Nikmat Laba Alat Pijat Dari Kayu - KABAR BISNIS MU

KABAR BISNIS MU

Bisnis adalah kegiatan manusia yang bertujuan untuk menghasilkan uang dengan memproduksi dan menjual suatu produk, baik itu barang atau jasa. KABAR BISNISMU memberikan segudang informasi tentang peluang usaha, bisnis,kuliner,tehnologi dan berita berita terbaru

Breaking

Thursday, February 21, 2019

Nikmat Laba Alat Pijat Dari Kayu


Lewat budi baik tetangga dan Lurah setempat, usaha ini berkembang lewat bantuan permodalan. Tapi Eno Suparno, pembuat alat ini tetap harus membuktikan keolehannya terlebih dulu.

Alat Pijat Dari Kayu.
Ide membuat alat bantu pijat dari limbah kayu ini berawal sejak tahun 1990. Saat itu Eno Suparno yang masih bekerja di sebuah gerai di kawasan Gang Gloria, Glodok Jakarta Barat. Saat itu, ia melihat seorang office boy yang sedang mengepel lantai tak sengaja mematahkan tangkai pelnya. Tangkai itu pun digeletakkan saja di dekat gerai yang sedang dijaga Eno.


Melihat itu, Eno segera mengambilnya. Dia membayangkan bisa membuat alat refleksi dari bahan kayu. Maklum, selain punya keahlian dalam bidang kayu, Eno juga sudah lima tahun menjaga toko penjualan alat kesehatan. Sayangnya, untuk mengoperasikan semua alat itu harus menggunakan baterai atau listrik. Eno pun segera meraut kayu pel tadi menggunakan cutter membentuk alat refleksi untuk telapak kaki.

Potongan kayu yang sudah dibentuk dan berjumlah 5 potong tadi, secara sembunyi-sembunyi ditawarkan kepada pengunjung tokonya seharga Rp 3.000 – Rp 5.000. Tak disangka ada yang beli, bahkan ludes. Melihat itu, Eno senang bukan main. Sayangnya, untuk membuat alat pijat kayu secara massal, bapak dua anak ini tak memiliki mesin bubut. Uang tabungan yang pas-pasan, akhirnya ia gunakan untuk merakit mesin bubut sendiri.  Mata bor-nya pun menggunakan pisau dapur yang dibentuk sedemikian rupa, dan sebagai penggerak ia menggunakan dinamo mesin jahit.


Meskipun sering menemui kegagalan dalam pembuatan mesin bubut, namun Eno tak menyerah. “Saya baru bisa menciptakan mesin dinamo setelah menghabiskan 5 dinamo, karena gagal terus,” ujar mantan tukang kredit di tahun 80-an ini. Dengan mesin bubut tersebut, ia bisa menghasilkan 10 – 30 buah alat bantu kesehatan yang model dan bentuknya kreasi sendiri. Ia pun bersemangat untuk membuat alat kesehatan dari kayu secara massal. Apalagi ketika suatu hari ia melintasi pusat furnitur di kawasan Klender, Jakarta Timur, ia melihat banyak kayu limbah bekas potongan furnitur berserakan sia-sia. Baginya, limbah kayu itu adalah rezeki.

Produknya tetap ia jual di toko, meskipun masih secara sembunyi-sembunyi. Seiring berjalannya waktu, Eno memutuskan untuk berwirausaha sendiri. ”Saya senang sekali karena dengan begitu saya bisa menjual produk saya dan menambah variasinya,” kata pria asal Ciamis ini. Keterbatasan modal, membuatnya harus meminjam uang ke orang-orang terdekatnya seperti tetangga, teman saudara, bahkan ke rentenir. Terkadang, ketika pinjamannya macet, ia kerap ditagih paksa oleh si peminjam.

Mulai Terlihat Oleh Umum

Ujian yang ia hadapi dalam mengembangkan usahanya, akhirnya berakhir ketika tahun 2000. ”Selama 10 tahun, jangankan pemerintah, tetangga pun tidak ada yang tahu tentang usaha saya, padahal bengkel produksi ada di rumah sendiri,” ucapnya.  Hingga datang seorang tetangga, yang akhirnya memperkenalkan usaha Eno ke Suku Dinas Departemen Perindustrian dan Perdagangan (Sudin Deperindag). Melihat adanya potensi yang kuat pada usaha Eno, akhirnya Sudin Deperindag merekomendasikan Eno untuk mendapatkan pinjaman permodalan dari Bank DKI. Tidak hanya itu, Eno juga diberi kemudahan untuk membuat syarat administrasi seperti SIUP dan NPWP. Sebagai agunan, tetangga yang baik hati tadi pun meminjamkan Akta Jual Belinya kepada Eno.

Ketika pinjaman sebesar Rp 30 juta turun, Eno tak menyia-nyiakan kesempatan. ”Saya langsung membeli mesin penunjang usaha seperti mesin bubut dan peralatan lainnya,” ujarnya.  Jumlah produksinya pun semakin meningkat.

Binaan UKM Jaktim

Beberapa waktu kemudian, ada pengangkatan Lurah baru di wilayah Halim. ”Pak Lurah yang baru ini aktif mengadakan peninjauan untuk mengetahui kondisi masyarakatnya. Beliau kaget setelah meninjau lingkungan di sini. Ternyata ada UKM yang potensial di wilayahnya. Produk saya dinilai potensial karena memanfaatkan limbah yang berguna sebagai alat bantu kesehatan,” katanya bangga.

Sejak itu, Eno diikutsertakan mewakili kelurahan untuk lomba UKM, tidak hanya di tingkat kecamatan tapi juga sampai tingkat kotamadya. Sejumlah prestasi sebagai juara UKM pun ia raih. Seperti tahun 2002 dan 2005, Eno meraih juara I UKM tingkat DKI Jakarta mewakili PKK Jakarta Timur. Produknya juga semakin dikenal. Hadiah berupa uang senilai Rp 1 juta ia gunakan untuk menambah modal usahanya. Tak hanya itu, Eno juga diikutsertakan pada setiap pameran di Jakarta dan luar Jakarta atas nama UKM binaan Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM) DKI Jakarta, Kotamadya Jakarta Timur.

Merek dagang ASKA yang diambil dari singkatan kedua nama putrinya, kemudian diganti menjadi ‘Melati Health’.  “Nama tersebut adalah usul dari Bu Camat, katanya supaya usahanya terus wangi seperti melati,” lanjutnya. Dengan jumlah produk yang sudah mencapai 150 item, Eno melepas produknya mulai dari Rp 15 ribu hingga Rp 200 ribu. Semua pekerjaanya itu dilakukan oleh 12 orang karyawannya. Beberapa produk ciptaannya antara lain adalah stik refleksi, alat kerokan, dan alat penggaruk.

Proses pembuatannya memang membutuhkan ketelatenan. Pertama, kayu yang sudah dipilah, digambar sesuai pola yang dibutuhkan. Setelah dipola, kayu tersebut digergaji dengan menggunakan mesin, dan dibacok menggunakan golok mengikuti pola yang dibuat. Setelah itu kayu diraut dan diamplas.  Agar hasilnya optimal, pengamplasan dilakukan 4 – 5 kali. Langkah terakhir adalah finishing dengan menggunakan melamin. “Apapun kayunya selama itu keras pasti akan bagus,” kata Eno menambahkan.

Tahun 2005, Eno dapat bantuan PKK Jaktim dan Dekranasda Jaktim untuk mempatenkan merek ’Melati Health’-nya. Meski di beberapa lokasi seperti Glodok dan beberapa lokasi lainnya, produk buatannya banyak dijumpai dengan merek lain, namun Eno menanggapinya dengan besar hati. Kebanyakan, konsumennya datang dari para terapis. Tapi saat ini, hampir 90% pemasaran dilakukan di pameran.

Kini usaha alat bantu pijat Eno berkembang pesat. Dalam sebulan, Eno bisa mengantongi omzet Rp 70 – Rp 80 juta, dengan keuntungan bersih sekitar 40%. “Kalau belum dipotong biaya operasional sih keuntungan dari produk ini besar sekali. Bisa 100 – 300% karena bahan baku yang kita beli senilai Rp 500 ribu tidak akan habis dalam setahun,” ujarnya. Baginya, limbah kayu jika diolah dengan sedikit kreatifitas, maka akan menghasilkan barang yang bermanfaat dan bernilai jual.


No comments:

Post a Comment