Herba Penggempur Hepatitis: Dari Tahongai Hingga Jombang - KABAR BISNIS MU

KABAR BISNIS MU

Bisnis adalah kegiatan manusia yang bertujuan untuk menghasilkan uang dengan memproduksi dan menjual suatu produk, baik itu barang atau jasa. KABAR BISNISMU memberikan segudang informasi tentang peluang usaha, bisnis,kuliner,tehnologi dan berita berita terbaru

Tuesday, February 26, 2019

Herba Penggempur Hepatitis: Dari Tahongai Hingga Jombang

Sakit hati memang susah dicari obatnya. Tapi dengan mengonsumsi beberapa herba, bisa jadi kondisi hati Anda bakal  kembali pulih.

Jahe Merah
Tahongai asal Kalimantan Timur adalah salah satunya. Daun tanaman bernama ilmiah Kleinhovia hospita ini dipercaya mampu mengobati penyakit hati alias hepatitis. Dalam daun Tahongai sendiri terkandung beberapa senyawa aktif. Seperti Eleutherol dan Kaempferol 3-glukosida. Keduanya termasuk dalam zat antioksidan. Kandungan lainnya adalah senyawa golongan kumarin. Yakni 7-hidroksi-6-metoksi kumarin (skopoletin). Zat ini secara mampu memberikan efek antihipertensi, antiinflamasi, antialergi, dan menghambat prostaglandin synthetase (senyawa asam lemak).


Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Enos Tangke Arung dan Irawan Wijaya Kusuma, dosen peneliti pada Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman,  Samarinda, Kalimantan Timur,  ekstrak Tahongai mampu mematikan sel kanker hati, yaitu sel HepG2. Untuk mengetahui daya hambat Tahongai terhadap sel kanker hati HepG2, digunakan L-glutamine 10% fetal bovine serum, sodium bicarbonate, streptomisin 100 mikrogram per mililiter, dan penisilin 100 mikrogram per mililiter.

Kumarin

Lalu bagaimana cara Tahongai membantu penderita penyakit hati? Ternyata senyawa golongan kumarin mujarab untuk mengurangi rasa sakit karena terjadinya peradangan hati. Selain itu, senyawa dalam daun Tahongai mampu memulihkan dan memperkuat kondisi hati sehingga organ ini mampu menjalankan kembali fungsinya. Yakni sebagai tempat untuk menyimpan mineral, vitamin, dan gula untuk bahan bakar tubuh.  Yang paling penting, organ ini mampu menjalankan fungsinya sebagai “pembersih” racun dalam darah.  Peran penting lainnya adalah mengontrol produksi dan pengeluaran kolesterol.


Dengan cara yang hampir sama, sebenarnya masih ada herba lainnya yang mampu membantu penyembuhan penyakit hati. Salah satunya adalah Jombang (Taraxacum officinale). Herba ini mampu menjaga kesimbangan sistem imunitas dalam tubuh. Asal tahu saja, ketidakseimbangan sistem imun dapat menimbulkan beberapa penyakit kronis. Seperti hepatitis, alergis (asma, rinitis, dan dermatitis). Bila ketidakseimbangan ini mampu diperbaiki, bisa dipastikan penyakit kronis tersebut dapat diatasi.

Hal di ataslah yang menggelitik hati para peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha, Bandung.  Diana K. Jasaputra, Endang Evacuasiany, Yohanes S.A., P. Aitara, dan  Iwan Hermawan adalah yang berada dibalik keberhasilan penelitian tersebut.  Metode penelitian dilakukan dengan pengujian efek antihepatotoksik herba Jombang pada mencit yang telah diinduksi oleh CCl4. Pengujian efek antiinflamasinya dilakukan dengan mencit yang telah diinduksi ovalbumin secara intrakutan sehingga menimbulkan dermatitis alergika.

Dari hasil di atas terlihat, Jombang mampu memperbaiki aktivitas enzim ALT (29 IU/L), mengurangi kerusakan hati (nekrosis hepatosit 46), mengurangi nilai absorbansi hasil reaksi malondialdehid hati dan asam tiobarbiturat (0,260) pada mencit-mencit yang telah diberi CCl4. Herba Jombang dapat juga mengurangi lebar peradangan (13,71mm) dan jumlah sel-sel radang (59) pada kulit mencit yang telah diinduksi ovalbumin intrakutan.

Keseimbangan Imun
Jadi berdasarkan hasil penelitian di atas, herba Jombang mempunyai efek antihepatotoksi dan antiinflamasi pada dermatitis alergika yang diindikasikan bisa menimbulkan keseimbangan sistem imun (kekebalan). Sebagai tambahan informasi, uji toksisitas akut herba Jombang telah dijalani dengan hasil praktis tak toksik (tidak beracun). Langkah ini jadi nilai dasar untuk melanjutkan uji klinik di masa depan.

Lalu herba lainnya yang efektif  menjaga kondisi hati adalah akar Licorice (Glycyrrhiza glabra) alias akar manis.  Zat aktifnya yang bernama asam glycyrrhizin menunjukkan sifat antivirus dan antiinflamasi. Asam yang terasa manis ini perannya mirip aldosteron, hormon alami yang mengatur garam dan air pada tubuh. 

Selama lebih dari 20 tahun negara Jepang telah menggunakan glycyrrhizin sebagai obat untuk hepatitis kronis. Para praktisi kesehatan di sana percaya dengan keampuhan zat tersebut, karena menurut sebuah penelitian di tahun 1998, memperlihatkan glycyrrhizin bisa mendorong perbaikan jaringan hati yang telah rusak akibat hepatitis. Penelitian lainnya memperlihatkan, glycyrrhizin mampu membantu mencegah perkembangan kanker hati pada pasien penderita hepatitis C kronis. 

Namun bila Anda hendak mengonsumi akar manis ini, sebaiknya perhatikan “dosisnya”. Karena jika diminum lebih dari 3 gram perhari selama 6 minggu atau kurang lebih 100 miligram glycyrrhizin perhari, ia berpotensi menimbulkan masalah tekanan darah tinggi, retensi natrium, turunnya kadar natrium dalam darah, deplesi kalsium, dan gangguan keseimbangan elektrolit dalam tubuh. Sehingga penderita glaukoma, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan hemokromatosis sebaiknya menghindari mengonsumsi Licorice.

Sementara itu, Tati Winarto, herbalis dari Karyasari, Pondok gede, Bekasi, mengatakan, untuk  menggempur hepatitis, dirinya memberikan ramuan kombinasi antara Paliasa,  Mimba, dan Temulawak. “Lalu kita cek kondisinya setiap bulan,”katanya. Menurut penuturan Tuti, Paliasa berasal dari Makassar, Sulawesi. Masyarakat disana secara turun temurun kerap mengonsumsi Paliasa untuk membantu penyembuhan hepatitis. Dan tahukah Anda? Ternyata Paliasa ini bernama ilmiah Kleinhovia hospita. Sama dengan Tahongai.   

No comments:

Post a Comment