Antika Lightings: Menambang Rupiah Dari Limbah Kerang - KABAR BISNIS MU

KABAR BISNIS MU

Bisnis adalah kegiatan manusia yang bertujuan untuk menghasilkan uang dengan memproduksi dan menjual suatu produk, baik itu barang atau jasa. KABAR BISNISMU memberikan segudang informasi tentang peluang usaha, bisnis,kuliner,tehnologi dan berita berita terbaru

Friday, January 11, 2019

Antika Lightings: Menambang Rupiah Dari Limbah Kerang


Mulyadi menggunakan limbah kerang  sebagai bahan baku alternatif kerajinan furnitur. Bermodal Rp 10 juta, usaha rumahan ini berhasil memasarkan produknya  sampai manca negara. Dengan suntikan dana PT Jasa Raharja,  ia mempu mendapatkan omzet Rp 100 juta/bulan.

Produk dari limbah kulit kerang
Bila banyak orang menggemari nikmatnya  sea food, Mulyadi (35) cukup menikmati limbahnya saja.  Salah satunya, kulit kerang.  Sebagai pengrajin lampion lampu dan aneka furnitur ,  ia melihat limbah tersebut memiliki potensi  bisnis yang besar.   “Kebetulan tempat tinggal saya tak jauh dari pantai.  Di sana kulit kerang menumpuk banyak sekali,” tutur warga Cirebon ini.  Pemanfaatan kulit kerang memang belum banyak dilirik orang.  Paling-paling untuk bahan kerajinan kalung yang harganya tidak begitu mahal, bahkan sering hanya dijadikan bahan penguruk jalan. 

Alasan ini lah yang menjadi salah satu pendorong Mulyadi memilih kulit kerang sebagai bahan pembuat furniture.   Mulyadi juga menuturkan bahwa perabot yang terbuat dari kayu semakin sulit mendapatkan bahan bakunya.  Disamping itu, pasar furniture  kayu semakin jenuh dari hari ke hari. 

Perlu survei bahan baku

Bisnis kreatif ini dirintis tahun 2005.  Berbekal modal  Rp 10 juta  dari tabungan pribadi, Mulyadi  mulai memberdayakan limbah kulit kerang jenis simping.  Benda yang awalnya remeh itu kemudian disulap menjadi beraneka perabot rumah tangga.  Mebel karya Mulyadi boleh dikatakan tidak ketinggalan zaman. Ia  jeli mendesain mebel yang sedang tren seperti  aneka kursi, meja dan lampion gaya minimalis.

Sebelum memulai usaha ini, ia  melakukan survei ketersediaan bahan baku.  “Kalau jumlahnya sedikit meskipun murah nanti bisa menjadi kendala,” paparnya.  Saat ini Mulyadi  memiliki pemasok kulit kerang  dari Lampung dan Jawa Timur, yang sanggup secara ajeg menyuplai. Harga kulit kerang Rp 3000   Rp 60.000/kg.  Harga kulit kerang ditentukan oleh jenisnya.  Kerang berwarna atau kerang  teratai atau kerang putri salju lebih mahal dibandingkan kerang bulat biasa dan tak berwarna.  Kerang tak berwarna ini disebut sebagai kerang jrebeng atau simping.  Tidak semua kerang yang dibeli bisa digunakan sebagai bahan baku pembuat kerajinan. Setelah disortasi, hanya tersisa 1/3 bagian kerang yang bisa digunakan. 

Ongkos pengadaan kerang menjadi biaya terbesar dari total biaya produksi yang dibutuhkan.  Setiap bulan ia membutuhkan kulit kerang sebanyak 70 kg.  “ Satu meja atau satu kursi rata-rata butuh kerang sebanyak 3 kg”, imbuhnya.  

Rambah manca negara

Untuk memasarkan produknya, ada beberapa cara yang ia tempuh.  Salah satu cara ampuh yaitu ikut berbagai pameran.  “Dengan cara ini saya dapat bertemu  calon mitra yang berpotensi ikut membantu menjual produk saya,” imbuhnya.  Sebagai mitra binaan PT Jasa Rahardja,  ia mendapatkan dana pinjaman sebesar Rp 30 juta.  Dengan masa angsuran  2 tahun.  ‘Keuntungannya bukan hanya karena saya mendapatkan dana bantuan untuk modal, namun saya menjadi sering diajak pameran,” papar bapak 4 putera ini. 

Cara pemasaran berikutnya ,  menitipkan produknya kepada perusahan-perusahan furnitur di Jepara.  Perpaduan cara pemasaran tersebut terbukti ampuh.  Furnitur  kulit kerang buatan Mulyadi telah merambah pasar luar negeri.  Diantaranya  Malaysia, Inggris, Spanyol dan Amerika.  Sayang, ia belum dapat secara langsung menjual produknya ke luar negeri.  Saat ini masih menggunakan jasa eksportir.

No comments:

Post a Comment