Sebagai makanan pendamping ASI,
untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan bayi sejak umur 6 bulan bayi
dikenalkan dengan makanan semi padat pertama. Biskuit bayi adalah salah satu
alternatif makanan pendamping ASI. Salah satu produsen biskuit bayi homemade
adalah Tyafitha Defarini, seorang
ibu dari 2 bidadari kecil yang cantik.
![]() |
| . Biskuit bayi adalah salah satu alternatif makanan pendamping ASI. |
Wanita yang akrab disapa Fitha
ini bermimpi mempunyai cakeshop sendiri dan bekerja di rumah sambil
mengawasi anak. “Untuk saat ini kami membuat biskuit
berdasarkan pesanan. Jadi pemesan selalu menerima biskuit atau kue yang fresh
from the oven, dan semua homemade, tanpa bahan pengawet sama
sekali,” kata Fitha.
Mengapa
memilih usaha biskuit bayi sebagai usaha sampingan? Ide
usaha datang ketika
tahun 2008
ia memiliki anak pertama. ”Saya iseng membuat cemilan sendiri, sebagai salah satu cara
untuk memenuhi gizi bagi balita yang susah makan,” kenang Fitha. Dengan penuh
percaya diri, ia membuat biskuit bayi dengan mencampurkan bahan-bahan seperti mentega unsalted,
tepung beras, oatmeal dan buah yang sudah diblender. Semua bahan diaduk jadi
satu, dibentuk, dan dioven selama 20 menit dengan suhu rendah.
“Buah yang saya gunakan pisang,
apel, atau wortel. Yang bikin unik biskuitnya tidak pakai telur, gula, garam,
dan susu. Rasa manisnya sudah didapat dari sari buah” jelas Fitha. Oleh karenanya, biskuit ini sangat aman bagi bayi yang alergi telur dan
susu. Apalagi teksturnya halus dan mengandung serat
yang baik. Putri sulung Fitha pun menyukainya.
Hanya menerima
pesanan
Biskuit ini cocok untuk bayi dibawah setahun, usia 6-8 bulan ataupun usia 8-12 bulan.
Yang membedakan, untuk konsumsi bayi 8 – 12 bulan oatmealnya tidak diblender. Tujuannya, membuat bayi belajar mengunyah. Biskuit ini dapat disajikan dengan ASI/ASIP
ataupun sufor atau air putih. Biskuit ini bisa bertahan 2-3 minggu disimpan dalam suhu ruangan. Fitha menyarankan, penyimpanan yang baik
diletakkan di tempat kedap udara dan dimasukkan kulkas.
Pada saat mau dikonsumsi
tinggal ambil sesuai keperluannya. Jika dulu menggunakan stoples mika untuk packaging, sekarang Fitha mengganti
kemasan dengan plastik berseal, dan diberi label
pada kemasan.. Untuk pengiriman ke luar kota, ia menyusunnya di dalam
kardus hardcover 12x12x12 cm agar tidak hancur.
Karena
masih terkendala modal dan tempat, Fitha hanya menerima
pesanan belum membuka out-let. ”Dengan bahan baku yang berkualitas tinggi, saya takut mau dijual
berapa produk karena dibebani sewa
tempat,” jelasnya. Selain promosi dari mulut ke mulut, Fitha juga memasarkan
produknya via online. Namun ia berencana untuk menitipkan ke supermarket agar
para ibu yang ”tidak melek internet” bisa membeli langsung.
Harga jualnya Rp 30.000/ kemasan 200-225 gram. Untuk yang diberi tambahan cheese harganya Rp 35
ribu,
belum termasuk
ongkos kirim. Pemesanan dari kawasan Jakarta dan sekitar ditambah biaya kirim Rp.
6.000 –
Rp. 15.000, tergantung lokasinya. Kendala yang dihadapi saat ini adalah kurangnya tenaga
kerja. ”Selama ini saya selalu mengerjakan sendiri. Untuk mengatasi
kekurangan tenaga saya pakai asisten harian
dulu,” akunya.

No comments:
Post a Comment