Mulyadi menggunakan limbah kerang
sebagai bahan baku alternatif kerajinan furnitur. Bermodal Rp 10 juta,
usaha rumahan ini berhasil memasarkan produknya
sampai manca negara. Dengan suntikan dana PT Jasa Raharja, ia mempu mendapatkan omzet Rp 100 juta/bulan.
![]() |
Produk dari limbah kulit kerang |
Bila banyak orang menggemari nikmatnya sea food, Mulyadi (35) cukup menikmati
limbahnya saja. Salah satunya, kulit
kerang. Sebagai pengrajin lampion lampu dan aneka furnitur , ia melihat limbah
tersebut memiliki potensi bisnis
yang besar. “Kebetulan tempat
tinggal saya tak jauh dari pantai. Di
sana kulit kerang menumpuk banyak sekali,” tutur warga Cirebon ini.
Pemanfaatan kulit kerang memang belum banyak dilirik orang. Paling-paling untuk bahan kerajinan kalung
yang harganya tidak begitu mahal,
bahkan sering hanya dijadikan bahan penguruk jalan.
Alasan ini lah yang menjadi salah
satu pendorong Mulyadi memilih kulit kerang sebagai bahan pembuat furniture. Mulyadi juga menuturkan bahwa perabot yang
terbuat dari kayu semakin sulit mendapatkan bahan bakunya. Disamping itu, pasar furniture kayu semakin jenuh dari hari ke hari.
Perlu survei bahan baku
Bisnis kreatif ini dirintis tahun
2005. Berbekal modal Rp 10 juta
dari tabungan pribadi,
Mulyadi mulai memberdayakan
limbah kulit kerang jenis
simping. Benda yang awalnya remeh itu
kemudian disulap menjadi beraneka perabot rumah tangga. Mebel karya Mulyadi boleh dikatakan tidak
ketinggalan zaman. Ia jeli mendesain mebel yang sedang tren
seperti aneka kursi, meja dan lampion
gaya minimalis.
Sebelum memulai usaha ini, ia melakukan survei
ketersediaan bahan baku. “Kalau
jumlahnya sedikit meskipun murah nanti bisa menjadi kendala,” paparnya. Saat ini Mulyadi memiliki pemasok kulit kerang dari
Lampung dan Jawa Timur, yang sanggup secara ajeg menyuplai. Harga kulit kerang Rp 3000 – Rp 60.000/kg. Harga kulit kerang ditentukan oleh
jenisnya. Kerang berwarna atau kerang teratai atau kerang putri salju lebih mahal
dibandingkan kerang bulat biasa dan tak berwarna. Kerang tak berwarna ini disebut sebagai
kerang jrebeng atau simping. Tidak semua
kerang yang dibeli bisa digunakan sebagai bahan baku pembuat kerajinan. Setelah
disortasi, hanya tersisa 1/3 bagian kerang yang bisa digunakan.
Ongkos pengadaan kerang menjadi
biaya terbesar dari total biaya produksi yang dibutuhkan. Setiap
bulan ia membutuhkan kulit kerang sebanyak 70 kg. “ Satu meja atau satu kursi rata-rata butuh
kerang sebanyak 3 kg”, imbuhnya.
Rambah manca negara
Untuk memasarkan produknya, ada
beberapa cara yang ia tempuh. Salah satu
cara ampuh yaitu ikut berbagai pameran.
“Dengan cara ini saya dapat bertemu
calon mitra yang berpotensi ikut membantu menjual produk saya,”
imbuhnya. Sebagai mitra binaan PT Jasa Rahardja,
ia mendapatkan dana pinjaman sebesar Rp 30 juta. Dengan
masa angsuran 2 tahun. ‘Keuntungannya bukan hanya karena saya
mendapatkan dana bantuan untuk modal, namun saya menjadi sering diajak
pameran,” papar bapak 4 putera ini.
Cara pemasaran berikutnya , menitipkan produknya kepada
perusahan-perusahan furnitur di Jepara.
Perpaduan cara pemasaran tersebut terbukti ampuh. Furnitur kulit kerang buatan Mulyadi telah merambah
pasar luar negeri. Diantaranya
Malaysia, Inggris, Spanyol dan Amerika.
Sayang, ia belum dapat
secara langsung menjual produknya ke luar negeri. Saat ini masih menggunakan jasa eksportir.
No comments:
Post a Comment