Anda pernah
melihat iklan Supremi premium di media cetak? Atau iklan Pizza Hut, Es Krim
Campina di televisi? Makanan dan minuman tersebut terlihat membangkitkan selera
yang melihatnya. “Nah di sinilah peran food
stylist bagaimana menata makanan-minuman tersebut terlihat seperti
‘bernyawa’, mempunyai emosi. Hingga membuat orang tertarik mengkonsums,” ucap
Puji Purnama (40), yang telah 15 tahun menekuni profesi food stylishr.
![]() |
| Masakan yang sudah ditata dan difoto. |
Bagi sebagian
orang profesi ini memang kurang familiar
terdengar. Karena tidak banyak orang yang melakukannya. Secara sederhana Puji
menjelaskan, profesi food stylist sama saja dengan profesi hair
stylist. Bedanya kalau hair stylist yang ditata rambut, kalau ini makanan.
Makanan yang ditata bukan hanya sekedar terlihat cantik dan menarik, tapi juga
harus bisa membangkitkan selera.
Baca Juga: Warung Tahu: Menu Sehat Serba Tahu
“Untuk membuat
hal seperti itu, tidak bisa sendiri, harus terlibat dalam tim. Untuk produk
iklan media cetak misalnya, memerlukan fotografer yang punya rasa tentang
makanan. Dia tahu persis bagaimana mengambil angle foto yang baik,
seperti yang kita kehendaki. Begitu juga dengan desain grafisnya, harus juga
mengerti,” ucap Puji, saat ditemui di rumah sekaligus tempat workshopnya,
di Kota Kembang, Depok.
Kemampuan sarjana
boga lulusan IKIP Jakarta ini (sekarang UNJ, Red) banyak digunakan untuk
kepentingan iklan ataupun promosi. Produk-produk yang berkaitan dengan makanan,
seperti restoran, produsen mie instan, fried chicken dan lainnya menjadi
langganan penatannya untuk kepentingan iklan. Masih jarangnya orang yang
menekuni profesi ini di Indonesia, membuat tenaga Puji banyak dibutuhkan.
Paling tidak dalam seminggu ia biasa mengerjakan 3 penataan makanan. Itu belum
termasuk 4 penataan makanan untuk kepentingan iklan, baik cetak maupun audio
visual, dalam sebulan.
Modal untuk
menjadi food stylish ini yang utama adalah kecintaan pada makanan. “Sedari dulu saya memang senang dengan urusan
makanan. Ketika di sekolah menengah, saya mengambil jurusan tata boga. Jurusan yang
sama juga saya ikuti ketika kuliah,” terangnya. Ketrampilannya soal menata
makanan makin dipertajam dengan mengambil beberapa kursus singkat seperti di Le Gordon Bleu Paris, Apicius
Italia, Hong Kong, Bangkok, Bogasari Baking School, dan lainnnya. Salah satu kelebihan
Puji lainnya adalah ia juga pintar memasak. Bahkan ia dulu sering mengikuti
lomba memasak.
Lantas berapa tarif sekali order? “Tarif yang kita kenakan berbeda-beda,
karena kita di sini menjual ide, menjual stres. Belum lagi untuk urusan
transportasi, bolak-balik sebelum terjadi deal kerjasama,” terang Puji.
Namun dari beberapa sumber mengungkapkan, untuk food stylist senior, sekali
menata bisa puluhan juta rupiah.

No comments:
Post a Comment