Sakit hati memang susah dicari obatnya. Tapi dengan
mengonsumsi beberapa herba, bisa jadi kondisi hati Anda bakal kembali pulih.
![]() |
Jahe Merah |
Tahongai asal Kalimantan Timur adalah salah satunya. Daun
tanaman bernama ilmiah Kleinhovia hospita ini dipercaya mampu mengobati
penyakit hati alias hepatitis. Dalam daun Tahongai sendiri terkandung beberapa
senyawa aktif. Seperti Eleutherol dan Kaempferol 3-glukosida. Keduanya termasuk
dalam zat antioksidan. Kandungan lainnya adalah senyawa golongan kumarin. Yakni
7-hidroksi-6-metoksi kumarin (skopoletin). Zat ini secara mampu memberikan efek
antihipertensi, antiinflamasi, antialergi, dan menghambat prostaglandin
synthetase (senyawa asam lemak).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Enos Tangke Arung
dan Irawan Wijaya Kusuma, dosen peneliti pada Fakultas Kehutanan Universitas
Mulawarman, Samarinda, Kalimantan
Timur, ekstrak Tahongai mampu mematikan
sel kanker hati, yaitu sel HepG2. Untuk mengetahui daya hambat Tahongai
terhadap sel kanker hati HepG2, digunakan L-glutamine 10% fetal bovine serum,
sodium bicarbonate, streptomisin 100 mikrogram per mililiter, dan penisilin 100
mikrogram per mililiter.
Kumarin
Lalu bagaimana cara Tahongai membantu penderita penyakit
hati? Ternyata senyawa golongan kumarin mujarab untuk mengurangi rasa sakit
karena terjadinya peradangan hati. Selain itu, senyawa dalam daun Tahongai
mampu memulihkan dan memperkuat kondisi hati sehingga organ ini mampu
menjalankan kembali fungsinya. Yakni sebagai tempat untuk menyimpan mineral,
vitamin, dan gula untuk bahan bakar tubuh.
Yang paling penting, organ ini mampu menjalankan fungsinya sebagai
“pembersih” racun dalam darah. Peran
penting lainnya adalah mengontrol produksi dan pengeluaran kolesterol.
Dengan cara yang
hampir sama, sebenarnya masih ada herba lainnya yang mampu membantu penyembuhan
penyakit hati. Salah satunya adalah Jombang (Taraxacum officinale). Herba ini
mampu menjaga kesimbangan sistem imunitas dalam tubuh. Asal tahu saja,
ketidakseimbangan sistem imun dapat menimbulkan beberapa penyakit kronis.
Seperti hepatitis, alergis (asma, rinitis, dan dermatitis). Bila
ketidakseimbangan ini mampu diperbaiki, bisa dipastikan penyakit kronis
tersebut dapat diatasi.
Hal di ataslah yang menggelitik hati para peneliti dari
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha, Bandung. Diana K. Jasaputra, Endang Evacuasiany,
Yohanes S.A., P. Aitara, dan Iwan
Hermawan adalah yang berada dibalik keberhasilan penelitian tersebut. Metode penelitian dilakukan dengan pengujian
efek antihepatotoksik herba Jombang pada mencit yang telah diinduksi oleh CCl4.
Pengujian efek antiinflamasinya dilakukan dengan mencit yang telah diinduksi
ovalbumin secara intrakutan sehingga menimbulkan dermatitis alergika.
Dari hasil di atas terlihat, Jombang mampu memperbaiki
aktivitas enzim ALT (29 IU/L), mengurangi kerusakan hati (nekrosis hepatosit
46), mengurangi nilai absorbansi hasil reaksi malondialdehid hati dan asam
tiobarbiturat (0,260) pada mencit-mencit yang telah diberi CCl4. Herba Jombang
dapat juga mengurangi lebar peradangan (13,71mm) dan jumlah sel-sel radang (59)
pada kulit mencit yang telah diinduksi ovalbumin intrakutan.
Keseimbangan Imun
Jadi berdasarkan hasil penelitian di atas, herba Jombang
mempunyai efek antihepatotoksi dan antiinflamasi pada dermatitis alergika yang
diindikasikan bisa menimbulkan keseimbangan sistem imun (kekebalan). Sebagai
tambahan informasi, uji toksisitas akut herba Jombang telah dijalani dengan
hasil praktis tak toksik (tidak beracun). Langkah ini jadi nilai dasar untuk
melanjutkan uji klinik di masa depan.
Lalu herba lainnya yang efektif menjaga kondisi hati adalah akar Licorice
(Glycyrrhiza glabra) alias akar manis.
Zat aktifnya yang bernama asam glycyrrhizin menunjukkan sifat antivirus
dan antiinflamasi. Asam yang terasa manis ini perannya mirip aldosteron, hormon
alami yang mengatur garam dan air pada tubuh.
Selama lebih dari 20 tahun negara Jepang telah menggunakan
glycyrrhizin sebagai obat untuk hepatitis kronis. Para praktisi kesehatan di
sana percaya dengan keampuhan zat tersebut, karena menurut sebuah penelitian di
tahun 1998, memperlihatkan glycyrrhizin bisa mendorong perbaikan jaringan hati
yang telah rusak akibat hepatitis. Penelitian lainnya memperlihatkan,
glycyrrhizin mampu membantu mencegah perkembangan kanker hati pada pasien
penderita hepatitis C kronis.
Namun bila Anda hendak mengonsumi akar manis ini, sebaiknya
perhatikan “dosisnya”. Karena jika diminum lebih dari 3 gram perhari selama 6
minggu atau kurang lebih 100 miligram glycyrrhizin perhari, ia berpotensi
menimbulkan masalah tekanan darah tinggi, retensi natrium, turunnya kadar
natrium dalam darah, deplesi kalsium, dan gangguan keseimbangan elektrolit
dalam tubuh. Sehingga penderita glaukoma, penyakit jantung, tekanan darah
tinggi, dan hemokromatosis sebaiknya menghindari mengonsumsi Licorice.
Sementara itu, Tati Winarto, herbalis dari
Karyasari, Pondok gede, Bekasi, mengatakan, untuk menggempur hepatitis, dirinya memberikan
ramuan kombinasi antara Paliasa, Mimba,
dan Temulawak. “Lalu kita cek kondisinya setiap bulan,”katanya. Menurut
penuturan Tuti, Paliasa berasal dari Makassar, Sulawesi. Masyarakat disana
secara turun temurun kerap mengonsumsi Paliasa untuk membantu penyembuhan
hepatitis. Dan tahukah Anda? Ternyata Paliasa ini bernama ilmiah Kleinhovia
hospita. Sama dengan Tahongai.
No comments:
Post a Comment