Warung makan
ini dibuka setahun setelah Indonesia merdeka. Meski menyajikan menu serba ndeso dengan setting tradisional kuno, konsistensinya
dalam menjaga kelezatan masakan
membuat usaha ini bertahan
puluhan tahun. Pelanggannya
datang dari berbagai kalangan, termasuk
Alm. Sultan Hamengku Buwono IX.
![]() |
| Resto tradisional Mangut Welut, Ibu Surani, di Godean. |
Tak heran resto tradisional Mangut Welut, Ibu Surani, di Godean,
ini cukup melegenda di
kalangan pehobi kuliner Yogyakarta
dan sekitarnya. Ketenaran usaha kuliner tersebut diperoleh secara turun temurun. Awalnya
tahun 1946 warung mangut welut (belut) dirintis oleh Mbah Darmo, nenek dari Surani. Menurut
pengakuannya, wanita berusia 43 tahun ini merupakan generasi ke 3 yang
mengelola bisnis kuliner ini. “Usaha ini
merupakan warisan dari nenek.
Saya sendiri mengelolanya
sejak tahun 1997,” tutur Surani.
Serba kuno
Suasana tradisional dan kuno menjadi sajian khas warung ini. Lokasinya
berdampingan dengan penitipan sepeda motor yang berada dalam sebuah
bangunan kuno, dekat pasar Godean. Tembok tebal berlubang-lubang bekas terjangan peluru dan abrasi cuaca mengingatkan setiap tamu pada suasana revolusi
kemerdekaan Indonesia. Pengunjung
menikmati hidangan secara lesehan dengan meja bambu memanjang. Sementara itu, aneka hidangan komplet tersaji di meja bambu di
depan.
Hidangan utamanya adalah mangut belut, di samping juga menu lain seperti
masakan ayam. Setiap hari, warung ini menghabiskan 7 – 8 kg belut.
Khusus pada hari raya
kebutuhan belut mencapai 12 kg / hari.
Sementara itu, sebagai sajian
non belut dibutuhkan 30 – 40 ekor ayam/ hari. Disamping itu,
menghabiskan beras sebanyak 12 kg setiap hari.
“Biasanya saya memasak nasi
dua kali sehari.
Angkatan pertama habis sekitar pukul 10, setelah itu saya ambil lagi,”
imbuhnya. Setiap malam, pasangan
pengusaha kuliner ini mampu meraup omzet Rp 800.000 – 1 juta. Saat ini, Surani memiliki 2
karyawan yang membantu memasak.
Surani mulai berbelanja keperluan masakan sejak pukul 8.00. Sekitar
pukul 10.00 – 11.00 dapurnya
mulai mengepul, sampai semua masakan
siap pukul 17.00. Tersaji di warung pada pukul 18.000. Menurutnya, memasak belut butuh
kesabaran. Berbeda dengan memasak jenis
ikan dan daging hewan lain. “Biar gurih,
apinya tidak boleh terlalu besar. Butuh
waktu 1 – 2 jam. Sebelumnya digoreng
dulu biar tidak amis,” papar Ibu berputera 2 itu.
Belut yang dipilih justru yang berukuran kecil. Alasannya, agar isi setiap porsinya jadi banyak sekitar 5 – 6 ekor.
Sebab bila dipilih belut besar, jumlahnya hanya 2 – 3 ekor saja setiap
porsi.
Disuka raja
Suplai belut terkadang tersendat, terutama pada musim kemarau dan bulan
purnama. Untuk mengatasi hal tersebut,
Surani melakukan stok. Agar tahan lama,
belut tersebut digoreng. “Kalau minyak
yang digunakan bagus bisa disimpan selama 1 bulan. Minyak yang bagus tidak membuat belut cepat
berjamur,” kata Ngadiono.
Pelanggan warung Surani tak sebatas dari Yogya dan sekitarnya. Kelezatan mangut welut telah diakrabi
penggemar kuliner dari luar kota. “Yang
datang dari Surabaya, Jakarta, juga banyak. Mereka sudah akrab, soalnya selalu mampir ke sini,” kata Surani.
Bahkan, dulu salah satu pelanggan setianya yaitu Sri Sultan
Hamengku Buwono IX.
“Saya sering tidak mengira kalau itu Ngarso Dalem. Tiba-tiba rawuh (datang),” papar
Ngadiono, suami Surani yang ikut mengelola warung makan
tersebut. Kedai mangut welut miliknya
tak jarang dipilih konsumen sebagai ajang pertemuan resmi kantor maupun
pertemuan keluarga. Menu tambahan lainnya berupa gudeg, sayur daun
singkong, sambal krecek, lele goreng, lauk pauk baceman, telur, wader dan
krupuk. Minuman yang disediakan hanya teh tawar dan teh manis. Wader goreng (ikan kali digoreng garing) Rp 60.000 / kg, belut tepung Rp 60.000 / kg
Meski belakangan
ini banyak pesaing yang ikut merebut laba dari bisnis mangut belut, Surani tak gentar. Toh,
satu-persatu pesaing itu berguguran.
“Kunci bersaing terletak pada harga dan rasa. Harganya harus luwes. Tarif rata-rata untuk 1 – 2 orang tak boleh
lebih besar dari Rp 15.000,” kata Surani.
Seporsi mangut welut dijual seharga Rp 6.000. Sementara itu, soal citarasa harus tetap
dijaga agar bisa tetap khas. “Meskipun
nanti banyak yang buka warung mangut welut, tapi konsumen yang memilih mangut bercitarasa ndeso ini pasti tetap banyak,” papar Ngadiono.

No comments:
Post a Comment