Mengangkat kembali minuman tradisional menjadi tren ternyata
bisa memberikan rezeki yang menjanjikan.
Itulah yang dilakukan Retnosyari Septiani warga Condong Catur, Sleman,
Yogyakarta yang sejak tahun 2008 menjual racikan wedang uwuh (sampah).
![]() |
| Wedang uwuh dalam kemasan menjadi lebih menarik bagi konsumen. |
Minuman khas tradisional ini
terbuat dari beberapa campuran rempah- rempah. Meliputi jahe, kayu secang, kayu manis, daun
pala, daun cengkeh, dan gagang cengkeh.
Kaya anti-oksidan dan minyak atsiri.
Berkhasiat untuk menghangatkan badan.
Aromanya pun berkhasiat untuk terapi.
Mengobati lelah, masuk angin dan mencegah radang tenggorokan.
Minuman ini berasal dari Imogiri, Bantul, Yogyakarta.
Penemuan racikan wedang uwuh ini dibungkus legenda
rakyat Mataram. Konon tahun 1630,
Sultan Agung yang sedang
bersemedi, meminta pelayan untuk membuatkan minuman. Namun saat malam hari, banyak dedaunan yang
masuk ke dalam wadah minum tersebut.
Ketika direbus rasanya nikmat. Sejak saat itu dikenal sebutanwedang uwuh.
Omzetnya Rp 15
juta/bulan
Bertujuan mengembangkan minuman yang berakar budaya Yogyakarta, Septiani merasa perlu melakukan edukasi kepada masyarakat. Agar mengetahui manfaat serta khasiat minuman unik ini. Saat memulai usaha ini ia mendapatkan modal awal
Rp 5 juta dana hibah dari Dinas
P&K propinsi Yogyakarta. Tahun 2009 Septiani memproduksi wedang uwuh instan yang siap seduh, dengan 5 variasi.
Harga produk celup Rp 7.000 – 10.000.
Kapasitas produksi 300 pack / hari. Setiap bulan, usaha ini membutuhkan
1 ton jahe emprit. Omzet yang diperoleh Rp 15 juta / bulan.
Bahan baku diperoleh dari pasar Bering Harjo Yogyakrta. Sebagian diambil dari petani dari
Kendal. Bahan yang dikumpulkan tidak
boleh berjamur. Pemasaran yang ditempuh
dengan cara konsinyasi kepada supermarket, toko. 50% penjualan juga berasal dari pemesanan
cash & carry. Selain itu ia juga menjual wedang uwuh dalam bentuk
curah yakni bahan-bahan saja. “Biasanya
ada yang membeli curah.
Lalu mereka mengemas dalam bungkus kecil-kecil dan dikasih label sendiri,” tutur Retno. Saat ini pemasaran baru mencakup area Jawa
Tengah. Masih terbuka lebar untuk
membuka keagenan bagi yang berminat
memasarkan produk ini. Selama ini kendala yang dihadapi , harga bahan baku cenderung semakin
naik. Retno mengatasinya dengan cara
mencari lebih dari satu pemasok
bahan.

No comments:
Post a Comment