Lewat
budi baik tetangga dan Lurah setempat, usaha ini berkembang lewat bantuan
permodalan. Tapi Eno Suparno, pembuat alat ini tetap harus membuktikan
keolehannya terlebih dulu.
![]() |
| Alat Pijat Dari Kayu. |
Ide membuat alat bantu pijat dari limbah kayu ini
berawal sejak tahun 1990. Saat itu Eno Suparno yang masih bekerja di sebuah gerai
di kawasan Gang Gloria, Glodok Jakarta Barat. Saat itu, ia melihat seorang office boy yang sedang mengepel lantai tak
sengaja mematahkan tangkai pelnya. Tangkai itu pun digeletakkan saja di dekat gerai
yang sedang dijaga Eno.
Baca Juga: Warung Tahu: Menu Sehat Serba Tahu
Melihat itu, Eno segera mengambilnya. Dia
membayangkan bisa membuat alat refleksi dari bahan kayu. Maklum, selain punya
keahlian dalam bidang kayu, Eno juga sudah lima tahun menjaga toko penjualan alat
kesehatan. Sayangnya, untuk mengoperasikan semua alat itu harus menggunakan baterai
atau listrik. Eno pun segera meraut kayu pel tadi menggunakan cutter membentuk alat refleksi untuk
telapak kaki.
Potongan kayu yang sudah dibentuk dan berjumlah 5 potong
tadi, secara sembunyi-sembunyi ditawarkan kepada pengunjung tokonya seharga Rp
3.000 – Rp 5.000. Tak disangka ada yang beli, bahkan ludes. Melihat itu, Eno
senang bukan main. Sayangnya, untuk membuat alat pijat kayu secara massal,
bapak dua anak ini tak memiliki mesin bubut. Uang tabungan yang pas-pasan,
akhirnya ia gunakan untuk merakit mesin bubut sendiri. Mata bor-nya pun menggunakan pisau dapur yang
dibentuk sedemikian rupa, dan sebagai penggerak ia menggunakan dinamo mesin
jahit.
Meskipun sering menemui kegagalan dalam pembuatan
mesin bubut, namun Eno tak menyerah. “Saya baru bisa menciptakan mesin dinamo
setelah menghabiskan 5 dinamo, karena gagal terus,” ujar mantan tukang kredit
di tahun 80-an ini. Dengan mesin bubut tersebut, ia bisa menghasilkan 10 – 30
buah alat bantu kesehatan yang model dan bentuknya kreasi sendiri. Ia pun
bersemangat untuk membuat alat kesehatan dari kayu secara massal. Apalagi
ketika suatu hari ia melintasi pusat furnitur di kawasan Klender, Jakarta
Timur, ia melihat banyak kayu limbah bekas potongan furnitur berserakan
sia-sia. Baginya, limbah kayu itu adalah rezeki.
Produknya tetap ia jual di toko, meskipun masih
secara sembunyi-sembunyi. Seiring berjalannya waktu, Eno memutuskan untuk
berwirausaha sendiri. ”Saya senang sekali karena dengan begitu saya bisa
menjual produk saya dan menambah variasinya,” kata pria asal Ciamis ini. Keterbatasan
modal, membuatnya harus meminjam uang ke orang-orang terdekatnya seperti
tetangga, teman saudara, bahkan ke rentenir. Terkadang, ketika pinjamannya
macet, ia kerap ditagih paksa oleh si peminjam.
Mulai Terlihat Oleh Umum
Ujian yang ia hadapi dalam mengembangkan usahanya,
akhirnya berakhir ketika tahun 2000. ”Selama 10 tahun, jangankan pemerintah,
tetangga pun tidak ada yang tahu tentang usaha saya, padahal bengkel produksi
ada di rumah sendiri,” ucapnya. Hingga
datang seorang tetangga, yang akhirnya memperkenalkan usaha Eno ke Suku Dinas Departemen
Perindustrian dan Perdagangan (Sudin Deperindag). Melihat adanya potensi yang
kuat pada usaha Eno, akhirnya Sudin Deperindag merekomendasikan Eno untuk
mendapatkan pinjaman permodalan dari Bank DKI. Tidak hanya itu, Eno juga diberi
kemudahan untuk membuat syarat administrasi seperti SIUP dan NPWP. Sebagai
agunan, tetangga yang baik hati tadi pun meminjamkan Akta Jual Belinya kepada
Eno.
Ketika pinjaman sebesar Rp 30 juta turun, Eno tak
menyia-nyiakan kesempatan. ”Saya langsung membeli mesin penunjang usaha seperti
mesin bubut dan peralatan lainnya,” ujarnya. Jumlah produksinya pun semakin meningkat.
Binaan UKM Jaktim
Beberapa waktu kemudian, ada pengangkatan Lurah baru
di wilayah Halim. ”Pak Lurah yang baru ini aktif mengadakan peninjauan untuk
mengetahui kondisi masyarakatnya. Beliau kaget setelah meninjau lingkungan di
sini. Ternyata ada UKM yang potensial di wilayahnya. Produk saya dinilai
potensial karena memanfaatkan limbah yang berguna sebagai alat bantu
kesehatan,” katanya bangga.
Sejak itu, Eno diikutsertakan mewakili kelurahan
untuk lomba UKM, tidak hanya di tingkat kecamatan tapi juga sampai tingkat kotamadya.
Sejumlah prestasi sebagai juara UKM pun ia raih. Seperti tahun 2002 dan 2005,
Eno meraih juara I UKM tingkat DKI Jakarta mewakili PKK Jakarta Timur.
Produknya juga semakin dikenal. Hadiah berupa uang senilai Rp 1 juta ia gunakan
untuk menambah modal usahanya. Tak hanya itu, Eno juga diikutsertakan pada
setiap pameran di Jakarta dan luar Jakarta atas nama UKM binaan Badan
Pemberdayaan Masyarakat (BPM) DKI Jakarta, Kotamadya Jakarta Timur.
Merek dagang ASKA yang diambil dari singkatan
kedua nama putrinya, kemudian diganti menjadi ‘Melati Health’. “Nama tersebut adalah usul dari Bu Camat,
katanya supaya usahanya terus wangi seperti melati,” lanjutnya. Dengan jumlah
produk yang sudah mencapai 150 item, Eno melepas produknya mulai dari Rp
15 ribu hingga Rp 200 ribu. Semua pekerjaanya itu dilakukan oleh 12 orang
karyawannya. Beberapa produk ciptaannya antara lain adalah stik refleksi, alat
kerokan, dan alat penggaruk.
Proses pembuatannya memang membutuhkan ketelatenan. Pertama, kayu yang
sudah dipilah, digambar sesuai pola yang dibutuhkan. Setelah dipola, kayu
tersebut digergaji dengan menggunakan mesin, dan dibacok menggunakan golok
mengikuti pola yang dibuat. Setelah itu kayu diraut dan diamplas. Agar hasilnya optimal, pengamplasan dilakukan
4 – 5 kali. Langkah terakhir adalah finishing dengan menggunakan melamin.
“Apapun kayunya selama itu keras pasti akan bagus,” kata Eno menambahkan.
Tahun 2005, Eno dapat bantuan PKK Jaktim dan Dekranasda Jaktim untuk
mempatenkan merek ’Melati Health’-nya. Meski di beberapa lokasi seperti Glodok
dan beberapa lokasi lainnya, produk buatannya banyak dijumpai dengan merek
lain, namun Eno menanggapinya dengan besar hati. Kebanyakan, konsumennya datang
dari para terapis. Tapi saat ini, hampir 90% pemasaran dilakukan di pameran.
Kini usaha alat bantu pijat Eno berkembang pesat. Dalam sebulan, Eno bisa mengantongi omzet Rp 70 – Rp
80 juta, dengan keuntungan bersih sekitar 40%. “Kalau belum dipotong biaya
operasional sih keuntungan dari produk ini besar sekali. Bisa 100 – 300% karena
bahan baku yang kita beli senilai Rp 500 ribu tidak akan habis dalam setahun,”
ujarnya. Baginya, limbah kayu jika diolah dengan sedikit kreatifitas, maka akan
menghasilkan barang yang bermanfaat dan bernilai jual.

No comments:
Post a Comment