Wedang Uwuh: Racikan Mirip “Sampah”, Tapi Multi Khasiat - KABAR BISNIS MU

KABAR BISNIS MU

Bisnis adalah kegiatan manusia yang bertujuan untuk menghasilkan uang dengan memproduksi dan menjual suatu produk, baik itu barang atau jasa. KABAR BISNISMU memberikan segudang informasi tentang peluang usaha, bisnis,kuliner,tehnologi dan berita berita terbaru

Breaking

Tuesday, January 29, 2019

Wedang Uwuh: Racikan Mirip “Sampah”, Tapi Multi Khasiat


Mengangkat kembali minuman tradisional menjadi tren ternyata bisa memberikan rezeki yang menjanjikan.  Itulah yang dilakukan Retnosyari Septiani warga Condong Catur, Sleman, Yogyakarta yang sejak tahun 2008 menjual racikan wedang uwuh (sampah). 

Wedang uwuh dalam kemasan menjadi lebih menarik bagi konsumen.
Minuman khas tradisional ini  terbuat dari beberapa campuran rempah- rempah.  Meliputi jahe, kayu secang, kayu manis, daun pala, daun cengkeh, dan gagang cengkeh.  Kaya anti-oksidan dan minyak atsiri.  Berkhasiat untuk menghangatkan badan.  Aromanya pun berkhasiat untuk terapi.  Mengobati lelah, masuk angin dan mencegah radang tenggorokan.  

Minuman ini berasal dari Imogiri, Bantul,  Yogyakarta.  Penemuan racikan wedang uwuh ini dibungkus  legenda  rakyat  Mataram. Konon  tahun 1630,  Sultan Agung  yang sedang bersemedi, meminta pelayan untuk membuatkan minuman.  Namun saat malam hari, banyak dedaunan yang masuk ke dalam  wadah minum tersebut. Ketika direbus rasanya nikmat. Sejak saat itu dikenal sebutanwedang uwuh. 

Omzetnya Rp 15 juta/bulan

Bertujuan mengembangkan minuman yang berakar  budaya Yogyakarta, Septiani  merasa perlu melakukan edukasi  kepada masyarakat.  Agar mengetahui manfaat serta khasiat  minuman unik ini.  Saat memulai usaha ini ia mendapatkan modal  awal  Rp 5 juta dana hibah  dari Dinas P&K propinsi Yogyakarta.  Tahun 2009  Septiani memproduksi  wedang uwuh instan yang siap seduh, dengan  5 variasi.   Harga produk celup Rp 7.000 – 10.000.  Kapasitas produksi 300 pack / hari. Setiap bulan, usaha ini membutuhkan 1 ton jahe emprit. Omzet yang diperoleh Rp 15 juta / bulan.

Bahan baku diperoleh dari pasar Bering Harjo Yogyakrta.  Sebagian diambil dari petani dari Kendal.  Bahan yang dikumpulkan tidak boleh berjamur.  Pemasaran yang ditempuh dengan cara konsinyasi kepada supermarket, toko.  50% penjualan juga berasal dari pemesanan cash & carry.  Selain itu  ia juga menjual wedang uwuh dalam bentuk curah yakni bahan-bahan saja.  “Biasanya ada yang membeli curah.

Lalu mereka mengemas dalam bungkus kecil-kecil  dan dikasih label sendiri,” tutur Retno.  Saat ini pemasaran baru mencakup area Jawa Tengah.  Masih terbuka lebar untuk membuka keagenan  bagi yang berminat memasarkan produk ini. Selama ini kendala yang dihadapi ,   harga bahan baku cenderung semakin naik.  Retno mengatasinya  dengan cara  mencari  lebih dari satu pemasok bahan.  

No comments:

Post a Comment