Berbekal sebuah ketel
penyulingan berkapasitas 400 kg / hari, jutaan rupiah bisa mengalir rutin
kekantong dari minyak nilam.
Bisnis minyak nilam (Pogostemon
cablin)diminati karena harganya terus meningkat seiring semakin banyaknya
kebutuhan minyak tersebut untuk industri parfum dan kosmetik. Melihat
prospeknya yang baik, sejumlah pengusaha di Banyumas berminat untuk ikut
menikmatinya. Salah satunya adalah UD Liman Jaya di Desa Kutaliman RT 2/RW 3
Kecamatan Kedungbanteng, Banyumas. Sejak tahun 2002, perusahaan ini mulai
berekspansi bisnis minyak nilam dari sebelumnya minyak cengkeh. Perusahaan ini
dirintis oleh Hadi Pranoto, kini Hadi hanya mengurusi keuangan sementara Kirno,
generasi kedua terjun mengurusi proses produksi.
Senangnya berbisnis minyak nilam
dirasakan saat harga bagus, karena keuntungan bisa berlipat. Kini harga minyak
nilam berkisar pada angka Rp 300.000/kg, sekitar dua tahun lalu bisa mencapai
Rp 1.000.000/kg. Harga nilam cenderung melonjak sat musim kemarau tiba. Sebab, pada waktu itu pasokan bahan baku
langka, hingga produksi minyak nilam mengalami penurunan. Sebaliknya pada waktu musim hujan, pasokan
bahan baku berlimpah. Akibatnya harga
minyak nilam melorot. Pria itu mengaku telah memiliki pengepul tetap di
Purwokerto yang sanggup membeli minyak hasil olahannya secara rutin.
Kemarau harga melonjak
"Harga tidak tentu. Saat
sedang naik, keuntungan lumayan," tutur suami Darwati (29). Harga minyak
nilam yang tidak stabil sudah pernah dibahas dalam pertemuan antara para
produsen minyak dan Dinas Perindustrian di Bandung tahun lalu. "Kalau
pemerintah bisa mengusahakan agar harganya bisa stabil tentu lebih baik,
produsen seperti kita bisa menyimpan lebih dulu sebagian produksinya sebelum
dijual. Karena semakin lama disimpan, kandungan minyak atsirinya semakin baik
dan harga juga lebih tinggi," Ujar bapak satu anak tersebut. Sebelum dijual minyak disimpan dulu selama 3
–4 hari. Sehingga harganya bisa lebih
tinggi Rp 8.000 dari harga standar.
Kirno menceritakan, produksi
kedua komoditas perusahaan dilakukan secara bergantian. Minyak nilam hanya
diproduksi saat musim hujan karena saat itu, tanaman tumbuh subur. Sedangkan
saat musim kemarau, minyak cengkeh yang diproduksi.
Kendala yang sering dihadapi
yakni harga minyak nilam yang kerap berubah sewaktu-waktu. Produsen minyak
nilam belum bisa menentukan harga jual dan bergantung pada harga yang
ditentukan pengepul. Berbeda dengan minyak cengkeh yang cenderung stabil pada
harga Rp 60.000/kg.
Saat ini, kapasitas
produksi minyak nilam mencapai sekitar 30 kg per hari. Kirno memiliki 5 buah
ketel. Pada waktu musim panen, jumlah ketel yang beroperasi 4 buah setiap
hari. Namun ketika pasokan bahan baku
sulit diperoleh cuma 2 –3 ketel saja yang dioperasikan. Tiap ketel berukuran tinggi 3 meter dan
diameter 2,5 meter
Kalau bahan baku dijemur
secara benar, ketel bisa diisi sampai 500 kg.
Namun bila penjemuran tidak sempurna, ketel hanya bisa diisi 400 kg
nilam. Nilam kering sebanyak itu bisa menghasilkan minyak sebanyak 10 - 15 kg.
Pasokan daun nilam diperoleh dari petani di Banjarnegara dan Kebumen.
Pilih daun lebar
Kirno menerima pasokan daun
nilam basah maupun kering. Daun nilam
kering dibeli dari petani seharga Rp 2.500/kg. Sedangkan yang basah Rp
700/kg. Kirno lebih senang menerima pasokan
nilam basah. Pasalnya, kualitasnya bisa
diatur. Daun nilam yang sudah
dikeringkan lalu dirajang dan dimasukkan kedalam ketel. Proses pengukusan memakan waktu 10 jam.
Untuk mengoperasikan ketel
sebanyak itu, kirno dibantu oleh karyawan sebanyak 15 orang. Saat panen raya jumlah pekerja bisa sebanyak
20 orang dengan tenaga lepas. Dari hasil usaha, kini ada tiga unit truk dan
satu unit mobil colt untuk mengangkut nilam dan kayu bakar untuk memasak.
Banyak faktor yang mempengaruhi
kualitas dan rendemen minyak nilam. Nilam bisa menghasilkan kualitas minyak
bagus bila memiliki ruas pendek-pendek.
Nilam yang ditanam di tempat terbuka dan tidak ternaungi memiliki
kandungan minyak yang banyak. Nilam yang banyak memiliki daun dan ukuran
daunnya besar, kandungan minyaknya banyak.
Sebab, minyak nilam banyak tersimpan di dalam daun. Namun, kualitas minyak di dalam batang lebih
bagus bila dibanding dengan kualitas minyak yang ada di daun.
Pengeringan juga berpengaruh
terhadap jumlah minyak nilam yang dihasilkan.
Cuaca berperan besar. Saat cuaca
mendung, penjemuran bisa memakan waktu sampai 3 hari. Namun bila cuaca cerah, penjemuran memakan
waktu 2 hari. Cuaca mendung membuat
bahan menjadi rawan busuk. Sehingga
rendemen minyak berkurang bahkan hilang samasekali. Pengalaman Kirno membuktikan bahwa
penyimpanan tidak disarankan. Usai
dikeringkan bahan harus langsung disuling.
Semoga berwirausaha.
No comments:
Post a Comment