Renyahnya Laba Homemade Biskuit Bayi - KABAR BISNIS MU

KABAR BISNIS MU

Bisnis adalah kegiatan manusia yang bertujuan untuk menghasilkan uang dengan memproduksi dan menjual suatu produk, baik itu barang atau jasa. KABAR BISNISMU memberikan segudang informasi tentang peluang usaha, bisnis,kuliner,tehnologi dan berita berita terbaru

Breaking

Thursday, January 31, 2019

Renyahnya Laba Homemade Biskuit Bayi


Sebagai makanan pendamping ASI, untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan bayi sejak umur 6 bulan bayi dikenalkan dengan makanan semi padat pertama. Biskuit bayi adalah salah satu alternatif makanan pendamping ASI. Salah satu produsen biskuit bayi homemade adalah Tyafitha Defarini, seorang ibu dari 2 bidadari kecil yang cantik.

. Biskuit bayi adalah salah satu alternatif makanan pendamping ASI.
Wanita yang akrab disapa Fitha ini bermimpi mempunyai cakeshop sendiri dan bekerja di rumah sambil mengawasi anak. “Untuk saat ini kami membuat biskuit berdasarkan pesanan. Jadi pemesan selalu menerima biskuit atau kue yang fresh from the oven, dan semua homemade, tanpa bahan pengawet sama sekali,” kata Fitha.

Mengapa memilih usaha biskuit bayi sebagai usaha sampingan? Ide usaha  datang ketika tahun 2008 ia memiliki  anak pertama.  Saya iseng membuat cemilan sendiri, sebagai  salah satu cara untuk memenuhi gizi bagi balita yang susah makan,” kenang Fitha. Dengan penuh percaya diri, ia  membuat biskuit bayi  dengan  mencampurkan bahan-bahan seperti mentega unsalted, tepung beras, oatmeal dan buah yang sudah diblender. Semua bahan diaduk jadi satu, dibentuk, dan dioven selama 20 menit dengan suhu rendah.

“Buah yang saya gunakan pisang, apel, atau wortel. Yang bikin unik biskuitnya tidak pakai telur, gula, garam, dan susu. Rasa manisnya sudah didapat dari sari buah” jelas Fitha. Oleh karenanya, biskuit ini sangat aman bagi bayi yang alergi telur dan susu. Apalagi  teksturnya halus dan  mengandung serat yang baik. Putri sulung Fitha pun menyukainya.

Hanya menerima pesanan

Biskuit ini cocok  untuk bayi dibawah setahun, usia 6-8 bulan ataupun usia 8-12 bulan. Yang membedakan, untuk konsumsi bayi 8 – 12 bulan  oatmealnya  tidak diblender. Tujuannya,  membuat bayi belajar mengunyah. Biskuit ini dapat disajikan dengan ASI/ASIP ataupun sufor atau air putih. Biskuit ini bisa bertahan 2-3 minggu disimpan dalam suhu ruangan. Fitha menyarankan, penyimpanan yang baik diletakkan di tempat kedap udara dan dimasukkan kulkas.

Pada saat mau dikonsumsi tinggal ambil sesuai keperluannya. Jika dulu menggunakan stoples mika untuk packaging, sekarang Fitha mengganti kemasan dengan plastik berseal, dan diberi label pada kemasan.. Untuk pengiriman ke luar kota, ia menyusunnya di dalam kardus hardcover 12x12x12 cm agar tidak hancur.    

Karena masih terkendala modal dan tempat, Fitha hanya menerima pesanan belum membuka out-let.  Dengan bahan baku yang berkualitas tinggi, saya takut mau dijual berapa produk  karena dibebani sewa tempat,” jelasnya. Selain promosi dari mulut ke mulut, Fitha juga memasarkan produknya via online. Namun ia berencana untuk menitipkan ke supermarket agar para ibu yang ”tidak melek internet” bisa membeli  langsung.

Harga jualnya Rp 30.000/ kemasan 200-225 gram. Untuk yang diberi tambahan cheese harganya Rp 35 ribu,  belum termasuk ongkos kirim. Pemesanan dari kawasan Jakarta dan sekitar ditambah biaya kirim Rp.  6.000 Rp. 15.000,  tergantung lokasinya. Kendala yang dihadapi saat ini adalah kurangnya tenaga kerja. ”Selama ini saya selalu mengerjakan sendiri. Untuk mengatasi kekurangan tenaga saya pakai asisten harian dulu,” akunya.

No comments:

Post a Comment