Malam di
Ethiopia, sekelompok kafilah beristirahat di tenda setelah perjalanan seharian.
Mereka membuat api unggun untuk menghangatkan badan. Seorang anggota kafilah
memungut ranting dengan buahnya yang merah, lalu memasukkannya ke dalam api.
![]() |
| Biji kopi |
Serentak
tercium aroma harum dari buah yang hangus terbakar itu. Kafilah itu memungut
buah gosong itu, menciumnya, lalu memakannya. Ternyata rasanya pahit. Untuk
menetralkannya, si kafilah segera minum beberapa teguk air. Tak berapa lama
kemudian ia merasakan tubuhnya menjadi segar, kantuk dan capeknya hilang.
Teman-temannya segera ikut mengunyah buah gosong itu lalu minum air, untuk
membuktikan "promosi" salah satu temannya tadi. Sejak itulah Homo sapiens sapiens mengenal biji kopi,
sebagai bahan minuman. Kopi memang termasuk komoditas baru sebagai minuman.
Dunia baru mengenal kopi sekitar abad XIV. Sementara bir sudah dikenal sejak
tahun 2.500 SM, teh sejak tahun 2.700 SM, dan wine sejak tahun 7.000 SM.
Legenda
lain menyebutkan, bahwa para peternak Ethiopia melihat kambing yang mereka
gembalakan, saling menaiki satu sama lain, setelah mereka makan daun dan buah
kopi. Maka sampai sekarang masyarakat Ethiopia, tetap menyeduh daun kopi
sebagai minuman penyegar. Dari Ethiopia, kultur minum kopi menyebar ke Somalia,
Yaman, Arab Saudi, Mesir, Turki, dan kemudian mendunia. Hingga kultur minum
kopi, relatif masih sangat muda dibanding dengan teh, bir, wine, bahkan juga dengan susu dan madu. Namun demikian, dalam waktu
yang sangat singkat kopi telah mampu menandingi teh, dan mengalahkan bir, wine, susu dan madu. Kultur minum kopi
makin menjadi tren peradaban modern, berkat franchise
Starbucks, Cofee Beans, dan juga Kopitiam.
Arabika dan Java
Karena
dunia Barat (Eropa) mengenal kopi dari Arab, maka salah satu spesies kopi yang
kemudian mendunia adalah kopi arabika (Coffea
arabica). Baru kemudian dikembangkan pula kopi robusta (Coffea canephora), kopi ekselsa (Coffea excelsa), dan kopi liberika (Coffea liberica). Pada zaman pemerintah
kolonial Hindia Belanda, sekitar abad 18 dan 19, Pulau Jawa pernah menjadi
produsen kopi arabika utama dunia. Karena terkenalnya kopi arabika dari Jawa,
maka di Eropa Utara, kopi disebut sebagai "java". Hingga di Norwegia,
Swedia, Finlandia, dan Denmark, sampai sekarang orang akan menyebut "minum
java" untuk pengertian minum kopi. Pada abad 19, penyakit karat daun
akibat cendawan Hemileia vastatrix,
menghancurkan perkebunan kopi arabika di Jawa.
Pemerintah
Hindia Belanda, kemudian mengganti spesies kopi arabika dengan kopi robusta
yang lebih tahan terhadap karat daun, dan dengan produktivitas lebih tinggi.
Sekarang sentra kopi arabika di Indonesia, tinggal tersisa di dataran tinggi
Takengon (Aceh), Sidikalang (Sumut), Lereng Timur Gunung Ungaran (Jateng), Ijen
(Jatim), Ruteng (Flores, NTT), Toraja (Sulsel). Belakangan ini kopi arabika
juga berkembang di Jaya Wijaya, Papua. Karena produktivitasnya rendah,
pembudidaya kopi arabika tak sebanyak kopi robusta. Maka harga kopi arabika
selalu lebih tinggi dibanding dengan robusta. Ciri khas kopi arabika adalah
aromanya yang sangat kuat, kafein rendah, tetapi rasanya masam. Kopi robusta
berkafein tinggi, dan pahir, tetapi aromanya tak sekuat arabika.
Merk-merk
kopi-kopi terkenal, tidak pernah menggunakan spesies tunggal, melainkan selalu
merupakan campuran berbagai spesies, varietas, bahkan juga kultivar. Para
produsen kopi, dan terutama pemegang franchise
kedai kopi, selalu berburu kopi sampai ke kebunnya. Kopi-kopi di Starbucks, atau coffe shop di hotel bintang, selalu merupakan "blandid" dari kopi arabika, kopi
robusta, kopi ekselsa, dan kopi liberika. Bahkan, kopi budi daya saat ini,
sudah tidak ada yang spesies asli. Semua sudah merupakan varietas atau kultivar
hibrida antar spesies. Di dunia, saat ini diketahui ada 114 spesies kopi.
Sampai sekarang spesies-spesies kopi baru masih terus diketemukan. Tahun 2008
dan 2009, the Royal Botanic Gardens, Kew,
telah memberi nama 10 spesies kopi baru. Salah satunya Coffea charrieriana.
Pro Kontra
Khasiat Kopi
Coffea
charrieriana
diketemukan di Kamerun, oleh The
International Institute for Species Exploration, dari Arizona State
University, bekerjasama dengan an
international committee of taxonomists. Keistimewaan Coffea charrieriana adalah sama sekali tidak mengandung caffeine. Hingga para pecandu kopi di masa
depan, tidak perlu takut menyeruput kopi lagi, karena tersedia kopi yang harum,
pahit, tetapi bebas caffeine.
Dari
data FAO 2009, produsen kopi utama dunia adalah Brasil (2,44 juta ton), Vietnam
(1,18 juta ton), Kolombia (890.000 ton), Indonesia (700.000 ton), dan India (290.000
ton). Sebenarnya, Vietnam baru pada tahun 1990an serius belajar membudidayakan
kopi dari Indonesia. Tetapi Vietnam yang sebelumnya bukan negara penghasil kopi
dan bukan anggota the Association of
Coffee Producing Countries (ACPC) dan the
International Coffee Organization (ICO), tiba-tiba menyodok duduk di posisi
2 dunia.
Mereka
yang kontra kopi, keberatan dengan pengaruh kopi terhadap peningkatan tekanan
darah, dan kinerja jantung. Mereka yang tidak biasa minum kopi, akan merasakan
dampak secara langsung, berupa jantung yang berdetak lebih kuat, dan lebih
cepat. Kopi juga mengakibatkan sulit tidur. Namun demikian mereka yang pro
minum kopi, akan menyebut kopi berkhasiat diuretik (memperlancar pembuangan
urine). Dampak dari keluarnya urine, harus disertai dengan minum air putih
sebanyak mungkin. Karena itu sebenarnya minum kopi akan berakibat ke penurunan
tekanan darah. Belakangan diketemukan fakta baru, bahwa kopi jelas berdampak
mengurangi risiko tingginya kadar gula darah, termasuk pada para penderita
diabetes. Bahkan mereka yang sangat pro kopi, memromosikan minuman ini sebagai
berkhasiat mengurangi risiko terserang kanker.
Selain
diuretik, khasiat kopi yang paling nyata memang berupa pulihnya stamina,
hilangnya kantuk, dan semua organ tubuh bisa bekerja normal kembali. Dengan
catatan, kopi harus diminum ketika perut terisi. Sebab kopi, terutama kopi
arabika, juga mengandung asam yang cukup kuat, hingga minum kopi ketika perut
kosong, akan potensial untuk menimbulkan gangguan maag. Sebenarnya khasiat
tonik, pada kopi juga bisa berbahaya, apabila diminum ketika tubuh sudah
terlalu capek. Dampak sesaat dari kopi, memang akan menimbulkan kesegaran.
Namun itu tidak akan berlangsung lama, sebab daya tahan tubuh tetap ada
batasnya.

No comments:
Post a Comment