolam berukuran 4 m x 2 m, ia menaburkan 1600 bibit lele. Dua bulan kemudian lele dipanen. Dengan tingkat kematian 2-5 %  hasil panennya  140-150 kg lele. Tapi menurut Randi kepadatan kolam bisa dinaikkan dengan peningkatan kualitas air kolam. Caranya, tingkatkan ketersediaan oksigen dan kurangi kandungan amonia dalam air kolam.

Untuk meningkatkan O2 ia memberi kucuran air di kolam lele. Sementara untuk mengurangi kadar amonia di kolam ia memberi pakan sesuai kebutuhan lele. Pasalnya, jika pakan yang diberikan terlalu banyak maka sisa pakan akan meningkatkan amonia di dalam air. Selain itu, Randi juga memberikan pakan alami yang dibuat sendiri. Pelet berbentuk granula yang larut di dalam air.  

No comments:

Post a Comment